alexametrics

Aiptu Esti Rahmat Seputro, Angkat Seni Tradisional, Ikut Menari Kuda Lumping

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID – Menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat memang menjadi kewajiban polisi. Tentunya, mandat tersebut menjadi tanggung jawab besar. Menjaga ketertiban masyarakat tidak melulu dengan cara normatif. Pendekatan humanis, melebur, menyelam bisa menjadi salah satu terobosan kreatif seperti yang dilakukan oleh Aiptu Esti Rahmat Seputro.

Siang terik berudara sejuk mengiringi wartawan koran ini ke lokasi tempat bertugas Aiptu Esti Rahmat Seputro. Tepatnya di Dusun Sangen, Desa Candirejo, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang. Pak Esti begitu sapaan akrabnya, adalah anggota Polsek Borobudur yang bertugas sebagai bhabinkamtibmas Desa Candirejo. Desa kelahirannya yang kaya dengan kearifan lokal dan potensi pariwisata.

“Selamat datang mas,” itulah kata pertama yang terlontar kepada wartawan koran ini. Ramah, supel, terbuka, dan welcome dengan siapapun. Dengan pakaian dinas lengkapnya ia tengah duduk di kursi payung. Berlindung dari terik panas sembari memantau kondisi desa. Setiap orang yang melintas pasti melemparkan sapaan kepadanya. Itulah bukti kedekatan dengan masyarakat sekitar. “Seperti inilah kegiatan sehari-hari. Membaur dengan masyarakat,” katanya kepada Jawa Pos Radar Magelang Kamis (30/6).

Baca juga:  Ambili Ulat di Tempat Tetangga, Kini Jadi Destinasi Wisata

Sosok Esti memang luar biasa. Tak sekadar bertanggung jawab perihal keamanan dan ketertiban. Ia juga terlibat bersama masyarakat membangun desa. Terutama potensi kearifan lokal dan pariwisata. “Daerah kita itu punya kesenian kuda lumping dan pada 2019 lalu digagas objek wisata baru, Ladon Little Island,” ungkapnya.

Menariknya, Esti bukan hanya sekedar mengawal dan menonton. Justru menjadi lakon tarian tradisional kuda lumping. Sering tampil di berbagai gelaran event. Sebab, jiwa kesenian sudah melekat sejak kecil. “Meski sudah berseragam polisi, saya tidak akan meninggalkan identitas kesenian tradisional,” ujarnya.

Baginya, kesenian memiliki nilai budaya yang luhur. Bisa menjadi alat untuk menciptakan kondisi keamanan dan ketertiban. Selain itu juga menjadi perekat kerukunan dan guyub antar masyarakat. “Kami juga mengampanyekan kearifan lokal Desa Candirejo ini supaya dikenal wisatawan asing maupun domestik,” imbuh Esti.

Polisi yang pernah bertugas di Direktorat Intelkam Polda Jateng itu juga aktif di grup karawitan Bhayangkara Langen Budoyo besutan Polres Magelang. Grup tersebut menjadi transmisi untuk menyampaikan pesan edukasi bagi masyarakat. Berkolaborasi dengan seniman dan budayawan Borobudur. “Kita pentas memakai seragam. Mengampanyekan kepada masyarakat untuk ikut andil menjaga ketertiban,” jelasnya.

Baca juga:  Bripka Indra Susanto, Ubah Motor Dinas Jadi Perpustakaan Keliling

Menurutnya, pesan menjaga kemanan dan ketertiban kepada masyarakat akan mudah ditangkap bila melalui seni dan budaya. Sebab, selain membumikan kearifan lokal, misi utama adalah menciptakan lingkungan masyarakat yang aman dan nyaman. “Kita sisipkan pesan itu melalui pentas karawitan dan wayang bersama para budayawan,” paparnya.

Di bidang pariwisata, Esti bersama pemuda Candirejo sukses menyulap sungai polosan menjadi objek wisata menarik. Menawarkan pemandangan sungai, hamparan pasir putih layaknya pantai, dan view pegunungan Menoreh. Namanya Ladon Little Island di bantaran Sungai Progo. “Ladon itu dari kata ladu yang berarti sedimentasi pasir. Little Island karena tampak seperti pulau,” jelasnya.

Awalnya, kata dia, inisiatif pembuatan objek wisata berawal dari pertemuan pemuda Desa Candirejo. Karena dianggap potensial untuk menjadi objek wisata, secara swadaya dilakukan pembersihan dan pembangunan seadanya. “Hal itu menunjukkan budaya gotong royong antar pemuda desa. Semua pihak mendukung,” ujarnya.

Baca juga:  Komitmen Wujudkan Perda yang Menyejahterakan Masyarakat

Kendati demikian, lanjut dia, wisata tersebut hanya tersedia saat musim kemarau. Ketika musim hujan, debit air meningkat dan menelan area Little Island. Sehingga tidak bisa digunakan untuk wisata. “Tantangannya disitu hanya ada saat musim kemarau karena aliran sungai kecil. Sampai saat ini baru dibuka dua kali sejak 2019,” terangnya.

Meski menjadi objek wisata musiman, namun hasilnya memuaskan. Setidaknya, adanya Ladon Little Island Desa Candirejo mendapatkan omset Rp 20 juta setiap kali dibuka. Padahal harga tiket masuk sangatlah murah hanya Rp 2.000. Selain itu, terdapat setidaknya 20 lapak yang menjual produk lokal masyarakat. “Dampaknya positif bagi perkembangan ekonomi desa,” tuturnya.

Esti bersama masyarakat akan terus menggali dan mengembangkan potensi yang ada. Baik sektor seni, budaya, pariwisata dan lainnya. Baginya, guyub, gotong royong, kolaborasi adalah bagian dari pencapian dalam mewujudkan ketenteraman dan ketertiban masyarakat. “Mewujudkan ketertiban itu banyak jalannya. Asal kreatif dan inovatif bukan hanya normatif,” jelasnya. (mia/ton)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya