alexametrics

Cerita Nenek Pemulung Asal Kendal Berkurban Sapi Senilai Rp 22 Juta, Hasil Menabung Selama 15 Tahun

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID – Impian Jumiah, nenek berusia 80 tahun di Kampung Gagakan RT 04 RW 02 Kelurahan Sijeruk, Kendal, ini akhirnya terwujud. Setelah menabung selama 15 tahun dari hasil mengumpulkan barang rongsokan, Mbah Jumiah berhasil membeli seekor sapi senilai Rp 22 juta untuk berkurban pada Idul Adha 2022 mendatang.

Rasa haru dan bangga menyelimuti hati Jumiah. Itu karena untuk kali pertama dia bisa menyumbang hewan kurban di Masjid Besar Darul Muttaqin, Kebondalem, Kendal.

Sehari-hari, Mbah Ju -sapaan akrab Jumiah- menjadi pemulung. Ia mengumpulkan barang rongsokan, mulai botol plastik, kardus bekas, hingga karung sak semen. Pekerjaan itu sudah dilakoni sejak 15 tahun lalu setelah suaminya meninggal.

Mbiyen dodolan. Suami kedua meninggal, terus nyari rongsokan,” katanya ramah kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Saat ditemui di gubuk kecilnya, Mbah Ju yang tinggal sebatang kara itu sedang menata botol plastik bekas. Tangannya yang gemetar, perlahan memasukkan hasil rongsoknya hari itu ke dalam kandi (karung).

Baca juga:  Produk Jateng Mendunia, Jadi Koleksi Artis Hollywood

Biasanya, Mbah Ju mencari rongsokan dari pukul 07.00 pagi hingga 11.00. Rute mencari rongsokan cenderung ke arah selatan. Yakni, dari kampung ke kampung di Kecamatan Kendal hingga Kecamatan Ngampel. “Nek wangsul mbecak. Berangkatnya jalan kaki,” tuturnya.

Dalam seminggu, Mbah Ju bisa mendapat Rp 35 ribu hingga Rp 60 ribu dari hasil penjualan barang rongsokan yang dikumpulkan. Uang itu digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.  Mulai makan hingga kebutuhan yang lainnya. Sisanya ditabung.

Saat ditanya untuk siapa saja kurban sapi ini, Mbah Ju terkekeh. Dia mengingat-ingat samar wajah suaminya, orang tuanya, serta mertuanya. Jari jemarinya kemudian menghitung. “Ada tujuh yang saya catat. Sudah disetorkan ke masjid nama-namanya,” katanya.

Baca juga:  Kenalkan Bertanam Sayur Organik kepada Siswa sejak Dini

Selama ini, uang tabungan Mbah Jumiah dititipkan dan disimpan oleh anak tirinya yang hidup terpisah. Dan terkumpul sebanyak Rp 22 juta. Padahal anak tirinya itu meminta agar Mbah Ju mendaftar haji.

Namun Mbah Ju tetap keukeh ingin berkurban sapi tahun ini. Kendati begitu, kini Mbah Ju sudah kembali menabung untuk persiapan ke Tanah Suci menunaikan ibadah haji.

“Pengin numpak sapi. Sama yang udah di sana (suami yang sudah meninggal, Red). Hajine nabung malih,” akunya.

Mendengar kabar Mbah Jumiah berkurban sapi tahun ini, sontak membuat Ketua Panitia Kurban Masjid Besar Darul Muttaqin Kebondalem Khairur Roziqin kaget. Dia bertanya berulang kali kepada Mbah Ju tentang niatnya itu. Namun Mbah Ju keukeh dengan keinginannya. Bahkan, Mbah Ju sudah memasrahkan sapi kurbannya kepada panitia.

Pas saya tanya, Mbah Ju bilang, saya ikhlas serahkan semua. Dan juga sudah dibujuk anak-anaknya agar sebagian uangnya untuk daftar haji. Tapi Mbah Ju penginnya kurban sapi,” terang Roziqin.

Baca juga:  Efisiensi Hingga Puluhan Miliar, Dongkrak Daya Saing Perusahaan

Tak hanya itu, Roziqin juga kagum dengan kerja keras nenek 80 tahun itu untuk berkurban. Apalagi kondisi ekonominya tergolong kurang mampu. Dia berharap kegigihan Mbah Jumiah dalam berkurban ini bisa menjadi contoh umat muslim lainnya.

“Saya harap ini bisa jadi contoh yang lainnya. Nantinya sapinya Mbah Ju akan disembelih dengan hewan kurban lainnya,” jelasnya.

Sementara ini, kata dia, sudah terdata empat ekor sapi dan sembilan ekor kambing yang akan disembelih di Masjid Darul Muttaqin oleh warga sekitar. Roziqin juga berkomitmen, akan menjaga amanah para warga yang berkurban. “Nantinya akan dibagikan sesuai ketentuan syariat. Kami juga berkomitmen menjaga amanah warga yang berkurban tahun ini,” katanya. (dev/aro)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya