Disc jockey yang biasa disingkat DJ, merupakan seseorang yang terampil memilih dan memainkan rekaman musik. Umumnya media hasil rekaman yang digunakan yakni cakram atau lebih dikenal dengan piringan hitam. Profesi DJ akhir-akhir ini banyak digandrungi. Bahkan kalangan artis papan atas tanah air pun banyak yang banting setir menjadi DJ.
Selain bayaran yang fantastis, setiap perform, berbagai fasilitas diperoleh. Di kota Lunpia, profesi ini juga digandrungi. Sehingga muncul banyak DJ yang potensial. Salah satu DJ kawakan yang namanya banyak dikenal yakni DJ Koko Reza.
Ditemui di kediamannya, Koko menceritakan awal mula ia terjun di dunia DJ. Diawali dari ia yang aktif di musik hip-hop pada awal 2000. Saat itu dirinya membuat grup rap bernama SHB (Semarang Hip-hop Brotherhood). Grup rap besutannya tersebut juga sempat menelorkan album dan tur keliling tanah Jawa.
Turntable sebagai pengiring musik hip-hop kala itu tentu sudah bukan barang baru baginya. Ia pun akhirnya belajar memainkan turntable yang kala itu masih memakai piringan hitam. “Saat itu belum banyak di Semarang yang belajar turntable, selain alatnya mahal juga musik seperti itu belum se-booming sekarang,” ujar Koko.
Ia belajar turntable tidak dari sekolah melainkan secara otodidak. Bayarannya selama manggung bersama SHB, ia kumpulkan dan membeli seperengkat turntable lengkap dengan sound out-nya. Setiap ada waktu senggang ia suka mengulik musik-musik kemudian di-compose atau remix. Tentunya musik-musik RNB yang kala itu masih sangat booming.
Singkat cerita, resmi di 2005, ia terjun ke dunia DJ. Seperangkat manual turntable yang masih memakai piringan hitam mulai ia mainkan di klub-klub malam. “Mulai keliling tanah Jawa itu di 2005,” katanya.
Event pertama dirinya memulai sebagai DJ profesional yakni di klub Mantra Semarang dengan bayaran Rp 500 ribu untuk sekali tampil. Sampai pada akhirnya di 2007 ia memilih untuk vakum di puncak karirnya. Pilihan vakum karena ia harus menyelesaikan pendidikannya di Jurusan Arsitektur Universitas Diponegoro (Undip) Semarang. “Mau tidak mau sekolah harus tak selesaikan,” katanya.
Setelah lulus yakni di 2008 ia sempat tidak sama sekali menyentuh piringan hitam. Mencoba mencari ladang rezeki baru melalui ilmunya sebagai arsitek. Namun lagi-lagi karena tidak sesuai passion-nya ia kembali memilih dunia DJ untuk ditekuni. “Sempat ada pertentangan dari orang tua tetapi tak buktikan melalui DJ profesionalpun kita bisa hidup,” katanya.
Awal 2012 ia kembali terjun ke dunia DJ profesional dan membuat sebuah manajemen serta sekolah DJ bernama Fat Beat Pro. Sejak berdiri sampai sekarang sudah puluhan DJ profesional di telorkan dari sekolah tersebut. Salahs atunya yakni DJ Kevin Garcia.
Meski disibukan dengan manajemen dan sekolah DJ, Koko juga tetap menerima job untuk memainkan piringan hitam. Sampai sekarang ia masih aktif perform di Sakapatat Semarang. Ia mencintai profesinya tersebut karena sesuai dengan pasionnya. “Karena seorang DJ itu kan seniman, dan saya juga suka seni,” terangnya.
DJ baginya memiliki keunikan sendiri. Meracik lagu-lagu menjadi sebuah beat yang enak untuk di dengar dan berjoget. Musik yang ia mainkan masih tidak jauh dari RNB. Di masa pandemi seperti saat ini, tentunya tidak banyak event seperti sebelumnya. Karena ada pembatasan jam tayang klab malam dan sebagainya. Ia pun menyibukkan diri dengan mengajar di Fat Beat Pro DJ School miliknya. Selain itu juga management DJ. Juga mengorbitkan DJ baru untuk dimainkan di klab-klab malam.
“Di Kota Semarang banyak yang japri saya untuk belajar DJ, tetapi ya itu, karena saya dari otodidak jadinya ngajarnya tidak pakai teori tapi praktik langsung,” katanya. (ewb/ton) Editor : Agus AP