alexametrics

Ziarah Syawalan Beberapa Tahun Lalu Hanya Diikuti 50 Orang, Kini 500-an Orang

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID – Ziarah Syawalan Semarang kembali digelar dan dipimpin langsung oleh Habib Nauval bin Idrus bin Ahmad Al Mutahar dari Majelis Taklim Ribath An Nur Mranggen Demak, Minggu (15/5).

Tradisi ziarah berombongan ke makam para alim ulama sempat terhenti oleh pandemi Covid-19. Setelah kondisi melandai dan menjadi endemi Covid-19, kini tradisi tersebut dilanjutkan kembali.

Kali ini, rombongan peziarah mengunjungi beberapa makam para alim ulama dan kasepuhan, dengan lokasi pertama Makam Syaikh Ibrahim di Brumbung Demak dan Makam Syaikh Shodiq atau Mbah Jago di Wiringin Jajar Mranggen Demak. Setelahnya, rombongan Ziarah Syawalan Semarang menuju makam Syaikh Jumadil Kubro dan Sunan Terboyo.

“Ini merupakan agenda rutin yang digelar sejak tahun 2005 dan dilangsungkan setiap Ahad kedua di bulan Syawal. Awalnya hanya 40-50 jamaah, sekarang sudah 500-an,” kata Habib Naufal bin Idrus bin Ahmad Al Mutahar di Makam Sunan Pandanaran Semarang.

Baca juga:  Ana Luluk Ilmaknun, Ingin Jadi Pengusaha

Total ada sembilan lokasi tujuan ziarah di beberapa makam yang ada di Demak dan Kota Semarang. Termasuk di Makam Sunan Pandanaran dan Mbah Sholeh Darat di Bergota. Yang dilakukan selama Ziarah Syawalan Semarang, di antaranya tausiyah, tawasul, berdoa bersama, napak tilas sejarah para ali ulama.

“Kita tahu jika nama besar Ki Ageng Pandanaran merupakan pendiri Kota Semarang. Agar mendapatkan berkah di dunia dan akhirat, kita wajib kulo nuwun  kepada Sunan Pandanaran,” jelasnya.

Habib Naufal berharap Ziarah Syawalan Semarang bisa menjadi ikon wisata religi. Apalagi jamaah yang ikut terus bertambah seiring berjalannya waktu. Bahkan banyak yang terlibat, di antaranya pemerintah daerah, ADKI, IPNU, Ansor, Forum Backstagers, Santri Gayeng Nusantara, Unnes, dan lainnya.

Baca juga:  Patok Tarif hingga Rp 10 Juta, Pernah Alami Proyek Gagal

“Harapan kami ke depan, bisa dilengkapi dengan agenda seperti bazar, sehingga menggerakkan perekonomian masyarakat. Kami yakin bisa menjadi ikon wisata religi. Pak Wali Kota Sematang juga mengirimkan utusan. Bahkan Wakil Gubernur Jateng juga menyertakan para santrinya,” katanya.

Sementara itu, Ketua Asosiasi Desa Kreatif Indonesia (ADKI) Fikri El Azis juga berharap, agenda Ziarah Syawalan Semarang ke depan bisa jadi wisata religi tahunan dengan pengunjung yang lebih banyak.

“Ini bisa mendorong tumbuhnya ekonomi kreatif masyarakat dan peserta ziarah. Saya harap jangan sebatas ziarah, tapi bisa ke arah ekonomi kreatif. Misalnya produk yang dibuat para santri bisa dijual,” tambahnya.

Menurut dia, dari Ziarah Syawalan Semarang bisa melahirkan produk, meramaikan destinasi wisata atau desa atau kampung kreatif ramah muslim. “Santri bisa jadi wirausaha baru, bisa membuka lapangan kerja baru dengan produk yang ramah muslim,” katanya.

Baca juga:  Belajar dari Youtube, Klaim Pertama di Kabupaten Semarang

Aris Pandan Setyawan, pengurus Yayasan Makan Sunan Pendanaran Samarang mengakui, para pengunjung Ziarah Syawalan Semarang terus bertambah tiap tahunya. “Dari awal Ziarah Syawalan Semarang yang semula 30-40 jamaah. Sejak lima tahun lalu, jumlah pesertanya terus naik. Kini rata-rata 400-an orang. Bahkan tahun ini 500-an orang,” tambahnya.

Menurut informasi yang dihimpun Jawa Pos Radar Semarang, agenda Ziarah Syawalan Semarang juga mengunjungi makam KH Sholeh Darat di Bergota, Habib Hasan bin Thoha bin Yahya di Mrican, dan berakhir di makam Syaikh Sulaiman Cagak Luas di Patemon Gunungpati. (den/ida)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya