alexametrics

Terapkan Nilai Kartini dalam Pengawalan Anggaran Pembangunan

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID – Kartini adalah sosok perempuan Jawa, cerdas, perspeksif, penuh ide gagasan cita-cita pengabdian. Futuristik melampauai zaman. Menginspirasi banyak perempuan. Itulah pandangan Kartini di mata Mayadina Rohmi Musfiroh, koordinator Fitra Jawa Tengah.

Bagi perempuan kelahiran Jepara ini, sosok  Raden Ajeng Kartini merupakan suatu fenomena di tengah budaya patriarki yang mendominasi pada masa kolonial hingga abad 20. Kartini berani mendobrak sekat-sekat yang selama ini tertutup dan didominasi oleh kaum laki-laki. Meskipun bukan satu-satunya namun Kartini menjadi sosok sentral dalam urusan kesetaraan gender.

Ia menilai, seorang Kartini bisa fenomenal karena vokal untuk menyuarakan isu perempuan. Selain itu, isi pikirannya yang tertulis dalam karya masih bisa dibaca hingga kini.

Baca juga:  Masih Optimistis Media Cetak Tetap Dibutuhkan Masyarakat

Di tengah tokoh laki-laki Indonesia yang cukup berpengaruh saat itu seperti Hos Cokroaminoto, Tan Malaka, bahkan hingga Presiden pertama Indonesia Ir Soekarno. Spirit, laku hidup dan gagasan RA Kartini mampu bersaing dan dapat menjadi tauladan bagi perempuan-perempuan di era sekarang

“Kalau bicara Sosok mengenang sebagai keluarga bangsawan meski pada akhirnya ia menyerah dengan takdirnya menjadi istri yang kesekian kalinya.,” ujarnya

Pada masa era Kartini, Indonesia sedang mengalami krisis identitas dan kegalauan terhadap modernisasi atau kemajuan. Masyarakat dipaksa untuk memilih antara bertahan terhadap nilai- nilai tradisionalisme atau berubah menuju era modern. Di saat yang sama terhimpit dengan kolonialisme yang membuat tak ada semangat pembebasan. Ada realitas agama yang membelenggu arti poligami. Tapi juga ada semangat pencerahan dan pembebasan.

Baca juga:  Melakukan Edukasi hingga Rescue Satwa Liar

Ketika menyoal tentang emansipasi. Maya-sapaan Mayadina- mengaitkannya dengan perjuangan Islam pada abad ke-7. Setidaknya ada tiga faktor yang perlu ditilik. Gagasan berpedoman pada tauhid, nilai dan spirit perjuangan perempuan. “Serta yang terakhir, Kartini mengajarkan kita untuk mengembangkan sikap ilmiah,” ujarnya.

Ia menganggap, kaum Islam perempuan saat itu telah lebih dulu menyuarakan tentang kesetaraan dan kebebasan gender. Lalu spirit dan gagasan tersebut dibawa dan diimplementasikan oleh Kartini pada masanya.

“Salah satu kutipan karya yang saya jadikan patokan adalah bisa diambil untuk pondasi tauhid. Jalan menuju Allah dan kebebasan sejati hanyalah satu. Siapa sesungguh ya yang mengabdi kepada Allah dan tidak terikat kepada manusia satu pun. Dia sebenar benarnya bebas,” katanya.

Baca juga:  Sekarang mulai Jengkel, Alur Ceritanya Bertele-tele

Emansipasi wanita dan perjuangan Kartini, ia implentasikan melalui Fitra Jateng. Sesuai misi Fitra, kedaulatan rakyat atas anggaran. Jadi bagaimana di momentum Hari Kartini ini rakyat bisa berdaulat penuh atas anggaran yang merupakan sumber daya publik. Dengan semangat kesetaraan dan kemanusiaan bagaimana anggaran ini betul-betul dimanfaatkan untuk membangun kesetaraan atas manusia. Agar setaiap rupiah dimanfaatkan untuk kemakmuaran dan kemanusiaan rakyat.

“Yang tidak kalah penting anggaran seimbang antara bangunan yang bersifat fisik dan non-fisik. Membangun sumber daya mental karakter,” tandasnya. (cr6/zal)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya