alexametrics

Sri Sumiyati, Dosen Undip yang Konsen Mengolah Sampah sebagai Wujud Ibadah

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID – Melalui Bank Sampah Gedawang Asri, Sri Sumiyati dapat memberdayakan warga untuk memilah dan mengolah sampah. Sebagai penggiat lingkungan, ia juga melakukan edukasi ke sekolah dan pondok pesantren.

Dr Sri Sumiyati adalah seorang dosen di Universitas Diponegoro (Undip). Sejak kecil ia sangat mencintai lingkungan. Baginya menjaga lingkungan adalah wujud dari ibadah. Dosen Teknik Lingkungan Hidup ini miris melihat masalah sampah tak kunjung teratasi. Berawal dari lingkungannya, ia mengajak warga untuk memilah sampah dan menjaga kebersihan di area sekitar Jalan Tejosari Raya, Gedawang, Kecamatan Banyumanik, Kota Semarang.

Sri- sapaan akrabnya- saat ditemui di rumahnya sedang membuat bunga dari plastik beserta dengan temannya. Terlihat terasnya dipenuhi dengan kreasi dari sampah seperti tas, bunga, dan kursi. Ia membentuk Bank Sampah Sempulur pada tahun 2014. Bersama dengan teman-temannya ia menggerakkan bank sampah ini.

Awalnya ada lima nasabah. Sempat vakum selama dua tahun karena tidak ada perubahan. Pada tahun 2017, Ibu dari empat orang anak ini mulai menggerakkan bank sampahnya lagi lewat program Semarang Green and Clean. Program ini di inisiasi oleh Unilever dan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Semarang

“Awalnya masyarakat tidak mau ikut karena mereka lebih mementingkan profit. Akhirnya lewat program Semarang Green and Clean ini ada penambahan nasabah karena kita masuk dalam kategori silver,” ujar Sri Sumiyati saat ditemui Jawa Pos Radar Semarang.

Baca juga:  Punya 12 Kolam, Omzet Rp 70 Juta Sekali Panen

Giatnya ini menjadi ujung tombak pembentukan Bank Sampah Gedawang Asri (BSGA) yang menaungi 10 bank sampah di Kelurahan Gedawang. “Setelah mendapatkan kategori silver ini, Lurah Gedawang mendukung agar setiap RW ada bank sampahnya. Jadilah Bank Sampah Gedawang Asri,” jelasnya.

Tak semudah yang dibayangkan. Mengajak warga untuk menerapkan reuse, reduce, dan recycle (3R) ini banyak tantangan dan cibiran. Lantas ia tak patah arah. Menghadapi warga yang tidak menyukainya, dia anggap seni.

“Jadi kita juga harus belajar seni menghadapi berbagai macam warga. Karena tidak semua orang bisa dipaksa untuk suka kepada saya,” tambahnya.

Bersama dengan suaminya ia berkeliling ke rumah-rumah warga di seluruh Kelurahan Gedawang dengan membawa MMT bertuliskan Gerakan Sayangi Sampah (Gersaimah) di Kelurahan Gedawang. Sembari berkeliling, istri dari Budi Warsito ini memberikan edukasi pentingnya memilah sampah bagi lingkungan. Selain mengedukasi warga, ia juga melakukan edukasi ke sekolah dan pondok pesantren di sekitarnya.

Dari Bank Sampah Gedawang Asri ini, tahun 2021 pihaknya mendapat kategori Bank Sampah Terbaik Se-Kota Semarang. Kegiatan rutin selalu dia lakukan untuk membentuk kekompakan tim. Mulai dari pembuatan kreasi dari sampah seperti boneka, bunga, karpet, taplak meja, sajadah dan produk lain yang kemudian dijual. Pengelola bank sampah ini juga membuat eco brick serta eco enzyme secara rutin. Banyak kegiatan yang dilakukan oleh pengurus BSGA. Selain menjadi pengurus, mereka sekaligus dijadikan trainer.

“Pengurus bank sampah di Gedawang ini juga kami siapkan untuk menjadi trainer-trainer. Jadi mereka akan mengajari pengelolaan sampah yang benar di berbagai daerah, serta mengajarkan keterampilan berkreasi seperti membuat boneka dan bunga dari sampah plastik,” katanya.

Baca juga:  Ada Petilasan Mirip Makam, Banyak Diziarahi Warga

Wanita yang telah bekerja selama 24 tahun menjadi dosen ini telah mengedukasi dan melakukan sosialisasi kepada warga untuk mengelola sampah bahkan sampai luar kota. Seperti Salatiga, Yogyakarta, dan Magelang. Selain itu, BSGA juga sering mendapat kunjungan studi banding dari luar kota. Salah satunya Kader Puskesmas Srumbung Magelang.

“Mereka datang satu bus dan kami ajari tentang penerapan 3R, serta membuat kreasi dari sampah. Harapannya, ketika nanti mereka pulang bisa menularkan ilmunya kepada masyarakat yang ada di sana,” kata Ketua Bank Sampah Gedawang Asri ini.

Kegiatan lain yang dilakukan BSGA adalah penimbangan sampah setiap satu minggu sekali digilir setiap RW. Wanita yang menjadi nominator Kalpataru Kota Semarang ini menerapkan sistem semua hasil sampah dari warga akan menjadi milik warga. Setiap warga akan mendapatkan buku yang berisi tabungan sampah milik warga. Kemudian setiap tahun pihaknya menggelar bakti sosial (baksos). Namun untuk tahun ini, di Bank Sampah Sempulur mengadakan tukar sampah dengan sembako. Kegiatan inilah yang menjadikan warga semakin semangat dalam memilah sampah.

Baca juga:  Sudah 20 Tahun Jadi Perajin Gitar, Karyanya Laku hingga Malaysia, Korea, Belanda dan Australia

Menjadi kategori Bank Sampah terbaik se-Kota Semarang menjadikan BSGA menjadi set visit APEKSI, KLHK, dan KLH dari Jepang. Sejauh ini Bank Sampah Gedawang Asri memiliki nasabah sebanyak 891 KK dari 10 RW di Kelurahan Gedawang. Bersama dengan dua dosen lain, Sri Sumiyati juga menjadi inisiasi bank sampah kampus di Undip. Namanya Dipo Waste Bank.

Menurutnya ada empat motivasi yang selalu dipegang, di antaranya ibadah, menjaga lingkungan, bersosial, dan finansial. “Unsur finansial tidak dilupakan, tapi tidak dinomorsatukan. Niatnya ibadah dengan beramal saleh untuk menjaga lingkungan. Nanti tiga motivasi yang terakhir pasti akan mengikuti,” pungkasnya. (cr4/ida)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya