alexametrics

Jatmiko Mastutik Adi Pramono, Rintis Destinasi Wisata di Kopeng dengan Berdayakan Warga

Gandeng Petani Sayur dan Peternak Sapi Perah

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Usia Jatmiko Mastutik Adi Pramono belum genap 25 tahun. Namun gadis kelahiran Dusun Cuntel, Desa Kopeng, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang ini menggagas destinasi wisata kuliner berkonsep outdoor dengan latar belakang keindahan Gunung Merbabu.

NURFAIK NABHAN, Radar Semarang

DUA tahun lebih pandemi Covid-19 menghantam negeri ini. Hampir semua sendi kehidupan lumpuh, termasuk sektor pariwisata. Namun kini dunia pariwisata mulai bangkit. Sejumlah destinasi wisata mulai beroperasi kembali. Ada juga yang baru dikembangkan saat pandemi. Salah satunya destinasi wisata yang dirintis Jatmiko Mastutik Adi Pramono ini. Di lahan milik keluarganya, ia mengembangkan wisata kuliner berkonsep outdoor. Namanya Latar Merbabu. Sesuai namanya, selain menyediakan menu kuliner, destinasi wisata ini menjual keindahan alam, khususnya Gunung Merbabu.

“Kami soft opening baru Februari lalu, Mas,” katanya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Dalam mengembangkan bisnis wisatanya itu, Miko –sapaan akrabnya– memberdayakan masyarakat setempat. Misalnya, di Dusun Cuntel mayoritas masyarakat memiliki mata pencaharian sebagai petani sayur. Juga area Kopeng, Getasan, terdapat potensi susu sapi segar. Banyak peternak sapi perah di daerah ini. Potensi itu dimanfaatkan Miko untuk menarik wisatawan. “Seperti olahan susu segar nantinya kita akan modifikasi lagi, dan dimasukkan ke list menu di resto,” katanya.

Baca juga:  Seperti Warung Kopi Kekinian, Jamaah Didominasi para Karyawan

Dara kelahiran September 1997 ini mengatakan, selain memanfaatkan apa yang ada di sekitar Dusun Cuntel, ia juga mempersilakan warga yang memiliki home industry untuk bisa menjual produknya di Latar Merbabu. Dari produk-produk tersebut nantinya akan dibantu untuk modifikasinya oleh Miko dan timnya.

Dengan wawasan yang diperoleh saat sekolah di SMK jurusan tata boga, Miko tentunya akan terus memberikan edukasi kepada masyarakat sekitar agar produk-produk yang dipasarkan bisa menarik di mata wisatawan. Selain itu, Miko juga memberikan edukasi terkait pandangan masyarakat Dusun Cuntel tentang kafe yang selalu dikaitkan dengan klub malam.

“Saya selalu mengedukasi masyarakat sekitar, terutama anak mudanya tentang mindset kafé tidak selalu berkaitan dengan hal-hal yang negatif,” ucapnya.

Baca juga:  Menikmati Keindahan Kopeng dari Latar Merbabu

Selain itu, dengan adanya destinasi wisata yang dibangun dan beberapa wisata lain yang ada di Dusun Cuntel, diharapkan bisa menjadi pasar bagi warga Cuntel menjual hasil pertaniannya, khususnya sayur segar.

“Warga Dusun Cuntel tetap bisa menjual sayur di pasar, dan juga bisa menjual sayur di rumah dengan target para wisatawan dengan harga yang berbeda,” ujarnya.

Miko mengungkapkan, untuk membangun sebuah destinasi wisata harus memiliki visi-misi yang kuat. Terlebih lagi, banyak destinasi yang memiliki kesamaan yang ia punya. Menurutnya, modal yang besar itu bukan hanya dalam bentuk uang. Namun ia memiliki prinsip hidup, bahwa hidup itu harus bermasyarakat.

“Kalau visi-misi kita cari keuntungan semata, tidak bisa, Mas. Sebab, kalau mau jualan makanan di sini pasti rugi, karena ramainya hanya Sabtu-Minggu. Sedangkan Senin sampai Jumat profitnya belum tentu ada,” ucapnya.

Baca juga:  Kreasikan Anyaman dari Batang Eceng Gondok

Menurutnya, dengan keadaan seperti itu, jika memiliki visi yang tidak kuat dan salah, maka bisa berakibat fatal, dan bisa berhenti di tengah jalan. Seperti Miko yang memiliki dua karyawan yang membantu dirinya untuk mengembangkan wisata tersebut. Karyawan yang menemani dirinya pun dari para pemuda Duusn Cuntel yang memiliki keinginan untuk bekerja. Selain itu, Miko juga memberikan edukasi terkait bagaimana cara manajemen yang baik pada karyawannya tersebut.

“Soalnya mereka kan basic-nya bukan di boga atau sering masak dan buat minum. Jadi, aku beri edukasi tentang tata boga dari awal agar meraka juga bisa bertambah wawasannya,” katanya.

Miko mengatakan, ia membangun Latar Merbabu tidak sekadar sebagai tempat wisata. Namun ada keterkaitan yang dibangun di dalamnya, baik dirinya dengan Tuhan maupun dirinya dengan masyarakat setempat. (*/aro)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya