Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Jelang Ramadan, Warga Ramai-ramai 'Munggah' ke Makam dalam Tradisi Sadranan

M
Tradisi sadranan yang dilakukan menjelang ramadhan masih dilestarikan hingga saat ini.
Tradisi sadranan yang dilakukan menjelang ramadhan masih dilestarikan hingga saat ini.

RADARSEMARANG ID, BOYOLALI – Suasana di sejumlah Tempat Pemakaman Umum (TPU) di wilayah Jawa Tengah,  mulai terlihat berbeda sejak sepekan terakhir.


Advertisement

Banyak warga membawa tenong berisi makanan dalam rangka menjalankan tradisi Sadranan atau Nyadran guna menyambut datangnya bulan suci Ramadan.

Bagi masyarakat Jawa, Sadranan bukan sekadar ritual bersih-bersih makam. Ini adalah momen "pulang kampung" mini sebelum Idulfitri tiba. 

Warga dari berbagai kota sengaja menyempatkan diri kembali ke desa asal hanya untuk mendoakan leluhur secara bersama-sama.

Advertisement

Bukan hanya Doa

Acara biasanya dimulai sejak pagi buta. Warga datang membawa cangkul dan sapu lidi untuk membersihkan nisan keluarga masing-masing.

Setelah makam terlihat bersih dan dipenuhi taburan bunga mawar serta kenanga, acara dilanjutkan dengan doa bersama atau tahlil yang dipimpin oleh tokoh agama setempat.

Advertisement

Namun, yang paling dinanti adalah sesi Kembul Bujana atau makan besar bersama. Di sini, sekat-sekat sosial hilang.

Lauk Pauk dan Filosofi Sedekah

Uniknya, makanan yang dibawa dalam tenong (wadah bambu) bukanlah makanan sembarangan. Ada nasi tumpeng, ayam ingkung, hingga jajanan pasar yang nantinya akan saling ditukar antar warga.

Tradisi ini menjadi simbol rasa syukur atas rezeki yang diterima selama setahun terakhir sekaligus bentuk sedekah sebelum memasuki bulan puasa.

Roda Ekonomi Berputar

Tak hanya soal religi dan budaya, Sadranan juga membawa berkah bagi pedagang bunga musiman dan penjual makanan.

Harga bunga tabur yang biasanya murah, bisa naik berkali-kali lipat karena tingginya permintaan. Namun, hal itu tak menyurutkan niat warga untuk tetap menjalankan tradisi turun-temurun ini.

Meski zaman sudah modern, Nyadran tetap menjadi pengingat bagi setiap orang bahwa sejauh apa pun mereka melangkah, akar keluarga dan asal-usul tidak boleh dilupakan.

Dengan hati yang bersih dan tali persaudaraan yang erat, warga pun merasa lebih siap secara batin untuk menjalankan ibadah puasa Ramadan. (mg9)

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Radar SemarangIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer