alexametrics

Kembangkan Aplikasi SUPPORT dan Sistem Pengaduan Online

Melongok Desa Banyubiru yang Menjadi Desa Percontohan Antikorupsi Nasional

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID – Desa Banyubiru, Kecamatan Banyubiru, Kabupaten Semarang terpilih menjadi salah satu dari 10 desa percontohan antikorupsi di Indonesia. Hal itu diumumkan saat Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menggelar kick off bimbingan teknis (bimtek) pembentukan 10 desa antikorupsi 2022 di Desa Pakatto, Kecamatan Bontomarannu, Kabupaten Gowa, Provinsi Sulawesi Selatan, Selasa (7/6) lalu.

Desa Banyubiru terletak tak jauh dari Rawa Pening. Desa ini memiliki banyak potensi. Baik potensi alam hingga potensi sumber daya manusianya. Satu dari 10 desa di Kecamatan Banyubiru ini memiliki jumlah penduduk 8.746 jiwa dengan luas wilayah sekitar 677.078 hektare.

Desa ini terdiri atas sembilan dusun. Yakni, Dusun Krajan, Kampung Rapet, Randusari, Tegaalwuni, Cerbonan, Demakan, Pancuran, Dangkel, dan Tawang Rejo. Selasa lalu, Desa Banyubiru menjadi salah satu desa percontohan antikorupsi di Indonesia.

Menurut Kepala Desa Banyubiru Sri Anggoro Siswaji, terpilihnya Desa Banyubiru menjadi desa percontohan antikorupsi merupakan sebuah apresiasi yang luar biasa bagi dirinya, dan bagi warga Desa Banyubiru. Pasalnya, Desa Banyubiru tidak dinominasikan dan tidak diajukan oleh Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (Dispermades) Kabupaten Semarang untuk menjadi calon desa percontohan antikorupsi.

“Sebenarnya saya juga tidak menyangka Mas Desa Banyubiru bisa terpilih menjadi desa antikorupsi,” katanya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Hal tersebut bisa terjadi karena Desa Banyubiru diajukan langsung oleh KPK yang datang melakukan penilaian dan observasi di bulan April kemarin. Pihak KPK yang merupakan tim penyusun Buku Teknis Antikorupsi, pada saat penilaian dan observasi berlangsung yang menjadi salah satu poin penting yakni terdapatnya aplikasi SUPPORT di Desa Banyubiru.

Baca juga:  Lahan Dua Hektare di Dusun Sugihwaras Terbakar

Aplikasi SUPPORT ini merupakan Surat Pengantar Online RT. Di mana warga yang ingin membuat surat pengantar RT tidak perlu bertemu dengan para ketua RT. Aplikasi tersebut diciptakan oleh remaja asli Banyubiru sendiri. Si pencipta aplikasi tersebut juga mendapatkan hadiah dari KPK sebagai apresiasi. “Dengan adanya aplikasi tersebut bisa memutus rantai untuk terjadinya transaksi atau pungli di masyarakat,” tegasnya.

Selain aplikasi tersebut, penilaian lainnya pendapat dari beberapa tokoh masyarakat dan perangkat desa yang dihadirkan pada saat penilaian. Sri mengatakan, para tokoh masyarakat yang dihadirkan bisa menjawab beberapa pertanyaan dengan jelas dan rinci serta sesuai dengan fakta yang ada.

Seperti publikasi dan pengambilan Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDes) serta program-program masyarakat dusun yang sudah berjalan.  “Salah satu yang menjadi poin penting juga yakni penguatan lokal dari para tokoh masyarakat setempat,” katanya.

Desa Banyubiru juga menjadi desa yang bisa mengembangkan potensi teknologi untuk meningkatkan pelayanan umum bagi warga. Hal ini memudahkan warga setempat untuk mengurus berbagai surat pengantar dari desa lewat aplikasi. Inovasi tersebut dinilai efektif, terutama pada saat pandemi Covid-19 kemarin.

Tidak hanya untuk mengurus atau membuat surat pengantar dari desa, warga juga bisa memanfaatkan aplikasi desa untuk membayar pajak. “Selain itu juga bisa untuk mempromosikan produk unggulan desa agar bisa dijangkau masyarakat luas,” katanya.

Baca juga:  Jalani Isolasi Mandiri, Nyalakan Semangat Tetap Sehat

Sri mengungkapkan  untuk aplikasi desa juga sudah dikembangkan lebih baik lagi. Sekarang warga bisa menyampaikan keluhan-keluhan atau komplain melalui aplikasi tersebut. Sistem pengaduan online ini diciptakan agar warga tidak takut untuk menyampaikan keluhan atau aspirasi ke desa. Dengan adanya aplikasi desa juga memudahkan pihak pemerintah desa (pemdes) untuk menyampaikan semua informasi dan kegiatan yang dilakukan.

Salah satu informasi yang disebarkan melalui aplikasi tersebut adalah APBDes dan anggaran dana desa (ADD). Menurut Sri, dengan adanya publikasi dan transparansi terkait dengan dana desa warga menjadi tahu penggunaan dana desa. Selain itu, pihak desa juga memasang banner informasi APBDes di sekitar kantor desa. “Biar warga yang tidak bisa mengakses aplikasi bisa mengetahui informasi tersebut dari banner tersebut, Mas,” imbuhnya.

Meski begitu, kata dia, program aplikasi desa tersebut tidak lepas dari pro kontra di dalamnya. Misalnya untuk aplikasi SUPPORT yang berhubungan langsung dengan para ketua RT. Sempat terjadi pro dan kontra di kalangan ketua RT. Sebab, sebelum ada aplikasi tersebut, warga yang ingin membuat surat pengantar RT harus datang langsung ke ketua RT. Dan tak jarang warga akan memberikan “imbalan” untuk ketua RT yang telah membuatkan surat pengantar.

Baca juga:  Mudah Pahami Peluang Kejadian dengan “Tarlang”

“Ada yang menilai aplikasi ini bisa memutus tali silaturahmi seperti itu, Mas. Tapi kami dari pihak desa akan selalu memberikan pengertian dan pengarahan terkait aplikasi tersebut agar tidak ada yang dirugikan,” katanya.

Sri juga tidak memaksakan warganya untuk menggunakan aplikasi tersebut. Jika ada warga yang ingin membuat surat pengantar langsung kepada ketua RT juga dipersilakan. Karena surat pengantar RT yang dibuat sama, tidak ada yang berbeda. Selain itu, insentif ketua RT juga naik dibandingan tahun lalu. Dulu Rp 500 ribu, sekarang menjadi Rp 800 ribu. “Itu kita pakai untuk memberikan pemahaman para ketua RT Mas. Ya, biar kesannya tidak frontal,” imbuhnya.

Diakui, Desa Banyubiru merupakan desa yang berpotensi dalam mendukung pelaksanaan pembangunan di wilayah Kecamatan Banyubiru. Dengan jumlah penduduk yang cukup besar dan luas wilayah yang cukup luas, membuat Desa Banyubiru menjadi barometer bagi desa-desa lainnya.

“Cukup sering kita menerima tamu dari desa lain. Bahkan dari luar kota hingga luar pulau. Pada intinya kita saling bertukar pikiran dan belajar bersama,” ujarnya.

Bulan ini, kata Sri, Desa Banyubiru akan me-launching sarana prasarana terbaru mereka. Yaitu, radio komunitas dan aplikasi digital desa yang baru. Untuk radio komunitas untuk sarana berkumpul dan berkomunikasi dengan generasi milenial atau para remaja desa. (nun/aro)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya