alexametrics

Komunitas Harapan Bangkit Lagi, Didik Anak Kampung Sumeneban dan Anak Jalanan Pasar Johar

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID – Agung Setya Budi dengan modal nekat mampu membangun Komunitas Harapan. Tujuannya, menjadikan anak di sekitar Pasar Johar mempunyai sifat sopan santun dan berakhlak baik agar tidak terjerumus pada pergaulan orang dewasa yang buruk.

Berawal pada 2013, almarhum Agung Setya Budi memiliki keresahan saat melihat lingkungan di sekitarnya. Berada di lingkungan yang keras membuat anak-anak mudah bertutur kata kasar dan tidak mempunyai sopan santun terhadap orang yang lebih tua. Ia berjuang keras agar anaknya tidak bernasib sama dengan dirinya, terjerumus pada minuman keras dan pergaulan orang dewasa lainnya.

Dari pergolakan batin inilah, akhirnya Agung menginisiasi gerakat nekat saat mendirikan sekolah informal Komunitas Harapan (Komhar). Sudah sembilan tahun komunitas ini berdiri. Fokusnya mewadahi anak-anak usia sekolah baik PAUD, TK, SD, dan SMP untuk melakukan kegiatan belajar dan bermain yang positif, mendidik, dan berbasis kekeluargaan.

Berbuat baik, tak semulus yang dibayangkan. Pandangan skeptis masyarakat sekitar menjadi bahan bakar tersendiri bagi Agung. Ia bersama sang istri terus mewadahi anak-anak di pinggir Pasar Johar Kota Semarang untuk menjadi lebih baik. Khususnya dalam bertingkah laku dan bertutur kata.

“Modal awalnya hanya nekat. Kami tidak punya biaya sepeser pun. Masyarakat sekitar waktu itu juga memandang sebelah mata. Mereka menganggap suami saya hanya musiman dalam berbuat baik. Belum lagi suami saya hanya lulusan STM yang tidak mempunyai bakat mengajar. Namun ia tidak pernah menggubris dan selalu semangat dengan pembuktian melalui tindakan,” ujar Sunarsi, istri almarhum Agung.

Baca juga:  Sri Sumiyati, Dosen Undip yang Konsen Mengolah Sampah sebagai Wujud Ibadah

Agung Wong –sapaan akrabnya– saat sakit diabetes dan kakinya harus diamputasi pun tetap nekat mengajar anak-anak. Belum lagi pandangan masyarakat tentang dirinya. Banyak warga yang memandang negatif. Ada juga yang mengira bahwa Agung mendirikan Komhar ini dengan maksud yang tidak-tidak.

“Warga tahu kan kecilnya suami saya itu seperti apa? Bisa dibilang dia itu preman pasar. Suka miras dan sebagainya. Nah dikira anak-anak di sini mau dimanfaatkan,” jelasnya.

Agung memang telah tiada sejak 2018 silam. Namun semangatnya sudah telanjur membekas di hati istri dan rekannya. Sunarsi banyak bercerita tentang perjalanan Komunitas Harapan yang pernah vakum karena ditinggal mendiang suaminya. Kini, justru menjadi lebih baik dan semakin dikenal banyak orang. Markasnya berada di rumahnya, Kampung Sumeneban No 104 RT 03 RW 04, Kelurahan Kauman, Kota Semarang.

Di rumah delapan kali empat meter ini relawan dari berbagai latar belakang yang berbeda bertemu. Melakukan evaluasi kegiatan belajar serta bertukar informasi. Meski tidak begitu luas, ruang tamu yang disediakan Sunarsi beserta satu gelas air putih mampu mengobati rasa lelah relawan setelah mengajar.

Baca juga:  Pentas Gunakan Media Alat Dapur, Dikenalkan sampai Korea

Untuk mengajar, pihaknya diberikan pinjaman gedung serba guna oleh perangkat kelurahan setempat. Namun saat ada warga yang menggunakannya, ia beserta relawan pun menggelar tikar di pinggir jalan agar tetap bisa mengajar.

“Setelah suami saya meninggal. Komhar ini sempat vakum hampir dua tahun karena tidak ada yang ngurus. Sebagai istrinya Mas Agung, saya seperti memiliki tanggung jawab untuk meneruskan. Akhirnya, saya minta tolong dengan teman-teman dan Alhamdulillah Komhar semakin baik,” akunya.

Komunitas yang terbentuk di tengah keterbatasan tenaga dan materi ini memiliki semangat nekat. Namun Narsi –sapaan akrabnya– mengaku yakin dan percaya niat baik selalu menemukan jalan. Hal ini terbukti dengan banyaknya orang yang mengirimkan donasi untuk kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan oleh Komhar.

Saat ini, di Komhar ada 20 relawan yang tergabung. Mulai dari mahasiswa, guru, dan dosen. Semuanya bekerja dengan ikhlas tanpa mendapatkan imbalan untuk mengajar. Sementara itu, ada lebih dari 60 siswa PAUD, TK, SD, dan SMP.

Kegiatan dilakukan setiap Kamis hingga Minggu. Kamis dengan pembelajaran Bahasa Inggris, Jumat dengan mengaji, Sabtu dengan materi kecakapan, dan Minggu belajar formal.

Ibu dua anak ini mengaku, kerap kali memandangi deretan piagam penghargaan yang terpampang di dinding rumahnya. Belasan penghargaan ini terbingkai rapi. Semua ini menjadi bukti jerih payah Agung dan teman-temannya untuk diakui masyarakat luas.

Baca juga:  Libatkan para Difabel, Pelanggannya Sampai Lombok

“Keinginan suami saya itu tidak banyak. Dia cuma ingin anak-anak sekitar sini, termasuk putra putrinya tumbuh menjadi anak yang bertanggung jawab, hormat kepada orang tua, mempunyai sopan santun, dan tidak terjerumus ke dalam pergaulan orang dewasa,” katanya.

Tak hanya anak-anak di sekitar rumahnya yang bergabung, tapi anak-anak jalanan di sekitar Pasar Johar pun turut ditampung di sana. Empat orang di antaranya bahkan dibantu agar bisa sekolah.

“Tujuan kami itu hanya menjadikan anak memiliki budi pekerti yang baik. Ada empat anak yang kami sekolahkan di SMK Negeri 4 Kota Semarang, MTS di daerah Meteseh, ada juga yang kami masukkan di panti asuhan. Tentu dengan persetujuan orang tua mereka,” ujarnya.

Selama ini, Sunarsi mengandalkan relasi yang dimiliki. Ada beberapa yayasan di Semarang yang bekerja sama dengan Komhar. Dari sini ia bisa menyekolahkan anak didiknya.

Meski sempat goyah semenjak suaminya tiad,. Narsi tetap meneruskan komunitas yang dibangun dengan jerih payah suaminya ini. “Alhamdulillah Komhar sekarang sudah jadi Yayasan Komhar Kota Semarang (YKKS). Anak-anak di sekitar sini juga antusias dengan kegiatan yang dilakukan Komhar. InsyaAllah mereka akan menjadi yang lebih baik,” katanya. (kap/aro)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya