alexametrics

Warga Semarang Temukan Formula Teh Kurma, Diklaim Kaya Antioksidan dan Bisa Turunkan Berat Badan

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID – Krisnadi menciptakan perpaduan antara buah kurma dan teh. Namanya Kurma Tea. Ia meracik dan melakukan riset sendiri. Saat ini, konsumen produknya itu sudah sampai mancanegara.

Multitasking, kata yang pantas disematkan untuk Krisnadi Surya Putra. Sebelumnya, ia bekerja menjadi karyawan swasta di Semarang. Karena sudah pensiun, suami dari Yuli Mardani ini menggunakan masa tuanya untuk terus berinovasi.

Banyak inovasi produk yang dirintis oleh pelaku usaha kecil menengah (UKM) ini mulai dari sandang dan pangan. Namun Krisnadi –sapaan akrabnya– membuat inovasi produk minuman. Inovasi buatannya ini kaya akan khasiat, aroma, dan rasa. Namanya Kurma Tea. Perpaduan antara teh dan buah kurma.

Minuman dan buah ini biasanya disajikan terpisah saat berbuka puasa. Namun Krisnadi menyulapnya menjadi perpaduan yang sampai saat ini digemari masyarakat. Kandungan yang ada di dalamnya pun cukup banyak. Yakni, kaya akan antioksidan, vitamin E, vitamin C, kalium, hingga ampuh menurunkan berat badan.

Saat koran ini datang, Krisnadi menyajikan segelas teh kurma. Tidak ada rasa sepet dari teh. Justru rasa kurma yang lebih dominan. Teh ini bisa menjadi obat dahaga di tengah panasnya Kota Semarang. Terutama disajikan dalam keadaan dingin.

Senyuman lebar terlihat dari wajahnya. Pria berusia 60 tahun ini menuturkan, produk teh kurma ini tercipta saat ia menghadiri perkumpulan di rumah temannya. Seluruh orang yang hadir disuguhi teh hangat oleh tuan rumah. Anehnya, hanya teh milik Krisnadi yang dimasuki buah kurma.

Baca juga:  UMI Bantu Modal 177.480 UKM Jawa Tengah

“Awalnya bingung karena hanya teh milik saya yang ada buah kurmanya. Lalu ada seorang ustaz yang tertawa melihat saya kebingungan. Ternyata beliaulah yang menambahkan kurma di minuman saya,” ceritanya kepada koran ini.

Krisnadi sempat ditanya mengenai rasa dari minumannya. Menurutnya, rasanya seperti teh biasa dan tidak ada rasa kurmanya sama sekali.  “Rasanya ya biasa, tidak nyampur antara teh dan kurmanya. Nah, dari situlah saya ditantang untuk membuat riset tentang teh kurma,” akunya.

Membuat riset sendiri bukanlah perkara mudah. Pria paro baya itu memerlukan waktu selama satu tahun untuk menemukan formula yang pas. Bahkan, ia mengaku sempat putus asa karena tidak mendapatkan racikan yang sesuai. Buku catatannya pun pernah ia pensiunkan. Hari-harinya hanya diisi dengan riset teh kurma. Tapi tak berhasil juga.

“Hampir satu tahun saya frustasi. Catatan saya tinggal, dan tidak saya lanjutkan. Teh itu kan rasanya sepet ya. Jadi, setiap saya meracik rasa teh masih dominan, rasa kurmanya hilang,” tambahnya.

Selama melakukan riset, Kris mengaku sama sekali tidak menemukan literatur tentang teh kurma. Ia pun berusaha keras agar teh kurma yang diraciknya mempunya rasa yang pas. Awalnya, ayah tiga anak ini memberikan teh kurma kepada teman-temannya untuk mencobanya. Namun hasilnya nihil. Semua temannya berkata tehnya mempunyai rasa yang enak.

Baca juga:  Pertamina Kucurkan Rp 2,7 M untuk UKM Jateng-DIJ

Krisnadi pun putus asa. Hingga akhirnya ada salah satu temannya yang pergi haji ke Tanah Suci. Sang ustaz pun memberikan wejangan, yakni bolpoin yang digunakan untuk meracik resep teh kurma harus dibuang di Tanah Suci. Mulai dari situlah, risetnya menemukan titik terang.

“Waktu itu seperti mendapat wangsit ya. Saya itu mendapat mimpi bertemu anak-anak yang berlarian. Seperti mendapat ide, lalu saya memberikan tiga teh racikan yang berbeda kepada anak-anak di sekitar rumah. Akhirnya, mereka pun bilang salah satu racikan saya ini yang paling enak,” paparnya.

Pada 2016, ia pun memberanikan diri untuk membawa teh kurma hasil racikannya untuk memgikuti lomba inovasi produk UKM se-Kota Semarang. Dari banyaknya produk, teh kurmanya mendapat juara pertama.

Selanjutnya, Krisnadi terus mengembangkan diri dengan aktif mengikuti pelatihan di Galeri Kreatif BRI. Selain belajar dengan teman UKM lainnya, ia mulai memproduksi tehnya secara masal. Produknya ini juga telah memenuhi label halal dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan izin dari BPOM.

Bersama dengan istri dan dua tetangganya, proses produksi ia lakukan di rumahnya, tepatnya di Jalan Puspogiwang II/9 RT 03 RW 02, Gisikdrono, Kecamatan Semarang Barat. Produksinya tidak dilakukan setiap hari. Namun saat  ada pesanan saja. Hal ini guna menjaga kualitas teh kurma buatannya.

Baca juga:  Optimalkan UKM secara Digital

Sehari ia bisa memproduksi 30 boks teh kurma. Variannya pun bermacam-macam. Ada kurma tea original dijual seharga Rp 25.000 per boks, dan slim fit dengan harga Rp 35.000 per boks. Satu boks berisi 20 sachet teh kurma. Hingga kini ia mempunyai sembilan reseller yang tersebar di berbagai kota. Pengirimannya bahkan sudah sampai ke Malaysia. “Teh kurma kami kenalkan melalui Facebook, dan pastinya lewat teman-teman UKM yang lain. Pernah juga dibawa ke Malaysia dan Hongkong,” katanya.

Meski sudah fokus membuat teh kurma, saat pandemi membuat usahanya menurun drastis. Krisnadi justru membuat inovasi baru. Ia membuat hanger dari alumunium. Mesinnya dibuat sendiri.

Tak hanya itu, ia juga mengolah biji kurma untuk dijadikan pupuk. Meski sekarang orderan sudah berjalan normal, pandemi membuat usahanya mengalami penurunan drastis. Bahkan tiga bulan pertama ia tidak mendapatkan orderan.

“Meski pandemi omzet turun, saya akan terus membuat inovasi baru. Harapannya, ke depan adalah membuat franchise teh kurma. Jadi, produk saya bisa langsung dibeli dan diminum oleh masyarakat,” ujarnya. (kap/aro)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya