alexametrics

Racik Kembali Permen Hopjes Legendaris Asal Belanda, Riset Dulu Resep Tulisan Tangan Sang Ibunya

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID – Permen Hopjes Mia Nada sudah berproduksi sejak sekitar 1940. Permen asal Belanda yang diracik oleh Alm. Oen Djioe Nio istri pemilik pabrik kopi Margo Redjo, ibu dari Widjajanti Dharmowijono sempat digandrungi pada masanya. Lalu meredup beberapa dekade setelahnya.

Kini putri pencetus Permen Hopjes Mia Nada Widjajanti berhasil merintis kembali produksi permen jadul legendaris itu. Pada 2004 ia melakukan riset dari catatan resep tulisan tangan dari ibunya yang sempat hilang. Peracikan resep dapat diselesaikan sekitar setahun. Sedangkan desain bungkus dibuatkan oleh anaknya yang menempuh studi DKV.

Koran ini berkesempatan melihat langsung produksi permen yang berlokasi di Jalan Pandanaran. Hopjes yang dibaca hopyes itu hingga kini masih mempertahankan cara produksi manual seperti dahulu kala.

Mulai dari memasak adonan, membekukan, memotong, hingga mengemas permen dengan kertas semua dikerjakan dengan tangan. Tak ada satu pun mesin yang terlibat dalam pembuatannya.

Baca juga:  Pernah Kirim Sayur ke Kendal dan Demak tanpa Ongkir

Niluh Wayan Ariasih sudah bekerja di sana sejak berdirinya kembali Mia Nada. Dengan luwes ia mengaduk dan mencampur adonan berisikan gula, krimer, susu, essence kopi robusta, glukosa, butter, dan sedikit garam.

“Produksi kami bisa tahan sekitar 6 bulan karena sama sekali tidak menggunakan pengawet,” tuturnya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Adonan yang mendidih dan telah menyatu itu kemudian dituangkan ke dalam loyang buatan di atas meja. Setelah didiamkan beberapa menit dan mulai membeku, pemotongan dilakukan.

Niluh mula-mula mengukur dengan cetakan agar potongan setiap bijinya proporsional. Lalu pisau di tangannya beraksi sebelum adonan mengeras dan sulit dipotong. Kemudian remukan disaring sebelum dibungkus menggunakan kertas.

Baca juga:  Kecelakaan Karambol di Kendal, Satu Tewas, Dua Luka Parah

Proses pengemasan pun manual. Tangan Niluh tampak tangkas membungkus permen-permen tersebut. Hanya dalam beberapa waktu saja ia telah menyelesaikan satu toples permen kopi. Paling banyak sehari ia bisa memasak delapan kilo adonan. Sedangkan produksi setiap bulannya 4-5 kali.

Dalam sekali masak biasanya Niluh menghasilkan satu kilogram permen kopi. Sama dengan 240 biji permen yang muat ke dalam 10 toples permen kopi Hopjes Mia Nada. Masing-maisng toples berisikan 100 gram permen.

Varian rasanya semula hanya creamy coffee. Lalu merespon minat pasar saat ini, Widjajanti mengembangkan produk baru permen rasa black tea dan ginger coffee. Ketiganya dapat dibedakan melalui warna bungkus. Warna hitam untuk rasa original krim kopi, coklat rasa jahe, merah rasa teh.

Baca juga:  Nafisa Adelia, “Spiderman Cilik” Asal Kabupaten Pekalongan

“Kami titipkan di tiga tempat, Toko Oen Jalan Pemuda, Boutique Dharma Roastery, dan toko online,” tutur Widjajanti saat ditemui di rumah produksi.

Pihaknya merupakan generasi kedua yang meneruskan kopi jadul zaman kolonial Jepang tersebut. Sampai saat ini teman-temannya dari Belanda masih sering memborong permen hopjesnya saat mencari oleh-oleh. Sebagian mengakui bila cita rasa permen tersebut lebih enak dari hopjes produksi Belanda asli.

“Biasanya mereka langsung bawa sekilo kalau ke sini. Apalagi mereka suka yang rasa jahe,” katanya.

Meski skala produksi masih terbilang kecil dan belum dikenal kembali oleh masyarakat umum, pihaknya memiliki rencana untuk membesarkan usahanya. Widjajanti ingin memperbesar skala industri dan menggenjot penjualan di berbagai tempat. (taf/ida)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya