alexametrics

Aditya Ken Umara Kesuma Wati, Siswi SMAN 1 Ngluwar Magelang yang Jago Nyinden

Belajar di Sanggar dan Youtube, Hindari Gorengan dan Es

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Nyingkar-nyingkur. Wiwitane nyingkar-nyingkur. Lingsem yen kemutan. Lelampahan kang kahuri. Tresno tulus nadyan ing gubug asmoro. Ken Umara melantukan tembang “Gubug Asmoro” di gazebo SMA Negeri 1 Ngluwar, Kamis (14/4) siang. Suaranya merdu.

MENJAGA TRADISI: Ken Umara (tengah) ketika nyinden di acara Disdikbud Kabupaten Magelang. (kanan) Ken Umara saat ditemui di sekolahnya. (DOKUMEN PRIBADI/ RIRI RAHAYUNINGSIH/JAWA POS RADAR SEMARANG)
MENJAGA TRADISI: Ken Umara (tengah) ketika nyinden di acara Disdikbud Kabupaten Magelang. (kanan) Ken Umara saat ditemui di sekolahnya.
(DOKUMEN PRIBADI/ RIRI RAHAYUNINGSIH/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RIRI RAHAYUNINGSIH, Mungkid, Radar Semarang

“Keren!” ucap wartawan koran ini sembari bertepuk tangan begitu Ken Umara selesai melantunkan tembang Jawa itu. Gadis berkacamata itu pun tersipu.

Ken sudah sekitar satu tahun belajar nyinden. Awalnya, hanya diajak teman kekasih kakaknya ikut latihan di sanggar. Lama-lama keterusan. Meskipun tidak ada seniman di keluarganya, siswi kelas XI SMA Negeri 1 Ngluwar, Kabupaten Magelang ini memang memiliki ketertarikan pada seni budaya Jawa.

“Dulu juga suka ikut lomba macapat ketika SD,” ujar Ken kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Gadis berusia 17 tahun ini tertarik belajar nyinden karena ingin melestarikan budaya Jawa. Menurutnya, meskipun zaman sudah modern, generasi muda harus mau nguri-uri budaya. Orang Jawa harus njawani. “Masak kita ngandelin yang tua-tua aja?” ucap Ken.

Baca juga:  Durian Mantenan, Manisnya Terasa Lebih Legit

Lagipula, baginya menyinden itu menyenangkan. Ken juga optimistis sinden muda memiliki “nilai jual” tinggi. “Peluang sinden muda buat tampl itu besar. Soalnya jarang,” katanya.

Baru setahun belajar, Ken sudah dua kali tampil di acara Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Magelang. Pentas pertamanya, yakni ketika acara sosialisasi cukai tembakau, Desember tahun lalu. Sebelumnya, dia hanya tampil di acara sanggar.

Kali pertama tampil, Ken mengaku grogi. Jantungnya berdebar lebih kencang. “Deg-degan. Walaupun cuma ditonton dari YouTube,” kenangnya.

Penampilan di acara berikutnya juga masih sama. Namun sudah mendingan. Ken berusaha lebih rileks dengan tarik nafas, buang nafas.

“Nyinden juga, tapi nggak nyinden terus. Ada saatnya berhenti. Kadang sambil ngeliatin dalang memainkan wayang,” kata Ken.

Penampilannya di acara Disdikbud kala itu dimulai pukul 20.00 hingga 04.00 subuh. Mengiringi pentas wayang semalam suntuk. Kendati demikian, Ken mengaku tidak mengantuk. “Sudah biasa begadang,” ucapnya.

Akan tetapi, bukan berarti rasa kantuk tidak pernah menghampiri. Ken bisa mengantuk ketika jarum jam menunjukkan pukul 02.00. Hanya saja, gamelan membuat matanya kembali terbuka.

Baca juga:  Berdiri 1901, Bekas Pabrik Tertutup Pasar Ikan Hias

“Misalnya, ada gamelan digertak banter banget gitu kan bikin kaget. Nggak jadi ngantuk,” ujar Ken sambil tertawa ringan.

Sering bergelut dengan rasa kantuk, Ken tidak pernah kapok. Dia tetap bercita-cita menjadi sinden. Bahkan, sinden yang serba bisa. Saban Sabtu malam dia pun rela menghabiskan waktu di sanggar. Berlatih dan terus berlatih.

Awal latihan, Ken hanya disuruh mendengarkan. Lama-lama diberi materi lagu yang harus dipahami dan kini mulai diajari materi sindenan. “Sekarang masih belajar langgam-langgam biasa. Belum materi sinden yang benar-benar sinden,” akunya.

Beberapa lagu juga sudah bisa Ken nyanyikan. Di antaranya, lagu Gubug Asmoro, Pepeling, dan Ojo Dipleroki. Katanya, lagu-lagu ini menjadi lagu wajib yang sering diminta dalang.

Tak hanya bisa menyanyikan, Ken mengetahui beberapa makna lagu. Hal itu pula yang membuatnya senang menjadi sinden. Membawakan lagu-lagu yang memiliki pesan.

“Misalnya lagu Pepeling. Itu ngelingke orang untuk salat,” ucap Ken.

Baca juga:  Mudah Pahami Jurnal Umum dengan Alper

Selain lagu nasihat, ada juga lagu dolanan yang mengibur.

Menjadi sinden muda di zaman modern, Ken dihadapkan pada berbagai tantangan. Salah satunya, minim teman sebaya yang bisa diajak belajar bersama. Apalagi nyinden tidak sesederhana menyanyikan lagu biasa. Ada teknik tertentu, seperti cengkok. Sehingga dia harus punya inisiatif lebih. Dengan belajar mandiri dari YouTube misalnya.

Ken juga dituntut disiplin. Utamanya terkait usaha menjaga suara. Sinden tidak boleh makan es dan gorengan agar tidak batuk dan suaranya serak. Lebih-lebih menjelang waktu pentas.

“Tapi kadang aku nekat makan (gorengan dan es, Red),” ucapnya sambil tertawa ringan. “Untuk menangkal biar nggak batuk atau serak, aku makan kencur,” tambah gadis asal Desa Progowati, Kecamatan Mungkid ini.

Di samping itu, lanjut Ken, seorang sinden juga harus punya modal lain. Utamanya modal vokal dan mental. “Nggak boleh malu. Tapi aku kadang juga malu-malu karena belum bisa-bisa banget,” ujar Ken tersipu. (*/aro)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya