alexametrics

Berdayakan Ratusan Petani Kopi di Jateng, Dirikan Koperasi, Ekspor 10.000 Ton Kopi per Tahun

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID – Melihat pemanfaatan potensi kopi di Jateng yang belum optimal, Abdul Walid mulai memberdayakan ratusan petani kopi. Kini, hasil produksi kopi Jateng sebanyak 10.000 ton per tahun laku terjual di luar negeri maupun pasar lokal.

Abdul Walid sudah lama terjun di dunia kopi. Ia mulai mendirikan coffee shop Terakopie di Jalan Soekarno Hatta, Semarang  pada 2012 silam. Setelah banyak obrolan dan diskusi dengan kerabat pelaku usaha kopi, pada 2018 ia mendirikan yayasan. Lalu 2020, ia membentuk Koperasi Kopi Anak Negeri (KNK).

Melalui yayasan dan koperasi yang didirikan, ia memberdayakan ratusan petani kopi, melakukan ekspor ke luar negeri, melatih barista, hingga membimbing pelaku usaha kopi. Dalam hal ini, ia juga menjalin kerja sama dengan pemerintah dan Bank Indonesia (BI).

“Saya pikir bagaimana caranya bisa menghasilkan kopi bila tak punya kebun,” ungkap Walid kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Dengan inisiatifnya, ia berhasil menjembatani produk hasil petani kopi Jateng dengan pihak pemerintah. Dengan itu, ia meningkatkan kualitas biji kopi lokal dan konsistensi produksi agar layak ekspor ke pasar global.

Baca juga:  Tuntaskan RTLH, Pemprov Jateng Tingkatkan Dana Bankeupemdes

Ia mendampingi empat kelompok petani kopi di 10 kabupaten atau kota di Jateng. Setiap kelompok, biasanya terdiri atas 20 petani kopi. Hingga saat ini kurang lebih 200 anggota dari para petani tersebut aktif di koperasinya.

Walid mulai mendampingi petani dari pola tanam, perawatan, pasca panen, cara penyimpanan, konsistensi kualitas, hingga menyalurkan produk ke pangsa ekspor pasar global. “Satu kelompok petani kopi bisa menghasilkan 600 kilogram hingga satu ton green bean,” imbuh Walid.

Ia juga memiliki 15 coffee shop yang berada di bawah naungannya. Dari 12.000 ton kopi yang dihasilkan KNK setiap tahun, sebanyak 10.000 ton dikirim ke luar negeri. Sedangkan sisanya sekitar 10 persen masuk ke kedai kopi langganannya. Biasanya kebutuhan bulanan di setiap coffee shop sekitar 5 kilogram biji kopi.

Baca juga:  Klasemen Sementara Perolehan Medali PON XX Papua, Jateng Merosot ke Peringkat Enam

“Maka dari itu, saya katakan penting untuk mengurus legalitas usaha. Karena dari situlah muncul kepercayaan dari orang-orang yang bekerja sama dengan kita,” tegasnya.

Tak sampai di situ, ia memahami betul tren kopi yang kian digandrungi semua kalangan masyarakat. Saat ini, bisnis kopi lebih dilihat memiliki prestise tersendiri. Ia pun membuka training untuk barista, food and beverage, hingga hospitality.

Ia juga mewadahi para pengusaha kedai kopi atau coffee shop pemula untuk merintis usaha. Tak peduli berapa jumlah modal yang dimiliki, ia ingin membantu pengusaha yang serius ingin merintis kedai kopi.

“Minimal Rp 5 juta bisa buat kedai kopi. Kalau coffee shop ya minimal Rp75 juta. Mereka akan kami dampingi sampai bisa mandiri,” katanya.

Baca juga:  Koleksi Ribuan Anggrek, Raup Ratusan Juta per Bulan

Meski kerap membagikan ilmu dan melahirkan banyak SDM berkualitas, Walid tak sekalipun takut tersaingi. Ia justru semangat dengan tren positif pada bisnis kopi Indonesia. Dari berbagai training itu pula, koperasinya semakin berkembang.

“Ada kecenderungan anak muda agak gengsi mengakui bila bapaknya petani. Tapi, saat ini mereka dengan bangga menyebutkan orang tuanya petani kopi. Ini harus berlanjut,” tambah Walid.

Alumni Prikologi UGM Jogja ini banyak belajar dari filosofi kopi. Menurutnya, sifat kopi identik mudah terpengaruh dan mempengaruhi. “Karena itu, manusia perlu banyak belajar dari filosofi kopi,” katanya. (taf/aro)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya