alexametrics

Mengunjungi Pondok Pesantren Khusus Tunarungu Wicara Abata Temanggung

Diklaim Pertama di Indonesia, Pembelajaran dengan Bahasa Verbal

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Pondok pesantren (ponpes) khusus tunarungu wicara berdiri di Temanggung. Namanya Ponpes Abata. Bahkan, Abata diklaim sebagai ponpes khusus penderita tunarungu wicara pertama di Indonesia

ANANTA ERLANGGA MUSA, Temanggung, Radar Semarang

DISHA, 12, tengah fokus menyimak materi yang disampaikan Ustadzah Nur Hasanah, Rabu (6/4) pagi. Pada hari kelima bulan Ramadan itu, ia bersama teman-temannya sesama tunarungu wicara sedang belajar tentang haid dan nifas.

Pandangan anak asal Surakarta ini tak pernah menetap. Dari melihat materi di papan tulis, lalu beralih menyimak gerak bibir dan gerak tangan (gesture) dari sang ustadzah. Begitu seterusnya, semata agar dirinya bisa memahami maksud dari apa yang disampaikan ustadzah.

Berbeda dengan suasana belajar yang selalu riuh, kelas di Pondok Pesantren Abata, sebuah pesantren khusus bagi anak-anak penyandang disabilitas tunarungu wicara ini memang tampak sunyi. Sumber suara utama hanya berasal dari ustadzah. Para santriwati memang sesekali merespon, namun lantaran tunawicara, bicaranya terbata-bata.

“Kalau biasanya mereka (tunarungu) belajar bahasa isyarat, di sini mereka diajari bahasa verbal dengan melihat gerakan bibir,” ujar Ustadzah Nur Hasanah, satu satu pengajar di Ponpes Abata.

Menurutnya, para santriwati tunarungu di Ponpes Abata ini memiliki kelebihan dalam hal sensitivitas, sehingga perlu perlakuan khusus.

“Karena tunarungu mereka jadi lebih sensitif, jadi ketika ada temannya melirik itu tahunya dia ndak suka sama dia. Jadi, karena mereka kurang dalam hal bahasa, melampiaskannya dengan geprak meja. Mereka jadi lebih sensi, kadang ada yang ngobrol yang satunya ndak diajak dikira lagi ngomongin dia,” ujarnya.

Baca juga:  Inspirasi Penelitian Disertasi Doktor dari Hobi Memancing

Ponpes Abata yang berada di Kabupaten Temanggung ini merupakan pesantren khusus bagi anak-anak perempuan penyandang disabilitas tunarungu dan tunawicara yang saat ini sudah memiliki 40 santriwati dari berbagai daerah di Indonesia.

Dalam proses belajar, para santri tersebut mengunakan bahasa verbal dan tidak menggunakan bahasa isyarat. Ponpes Abata memiliki tenaga pengajar dan staf sebanyak 21 orang. Dibangun di atas tanah seluas 856 meter persegi di kawasan Manding pada 26 Oktober 2019 lalu. Selain menggunakan bahasa verbal, ponpes juga memberikan terapi wicara atau disebut sebagai metode lips reading dan visual phoenik. “Jadi, semua materi divisualkan. Untuk itu, para guru telah diberikan training dan mengikuti seminar tenaga ketunarunguan,” katanya.

Dikatakan, ponpes ini membuat kurikulum sendiri. Para penyandang disabilitas akan melewati masa pendidikan enam tahun setingkat SD. Sejauh ini Ponpes Abata sudah meluluskan satu anak pada 2019 lalu. Pada 2020 ini dijadwalkan akan meluluskan dua anak lagi.

Terkait ujian dan ijazah yang didapat, sementara ini Ponpes Abata masih nginduk ke Sekolah Luar Biasa (SLB) Melati. Ada dua model manajemen pembelajaran, yakni konsep ponpes (asrama) yang lebih fokus pada ilmu agama, dan konsep sekolah yang berisi pelajaran sekolah pada umumnya.

Pengurus Yayasan Abata Muchlisin menjelaskan, sebelumnya sekitar dua tahun lalu ponpes ini masih berupa sanggar belajar untuk anak tunarungu dan tunawicara bernama Rumah Abata. Lokasinya di Kawasan Mungseng, Temanggung. Lalu berubah menjadi ponpes karena pihak pengelola menilai anak tunarungu wicara juga butuh ilmu tentang beribadah yang benar, dan berlatih konsisten melaksanakan jadwal ibadah.

Baca juga:  Keluh Kesah Peternak Sapi Polosiri, Kabupaten Semarang di Tengah Wabah PMK
PANTANG PENYERAH: Kegiatan pembelajaran di pondok pesantren khusus tunarungu wicara  Abata Temanggung. (kanan) Pengurus Yayasan Abata, Muchlisin. (FOTO-FOTO: ANANTA ERLANGGA MUSA / JAWA POS RADAR MAGELANG)
PANTANG PENYERAH: Kegiatan pembelajaran di pondok pesantren khusus tunarungu wicara Abata Temanggung. (kanan) Pengurus Yayasan Abata, Muchlisin. (FOTO-FOTO: ANANTA ERLANGGA MUSA / JAWA POS RADAR MAGELANG)

Ide dasar Rumah Abata semula berasal dari kegelisahan Muchlisin yang sulit mencari pendidikan untuk anak sulungnya Fadela Khadijah, 11, yang mengalami tunarungu sejak umur 3 tahun. Ketika itu, Muchlisin sempat bertemu dengan seorang mahasiswa tunarungu yang sukses, sehingga memotivasinya untuk memberikan pendidikan yang baik bagi anaknya.

Sayangnya, tidak mudah menemukan pendidikan dan terapi untuk anaknya yang ketika itu masih balita. “Jika pun ada, lokasinya jauh di Solo dan Jogja dan berbiaya mahal. Adapun SLB yang ada di Temanggung tidak diperuntukkan bagi anak balita dan sangat terbatas.” katanya.

Muchlisin pernah memberikan terapi pada anaknya di daerah Jogja selama dua tahun, dan di Solo satu tahun. Untuk terapi dan bolak-balik Temanggung – Jogja dan Temanggung – Solo membutuhkan biaya yang tidak murah.

Kegelisahan itu, mendorong Muchlisin mengajak rekan-rekannya di Komunitas Universal and Moslem Enterpreneur (U&ME) yang terdiri atas para pelaku UMKM di Temanggung untuk bergabung mendirikan Yayasan Sosial Abata, lalu membuat Rumah Abata untuk anak-anak tuna rungu wicara dari keluarga tidak mampu.

Awalnya, mereka berhasil mengumpulkan dana sebesar Rp 60 juta dari anggota yayasan. Mereka lalu menyewa rumah di Lingkungan Mungseng untuk menjadi rumah belajar dan terapi anak tunarungu. Dana itu juga digunakan untuk pengadaan alat-alat lainnya dan menggaji guru dan pendamping. Muchlisin bergerak mencari anak-anak tunarungu di Temanggung. Ia juga menyebar informasi melalui media sosial.

Baca juga:  Beraroma Nangka, Sudah Diekspor hingga ke Jerman dan Belanda

“Biaya di sini memang sejak awal konsepnya bebas biaya alias gratis. Tapi kita masih memberikan kesempatan bagi orangtua jika memiliki kelonggaran rezeki bisa memberikan kontribusinya, tapi tidak mengikat dan memaksa,” tandasnya.

Sampai saat ini, lanjut dia, pendanaan masih dari donatur, wali murid, dan unit usaha. Belum ada bantuan dari pemerintah. “Satu tahun ini kita bikin proposal untuk membangun usaha. Hasil usaha untuk membiayai operasional pesantren, gaji guru, konsumsi, listrik dan lainnya. Kami sudah memiliki tiga unit usaha,”bebernya.

Diakui Muchlisin, permintaan masyarakat untuk mendaftarkan anak-anaknya yang tunarungu ke pesantrennya sangat banyak. Bahkan, sudah ada 158 calon santri yang sudah mendaftar. Namun lantaran keterbatasan tempat dan tenaga, dirinya hanya mambatasi 40 santri saja. “Insya’Allah pada Juli nanti kita merintis yang putra di Kedu, dan sudah ada 37 calon santri,” ujarnya.

Amarkas, 40, orangtua santri asal Semarang mengaku, telah menyekolahkan putrinya, Zanuba, 10, di ponpes tersebut. Kini Zanuba terlihat lebih berkembang dan sudah memiliki kemandirian.

“Sebelum di pesantren Abata, selama tiga tahun sekolah di SLB dari usia lima tahun hingga usia taman kanak-kanam hanya bisa memakai bahasa isyarat. Sekarang sudah bisa mengucap kata-kata,” ujarnya senang. (*?aro)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya