alexametrics

Warga Batang Temukan Metode Potes Pucuk Buah Anggur, Berbuah Lebih Cepat dan Tak Mengenal Musim

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID – Tri Makno berhasil menemukan metode potes pucuk untuk mempercepat anggur berbuah. Selain itu, pohon anggur juga akan berbuah sepanjang tahun. Penanaman tersebut cocok untuk penghobi tanaman anggur di pekarangan.

Saat ini banyak penghobi anggur yang menanam buah itu di pekarangan atau teras rumah. Suasana teduh sekaligus bisa memetik buah di halaman menjadi salah satu daya tariknya.

Di Desa Gondang, Kecamatan Subah, Kabupaten Batang, ada sebuah green house yang kerap dikunjungi masyarakat dari berbagai daerah. Bahkan luar negeri. Namanya Robban Grapes. Ukurannya 6 meter kali 12 meter. Pemiliknya Tri Makno, 48, petugas penyuluh pertanian Kecamatan Subah.

Lokasi green house itu ada di halaman depan rumahnya. Green house itu sebelumnya merupakan ruang tamu. Sengaja dibongkar untuk dijadikan tempat menanam anggur. Ia merupakan pencipta teknik potes pucuk pada tanaman anggur. Teknik itu sangat cocok digunakan untuk penghobi anggur yang menanamnya di halaman rumah.

Tri menjelaskan, melalui teknik potes pucuk, anggur bisa berbuah lebih cepat. Yaitu, pada usia sembilan bulan. Selain itu, anggur juga berbuah sepanjang tahun. Tidak melihat musim.

Baca juga:  Afryda Afryana, Alumni Upgris Jadi Penggerak Pemuda Desa, Merintis Griya Baca hingga Snack Bawang

“Potes pucuk sangat cocok untuk penanaman di halaman rumah. Tidak perlu halaman yang luas. Potes pucuk dilakukan mulai tanaman umur empat bulan. Selang 20 hari bisa berbunga. Teknik potes pucuk bisa membuat tanaman tidak capek, karena buahnya bertahap,” jelasnya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Sementara jika menggunakan metode pemotongan konvensional, anggur baru berbuah pada usia sembilan bulan. Tri menunjukkan cara pemotesan atau pemotongan pucuk. Bagian pucuk batang yang baru mekar daunnya dipotong hanya menggunakan kuku.

Ukurannya hanya 0,5 sentimeter. Pucuk yang dipotong itu akan langsung bertunas. Ada tunas yang menjadi tangkai bunga, dan ada yang menjadi batang baru. Batang baru tersebut akan kembali dipotes pucuknya setelah mengeluarkan cabang lagi.

Proses tersebut dilakukan berulang kali, sehingga menghasilkan buah sepanjang tahun. Saat ini, ia tengah mengembangkan 20 jenis anggur. Seluruhnya merupakan anggur impor dari Ukraina. Seperti jenis pegasus, ghost v, livia, ilaria, dan transfigurasi.

“Penanaman di pekarangan harus menggunakan atap plastik UV (ultra violet). Anggur itu sangat rentan terhadap air hujan. Gampang terkena jamur dan penyakit. Apalagi tahun sekarang merupakan kemarau basah,” terang Tri.

Baca juga:  Sering Dikira Sakit Jiwa, Manfaatkan Koper Kuno sebagai Media

Ia menjelaskan, jika anggur punya nilai ekonomis tinggi. Satu kilogramnya ia biasa menjual Rp 100 ribu. Satu tandan anggur paling jelek bisa menghasilkan seperempat kilogram. Sementara satu pohon bisa berbuah hingga 50 tandan. Itu artinya satu pohon bisa menghasilkan 12 kilogram lebih.

Tri punya enam kebun anggur yang menjadi binaan. Total luasnya mencapai 1,5 hektare. Seluruhnya menggunakan metode potes pucuk. “Buah anggur di kebun itu saya rasa tidak sampai ke pasar. Sudah habis di kebun. Kadang kewalahan untuk memenuhi orang yang datang ke kebun,” ujarnya.

Metode potes pucuk itu ditemukannya dalam riset selama tiga tahun. Selain itu, ia juga menemukan cara yang tepat untuk menghilangkan biji dalam buah anggur. Yaitu, dengan mencelupkan satu tandan bunga yang belum mekar pada cairan GA3 10 PPM. Waktunya tiga hari sebelum bunga itu mekar. Hasil itu juga didapatkannya dalam riset jangka waktu panjang.

Baca juga:  Sukses Lakukan Rekayasa Genetika, Kebun Anggur Mbah Soka di Sekaran Jadi Rujukan

Berkat ilmu itu, banyak orang datang untuk belajar langsung di rumahnya. Bahkan ada keluarga dari Malaysia menyempatkan mendatanginya hanya untuk belajar. Selain itu, banyak pula orang yang datang dari luar pulau Jawa. Seperti ibu-ibu PKK dari Kalimantan, hingga dua bus rombongan Pemda Dumai, Provinsi Riau. Sekolah itu dibukanya secara gratis alias tidak dipungut biaya.

“Yang dipelajari dari Robban Grapes ini adalah potes pucuk, kemudian pembuatan buah anggur tanpa biji, sampai menstimilir buah itu supaya besar-besar. Mereka tertariknya di situ,” kata Tri.

Selain itu, anggur-anggur yang ditanamnya tidak dipasarkan ke luar. Hanya untuk orang yang mau beli dan datang ke rumahnya. Anggur yang belum masak juga tidak boleh dipesan jauh-jauh hari. “Tidak melayani pembelian jarak jauh, yang mau beli langsung ke sini petik langsung dari pohon,” tandasnya. (yan/aro)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya