24 C
Semarang
Minggu, 29 Januari 2023

Kelola Rumah Baca, Terbitkan Delapan Buku Cerpen

Amarylisse Magnifizia Cesare Ganz, Penggerak Literasi Anak di Kota Magelang

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID – Hari Sumpah Pemuda ke-94 tahun ini mengangkat tema “Bersatu Bangun Bangsa”. Seperti yang dilakukan Amarylisse Magnifizia Cesare Ganz. Remaja 17 tahun ini membangun bangsa lewat gerakan literasi. Seperti apa?

Berawal dari sering dibacakan cerita dongeng waktu kecil oleh ibundanya, hal ini membuat Amarylisse Magnifizia Cesare Ganz tertarik dengan dunia literasi. Selain cerita anak, biasanya didongengkan buku-buku ringan. Setelah mampu membaca, ia semakin senang membaca dan membeli buku sendiri.

“Jadi, waktu itu, saya mulai tertarik membaca dan menjadi hobi,” ujar Rere –sapaan akrabnya– saat ditemui Jawa Pos Radar Semarang di sekolahnya, SMA Negeri 1 Magelang.

Membaca buku sudah menjadi rutinitasnya sehari-hari. Apalagi waktu kecil dulu, di rumahnya tidak ada televisi. “Kalau kata orang tua memang tidak beli televisi aja. Jadi, untuk ganti hiburannya membeli dan membaca buku,” katanya.

Baca juga:  Peringati Hari Sumpah Pemuda, Warga Srondol Kulon Gelar Karnaval

Gadis kelahiran Magelang, 7 Januari 2005 ini mengatakan, dari hobi membaca dan membeli buku ini, ia mulai mempunyai ide untuk mengajak teman-teman di sekitar rumahnya untuk membaca buku bersama. Terutama, anak-anak kecil sekitar rumah.

“Waktu saya kelas lima SD, saya melihat teman-teman dan anak-anak di bawah saya itu suka main gadget, dan sampai membuat orang tua mereka marah. Sejak saat itu, saya mulai berpikir untuk membuat sebuah perpustakaan kecil, dan mengajak mereka untuk membaca bersama. Apalagi buku saya cukup banyak,” ceritanya.

Rere mengatakan, di tahun 2014 inilah, dirinya membuat perpustakaan yang diberi nama Rumah Baca MC Ganz Kota Magelang. Dan rumah baca ini menjadi sarana berkumpul dan bermain anak-anak.

Di Rumah Baca MC Ganz Kota Magelang ini, kata dia, banyak koleksi buku-buku bacaan yang disediakan Rere. Didominasi buku bacaan untuk anak-anak. Seperti buku belajar membaca anak, komik, buku dongeng, buku bergambar, dan ada beberapa novel baik fiksi maupun non fiksi.

Baca juga:  Sejarah Singkat Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928

“Untuk novel dan buku-buku bacaan orang dewasa sedikit. Karena saya ingin rumah baca ini buat anak-anak dari PAUD sampai SD,” ucapnya.

Rera mengatakan, jumlah buku di rumah baca miliknya saat ini sekitar 500 buah. Ia mengaku buku-buku ini merupakan donasi dari beberapa instansi, seperti Kemendikbud dan dinas-dinas lainnya, sejak dirinya meng-upload kegiatan-kegiatan di rumah bacanya. “Awalnya tidak sampai 100 buku, dan itu buku pribadi saya,” ujar gadis yang hobi membaca dan berolahraga ini.

Selain memiliki rumah baca, dara yang bercita-cita menjadi guru atau dosen ini juga hobi menulis. Ia mengaku sudah memiliki delapan buku karyanya. Buku pertama ditulis saat duduk di bangku SD Mutual Magelang, sebelum adanya rumah baca.  Judulnya Surga di Tangan Ibu. Setelah itu, saat SMP, ia menulis buku berjudul Semangat Baru Lintang. Rere juga mengajak anak-anak di rumah baca untuk bisa menulis. Hasilnya, anak-anak di rumah baca bisa menerbitkan satu buku antologi cerpen.

Baca juga:  Bentangkan Merah Putih Sepanjang 1000 Meter

Saat ini, Rere duduk di bangku SMA kelas XII. Ia mengaku masih ingin rumah bacanya terus bertahan dan beroperasi. Untuk melakukan hal ini, dirinya mencoba mengajak dan mengumpulkan siswa SMP dan SMA sekitarnya untuk membantu mengelola rumah baca.

Ia berharap literasi baik membaca dan menulis anak di Indonesia bisa semakin meningkat. Rere mengaku pernah mengusulkan ke wali kota Magelang saat ini untuk membuat satu RT satu rumah baca. (rfk/aro)

Reporter:
Rofik

Baca artikel dan berita terbaru di Google News


Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Menarik

Artikel Menarik Lainnya