alexametrics

Warga Kabupaten Magelang Ini Ciptakan Alat Pendeteksi Gempa Sederhana dari Cairan Limbah Pampers

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID – Siapa sangka berangkat dari keisengan atau otak-atik gatuk, berujung pada penemuan baru. Tri Wardoyo, warga Cecelan, Soroyudan, Tegalrejo, Kabupaten Magelang, berhasil menemukan dan membuat seismograf versi lite. Menariknya, alat tersebut terbuat dari cairan gel pampers dan barang bekas.

“Wiu wiu wiu” begitulah bunyi alarm benda setinggi satu meter setelah digoyangkan yang diletakkan di depan rumah Pak Tri – sapaan akrabnya Tri Wardoyo. Mempunyai empat kaki yang salah satunya lebih pendek. Alias gonjang-ganjing. Sehingga alat tersebut mendukung sensitivitas getaran tanah di sekitarnya.

Alat pendeteksi gempa sederhana itu bentuknya mirip dengan tripod. Namun terbuat dari kayu yang memiliki empat kaki tak sama panjang sebagai penyangga. Di atasnya terdapat balok kotak untuk meletakkan botol berisi cairan elektrolit (penghantar listrik) dari gel pampers. Alat tersebut juga harus terhubung dengan listrik supaya aktif. “Ini mas, inovasi yang saya buat. Sederhana namun berguna,” kata Tri mempersembahkan karya hasil otak-atiknya itu kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Pak Tri menjelaskan, alat tersebut akan menyalakan alarm ketika terguncang. Intinya terletak pada air gel pampers yang terdapat di botol. Terdapat dua batang tembaga berisi aliran listrik yang salah satunya ditenggelamkan. Sehingga ketika ada guncangan, permukaan air di dalam botol akan bergelombang dan menyentuh tembaga yang tidak tenggelam. “Ada getaran sedikit pun langsung menyala. Airnya juga harus mengandung keasaman yang tinggi,” terangnya.

Baca juga:  Cerita Nenek Pemulung Asal Kendal Berkurban Sapi Senilai Rp 22 Juta, Hasil Menabung Selama 15 Tahun

Alat-alat yang dibutuhkan pun sederhana. Di antaranya kabel bekas, botol air mineral bekas, stop kontak, tembaga, dan alarm. Sedangkan cairan yang diperlukan berasal dari campuran air, gel pampers, dan pupuk organik EM-4. “Ketiganya dicampur dan direndam minimal tiga hari supaya menjadi cairan yang memiliki sifat keasaman,” tandasnya.

Dari alat-alat tadi, dapat dirangkai menjadi alat pendeteksi gempa sederhana. Ia mengaku menemukan alat tersebut belajar secara otodidak. Bahkan tidak punya pengetahuan mendalam tentang ilmu elektro dan kimia. Ia hanya memahami bahwa cairan asam dapat mengantarkan listrik. “Selain itu kan juga sebenarnya bagus untuk pupuk tanaman,” ujarnya.

Ia bercerita, penemuan alat pendeteksi gempa berawal dari munculnya bank sampah pada 2016. Selain itu juga keprihatinan atas limbah pampers yang dibuang secara sembarangan. Dia pun berinisiatif membuat pot dari pampers dan cairan pampers untuk pupuk tanaman.

Baca juga:  Mahasiswa Undip Ini Sukses Berbisnis Jasa Live Streaming di Masa Pandemi

Perhatian atas sampah itu mengantarkan bank sampah di desanya mendapatkan juara 1 dua kali berturut-turut pada 2017 dan 2018. “Di akhir 2018, saya mewakili Kabupaten Magelang menjadi Duta Penyuluh Tingkat Jawa Tengah yang digelar di Solo. Alhamdulillah masuk nominasi 10 besar dengan urutan ke-9,” paparnya.

Karena memang hobinya otak-atik, ia terus melakukan hal baru dalam pengolahan pampers. Hingga pada akhirnya, menciptakan alat pendeteksi gempa sederhana. Pak Tri mengaku hanya belajar dari alam. Menyadari semakin lama semakin rusak karena ulah manusia. “Hal itu yang mendorong saya untuk peduli dan melestarikan lingkungan,” ucapnya.

Bahkan, pemerintah juga memberikan perhatian atas penemuan itu. Yakni mendaftarkan alat tersebut supaya mendapatkan hak paten. “Namun karena terkendala biaya jadi belum bisa memprosesnya,” pungkasnya. (mg7/mg8/mia/ida)

Baca juga:  Pendataan Terhambat, Pedagang Pasar Johar Kesulitan Input Data secara Online

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya