alexametrics

Berdayakan Sesama Difabel, Terpilih Jadi Fashion Incubator

Aziz Abdullah Bajasud, Difabel Semarang yang Menggeluti Usaha Frame Kacamata Kayu

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID – Aziz Abdullah Bajasud seorang difabel. Namun ia tak menyerah dengan keadaan. Bersama teman-temannya sesama difabel, ia menggeluti usaha pembuatan frame kacamata kayu dan kerajinan tangan lainnya. Hasilnya pun luar biasa. Produknya sudah tersebar luas ke pelosok negeri ini.

Sabtu siang (23/4), Aziz Abdullah Bajasud duduk bersimpuh di depan deretan toko. Sesekali pria 42 tahun itu sibuk menata frame kacamata kayu, buatannya. Sedangkan rekannya Agus, sibuk memoles lapak gelas dari kayu supaya mengilap. Keduanya adalah penyandang difabel.

Aziz menderita cacat permanen di kakinya akibat terjatuh saat usia tiga tahun. Sedangkan Agus sudah cacat sejak lahir. Ia tak punya kedua kaki, dan tangan kirinya hanya tersisa lengan. Namun keduanya masih bersyukur bisa menikmati pekerjaannya hingga saat ini.

Aziz menggandeng sedikitnya 27 orang difabel untuk menekuni usaha produksi frame kacamata kayu dan kerajinan lainnya. Seperti membuat miniatur kontainer, miniatur ka’bah, miniatur kapal, kotak tisu, wadah pensil, lapak gelas, sendok kayu, dan lainnya. Mereka tergabung dalam Komunitas Difabel Mandiri (KDM). Saat ini, sudah ada enam outlet penjualan produk mereka.

Kepada Jawa Pos Radar Semarang, Aziz mengaku awalnya punya toko optik di Barito, Karang Tempel, Semarang Timur. Namun karena ada relokasi ke Penggaron, Pedurungan, ia lalu pindah ke Pasar Banjardowo, Genuk. Aziz menempati salah satu kios hingga saat ini.

Baca juga:  Gunakan Media Wayang Kertas, Mudah Dipahami Anak-Anak

“Saya juga punya lapak optik di Pasar Bulu. Namanya Hay Optik di lantai tiga. Kalau datang ke sana, frame-nya komplet. Memang khusus untuk display produk,” kata bapak dua anak ini saat ditemui di outlet-nya Pasar Genuk Baru, Banjardowo, Genuk, Semarang.

Kantor sekretariat KDM juga menempati salah satu kios di pasar tersebut. Sekretariat itu juga digunakan sebagai tempat produksi. Sehingga penuh dengan mesin dan bahan baku kayu.

Dikatakan, KDM memang berniat memberdayakan perekonomian para difabel. Salah satunya melalui inovasi produksi frame kacamata dari kayu. Selain unik, produk frame ini bergaransi seumur hidup.

“Produk kami ini terpilih sebagai Fashion Incubator (program pendampingan, Red) dari 100 UMKM di seluruh Indonesia. Yakni, Inkubasi UMKM-Fashion untuk produk bingkai kacamata kayu dari PT Astra Difabel Bisa. Hanya ada dua UMKM yang terpilih. Sehingga UMKM terpilih bisa memasarkan produknya di seluruh gerai Sogo di Indonesia,” ujarnya bangga.

Baca juga:  PSIS Versus Persela Digelar di Stadion Wibawa Mukti Cikarang

Aziz menjelaskan, produksi frame kacamata kayu merupakan bentuk perkembangan dunia optiknya. Awalnya, ia mendapatkan tawaran dari seniman asal Jogja. Seniman itu melukis dan membuat frame kacamata kayu. “Saya pelajari selama tiga bulan. Bolak-balik Semarang-Jogja. Jumat malam berangkat, pulangnya Senin sore,” kenangnya.

Ia mulai memproduksi sendiri sejak awal pandemi lalu. Aziz membutuhkan waktu sembilan bulan untuk melengkapi alat dan bahan produksi. Hingga saat ini, ia konsisten menghasilkan 50-100 frame kacamata kayu setiap enam hari. Ia juga menggunakan brand khusus, namanya Bj Homemade.

Uniknya, garansi frame kacamata kayu ini seumur hidup. Ketika patah, ada pelayanan perbaikan. “Misalnya jatuh atau patah silakan dibawa kesini. Bekasnya grajen saya tutup lagi pakai lem, habis itu saya poles lagi. Saya amplas, jadi kayu lagi. Kekuatannya juga masih sama,” terangnya.

Dikatakan, dalam membuat frame kacamata kayu, ia selalu menjaga kualitas produknya. Bahan baku yang digunakan adalah kayu jati dan sonokeling dari Batang. Selain dijual di toko optik anggota KDM, ia juga merambah ke penjualan secara online. Aziz juga mempromosikan produknya secara door to door.

“Saya juga beberapa kali mengikuti berbagai event pameran. Alhamdulilah, kami sudah dirangkul oleh Jasa Raharja menjadi binaannya, sehingga bisa ikut pameran di Solo dan terpilih menjadi Fashion Incubator,” katanya.

Baca juga:  Zona Hijau dan Kuning di Jateng Boleh Gelar Salat Idul Fitri Berjamaah

Harga frame kacamata kayu produksinya bervariasi tergantung kualitas. Mulai Rp 250 ribu hingga Rp 350 ribu. Sedangkan yang pakai paisen dengan lensa polaroid mencapai  Rp 350 ribu. “Kalau yang lensa polaroid itu, bagi yang hobi mancing bisa lihat ikan meski airnya keruh,” ujarnya sambil tersenyum.

Azis berharap, ke depan kaum difabel mendapatkan kesempatan luas dalam berkarya. Selain itu, perlu dukungan penuh dari para pemangku kepentingan atau pemerintah. “Yang kami inginkan bukanlah suntikan modal, namun bagaimana membantu memasarkan produk kami. Jangan membuat para difabel kerdil dengan bantuan modal. Bantulah supaya orderannya semakin banyak, sehingga usahanya akan berkembang,”harapnya.

Saat ini, Aziz mengaku masih mengikuti seleksi menjadi peserta UMKM Expo Brilianpreneur 2022. Untuk seleksi tahap pertama, yakni administrasi, dirinya sudah lolos. Sekarang ia masih menunggu seleksi tahap kedua tentang penilaian produk. “Kalau lolos, kami bisa berkesempatan tampil di event G20 di Bali, Oktober mendatang,”katanya. (cr3/aro)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya