Ikrar Setia NKRI, Sibukkan Diri Buat Kaligrafi dan Jual Gorengan

Kisah Abdul Ghoni, Napiter Bom Bali I yang 14 Kali Ajukan Remisi

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Hampir 20 tahun, Suranto Abdul Ghoni mendekam di penjara. Terpidana kasus terorisme Bom Bali I ini sudah 14 kali mengajukan permohonan remisi sejak 2008. Itu dilakukan sejak masih menghuni Lapas Krobokan, Bali. Namun upaya pengurangan hukuman belum ia dapatkan. Kini, ia masih mendekam di Lapas Kelas I Semarang.

IDA FADILAH, Radar Semarang

NARA pidana terorisme (napiter) Abdul Ghoni divonis hukuman seumur hidup. Ia dijebloskan di Lapas Krobokan, Bali sejak 2003 silam. Pada 2018, ia dipindah ke Lapas Kelas I Semarang atau Lapas Kedungpane hingga sekarang. Upaya meminta remisi yang dilakukan selama ini belum membuahkan hasil. Alhasil, Ghoni –panggilan akrabnya- belum bisa bebas dari jeruji besi penjara.

“Kalau belum berubah ya saya di sini terus. Nanti April 2023, sudah 20 tahun. Semoga tahun ini turun dan bisa bebas awal tahun,” harapnya saat ditemui Jawa Pos Radar Semarang di bengkel kerja Lapas Kelas I Semarang atau Lapas Kedungpane.

Pemilik nama asli Suranto ini bahkan sudah dibantu petugas untuk pengajuan remisi. Kabarnya, sudah sampai di sekretaris negara. Jika belum dikabulkan, ia menegaskan akan terus mengajukan remisi sampai berhasil.

Selama di hotel prodeo, Ghoni menyibukkan diri dengan berbagai kegiatan. Selain karena kewajiban dari lapas, upayanya ini agar tak teringat dengan kejadian di masa lalu. Utamanya mengenai kasus terorisme yang menyeretnya hingga kini. Soal masa lalunya itu, Ghoni sama sekali enggan menceritakan. Ia tegas tidak mau membuka luka lama, karena sudah berpindah langkah. Ia sudah mengucap ikrar setia pada Negara Republik Kesatuan Indonesia (NKRI).

Baca juga:  Tiga Warga Binaan Lapas Kelas IIA Magelang Bebas

“Kalau mengingat masa lalu, malah bikin sakit. Pikirannya malah kemana-mana. Ingat ini, ingat itu. Ya, sudah saya kubur saja dengan kesibukan berbagai kegiatan,” ungkapnya.

Saat ini, Ghoni fokus memperbaiki diri. Dengan statusnya sebagai narapidana, Ghoni ingin berbagi seperti cita-citanya sejak sekolah: mengajak orang sebanyak-banyaknya untuk berbuat baik. Hal itu ia praktikkan sejak menjalani masa hukuman. Dengan bekal semampunya, Ghoni membiasakan untuk berbagi. Pada hari Senin dan Kamis, ia rutin membagikan nasi bungkus untuk jamaah Masjid At-Taubah dan teman-temannya di Blok Kresna. Saat bulan ramadan pun, setiap harinya ia membagikan takjil. Ghoni mengaku ibadah sedekah ini dilakukan sebagai bagian dari upaya membenahi diri.

Adapun kegiatan kemandirian yang ia lakoni yakni membuat kaligrafi. Ia menekuni bidang ini sejak 2013. Meski tak punya basic, ia belajar bersama narapidana lain. Semakin ke sini, Ghoni semakin mahir. Ia kini bergantian mengajari narapidana baru.

“Sekarang ya ganti mengajari. Saling berbagi ilmu saja. Kalau dulu belajar sama ustad. Tapi beliau sekarang sudah bebas, tinggal saya yang masih di sini,” kata dia sambil tertawa.

Saat didatangi wartawan koran ini, Ghoni berada di bengkel kerja berukuran 3 x 4 meter. Ada banyak peralatan di sana. Seperti kayu, mesin pemotong frame, solder, paku, bahan-bahan kaligrafi dari aluminium maupun kuningan, cat, kertas, pensil, serta peralatan lain. Sama sekali tak nampak jika ruangan itu berada di kompleks penjara.

Ghoni mengenakan seragam warga binaan warna biru tua. Pria yang juga dikenal dengan nama Umar alias Wayan ini sedang sibuk menggarap pesanan. Ia membuat desain di selembar kertas. Tangannya terlihat lihai melukiskan ayat Alquran. Matanya fokus pada setiap detail tulisan. Pria berjenggot itu kemudian melanjutkan proses menekan pola kaligrafi pada bahan kuningan dan aluminium.

Baca juga:  Tiga Pemuda Magelang Rintis Bisnis Sayur Online, Ide Muncul saat Pandemi, Sediakan 300 Produk

“Metodenya manual. Setelah desain oke, kemudian dipindahkan menggunakan karbon ke bahan, lalu ditekan menggunakan paku supaya timbul,” jelasnya.

Setelah jadi, tambahnya, hasilnya akan dipercantik dengan bingkai atau frame. Untuk pengerjaannya fleksibel, tergantung desain dan permintaan customer. Bisa dikerjakan dengan santai ataupun ngebut. Memang tak pasti, terkadang pesanan datang satu hingga dua biji. Namun, Ghoni pernah membuat pesanan sejumlah partai.

Biasanya, ujar pria 54 tahun ini, ia membuat kaligrafi kalimat Allah, Muhammad, Laillahaillah, Asmaul Husna, ayat Alquran, dan hadist. Ia mengekspresikan idenya ke dalam kaligrafi yang indah. Namun karyanya terus berkembang hingga membentuk desain lain, seperti wajah, sepeda motor, dan mobil kuno.

Adapun karya yang telah dihasilkan Ghoni sudah tak terhitung. Di dinding bengkel kerja, terpampang puluhan kaligrafi. Tidak semua merupakan karya Ghoni. Ada pula karya narapidana lain. Sebagian kaligrafi sudah bertuan. Sebagian lain diberikan untuk pejabat yang datang, seperti Dirjen Pemasyarakatan, menteri, dan gubernur. Terkait harga jualnya, dimulai dari Rp 600 ribu. Itu untuk sepasang kaligrafi Allah dan Muhammad. Ada pula yang termahal, yakni Rp 1,3 juta yang merupakan pesanan dari Dirjen Pemasyarakatan.

Ghoni membeberkan, ia tak hanya fokus pada kaligrafi saja. Melainkan juga sibuk dengan bisnisnya menjual gorengan. Dalam sehari, ia menjual 1.000 biji gorengan yang terdiri atas bakwan, pia-pia, dan bolang-baling. Ia dibantu empat pekerja yang juga narapidana. Setiap harinya, usai salat subuh dan dzikir, Ghoni lekas membuat adonan di kamarnya berukuran 1,8 x 3 meter. Di sana, ia tinggal sendiri. Sudah ada kamar mandi, lemari, dan bahan-bahan adonan gorengan.

Baca juga:  Teh Kelor Pernah Dikirim ke Jepang dan Amerika

“Kalau ditambah orang, saya gak bisa kerja. Karena saya harus setoran gorengan ke koperasi lapas,” ungkapnya.

Hasil ubetnya ini, ia bisa mendapat upah atau premi. Biasanya, ia mendapatkan premi kurang lebih Rp 1 juta, tergantung dari karya dan gorengan yang laku. Ia selalu menyisihkan uang untuk anak dan istri. Sebagai kepala keluarga, Ghoni juga tetap berusaha memberikan nafkah. “Ya, kalau dapat premi saya kirim uang, karena anak-anak kan sekolah,” imbuhnya.

Perihal komunikasi dengan keluarga, Ghoni mengaku jarang melakukan, karena saking sibuknya. Terlebih jika sedang mendapat pesanan, ia bisa menghabiskan waktu selepas subuh hingga setelah magrib. Setelah magrib tilawah baca Alquran. “Habis Isya sudah nggak kuat lagi, akhirnya tidur. Namun, tetap disempatkan untuk menghubungi lewat wartel dan video call,” tuturnya.

Sugeng Riyanto, salah satu narapidana yang diajari Ghoni membuat kaligrafi menilai, temannya itu sosok yang sangat baik. Ia membuktikan sendiri itikad itu. “Beliau sangat sabar. Saya diajari membuat kaligrafi sampai bisa,” kata narapidana kasus narkoba ini.

Sugeng terang-terangan mengatakan tidak takut meski Ghoni merupakan napiter. Justru, ada banyak hal yang ia pelajari. Bersamaan dengan ilmu seni, Sugeng menyerap banyak ilmu agama yang dilakoni Ghoni. Seperti pentingnya berbagi dan berbuat baik pada sesama, sedekah, mendirikan salat tepat waktu, tetap mengaji meski sibuk, dan lainnya. (*/aro)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya