alexametrics

Kini Rawat 24 Ekor, Biayai Makanan dan Berobat Sendiri

Mengenal Pietra Harvanto dan Yacoba Asri Dharmayanti, Pasutri Asal Muntilan Penyelamat Monyet Telantar

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID – Sejumlah monyet tampak sedang makan wortel di pekarangan belakang rumah milik pasangan suami istri  (pasutri) Pietra Harvanto dan Yacoba Asri Dharmayanti. Sejak 2018, mereka mulai memelihara monyet. Sebagian besar monyet yang dirawat merupakan monyet yang dulunya telantar.

Selasa (5/4) kemarin, wartawan Jawa Pos Radar Semarang berkunjung ke rumah Pietra dan Asri di Jalan Moh Yusuf, Pucungrejo, Muntilan, Kabupaten Magelang. Rumah tersebut dinamai Zona Satwa. Rumah bercat merah itu tampak mungil, seperti ruko. Rolling door rumah dilukis dengan gambar monyet lucu yang mereka pelihara. Namanya Malicha.

Sambil menggendong Malicha, Asri menunjukkan beberapa monyet lain yang ada di pekarangan belakang rumahnya. Total ia memelihara 24 monyet. Ibu satu anak ini mengaku awalnya tidak tertarik dengan monyet. Ketika dulu suaminya memelihara monyet, ia tidak tertarik.

Namun cerita itu berubah. Setelah dikaruniai anak pertama laki-laki, Asri mendambakan seorang anak perempuan. Hingga akhirnya terbesit keinginan untuk memelihara monyet betina. Keinginan itu muncul ketika Asri melihat unggahan bayi monyet milik temannya di media sosial (medsos). Ia pun lantas membeli bayi monyet betina berumur 3 minggu itu pada 2018.

“Awalnya karena ingin punya anak haha,” kelakar Asri.

Monyet tersebut pun lantas dinamai Malicha. Pietra dan Asri memperlakukan Malicha seperti anak sendiri. Layaknya seorang bayi, monyet tersebut juga diberi makanan manusia. Seperti susu bayi sampai dengan cokelat. “Jadi Malicha makan apa yang aku makan,” kata perempuan asli Purworejo ini.

Baca juga:  Suami Bunuh Istri di Srinindito Semarang, Ada 14 Luka Tusukan di Tubuh Korban

Saat wartawan Jawa Pos Radar Semarang datang, Malicha juga berdandan seperti manusia. Menggunakan pakaian bayi berwarna merah. Malicha cukup jinak di gendongan Asri.

Saat ini, Malicha sudah berumur 4 tahun. Monyet tersebut menjadi yang paling eksklusif karena dianggap menjadi anak Pietra dan Asri. Malicha tidak berbaur menjadi satu dengan monyet lain yang ada di pekarangan belakang rumah. Ia tinggal di rumah bersama Pietra dan Asri.

Selain Malicha, semua monyet yang dipelihara Pietra dan Asri juga diberi nama. Ada Siwon, Mas Al, Yuki, Angel, Simon dan lainnya.  Pietra dan Asri hapal betul nama setiap monyet yang dipelihara.

Diceritakan Pietra, setelah memelihara Malicha, ia dan sang istri kemudian tergerak untuk menjadi rescuer atau penyelamat monyet telantar.

“Kami tergerak karena kebanyakan orang pelihara monyet suka di awalnya saja. Akhirnya kalau nggak dijual ya dilepas liar atau disiksa,” ujar Pietra sembari menghisap rokok kretek di tangannya.

Melihat monyet yang sering ditelantarkan bahkan disiksa, mereka merasa iba. Sehingga tergerak untuk mengadopsi dan merawat.

Pria 37 tahun ini memperoleh dan mengadopsi monyet beberapa ada yang cuma-cuma alias gratis. Namun ada juga yang harus menebusnya dengan uang supaya bisa dirawat.

Baca juga:  Sejak Masuk SMA, Kantongi 14 Medali Emas dan 3 Perak

“Kalau kami beli tidak dijual lagi. Kami rawat sampai mati,” tutur Peitra.

Pria yang pernah kuliah di Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada (UGM) ini belajar untuk menyelamatkan atau me-rescue monyet secara otodidak.

Dibutuhkan skill khusus untuk menjadi rescuer monyet telantar bahkan liar. Mulai dengan pancingan makanan atau dengan monyet lain. Tak jarang monyet yang mereka adopsi dalam keadaan yang memprihatikan. Mulai dari luka-luka sampai stres karena ulah pemilik lamanya.

Pietra dan Asri pun harus merogoh kocek pribadinya untuk biaya berobat monyet yang telantar tersebut. Mengingat banyak pemilik sebelumnya yang acuh bahkan ingin membunuh monyetnya.

Pietra dan Asri pun sering dimintai bantuan oleh petugas Damkar (pemadam kebakaran) untuk menangkap monyet yang kemudian ia rawat. Tidak hanya di wilayah Magelang, namun juga pernah di Temanggung, Solo, sampai Klaten.

Saking cintanya dengan monyet dan binatang lainnya, Pietra dan Asri hanya menyisakan rumah ukuran 48 meter persegi untuk tempat tinggal. Sementara 800 meter persegi lainnya digunakan untuk tinggal para monyet dan hewan lain yang ada di pekarangan belakang rumah. Setiap hari ia juga mengeluarkan biaya secara mandiri untuk pakan monyet. Mulai dari sayuran sampai buah-buahan.

Baca juga:  Korsleting Listrik, Delapan Kios di Pasar Projo Ambarawa Ludes

Minimal ia harus mengeluarkan uang sekitar Rp 50 ribu per hari untuk pakan monyet. Ia enggan untuk meminta donasi makanan, namun jika ada yang memberi sukarela akan ia terima. Untuk mencukupi kebutuhan rumah tangga sekaligus pakan monyet, Pietra dan Asri berjualan makanan secara online.

“Pekerjaan saya dulunya ya jual beli reptil. Tapi waktu sekarang pas korona tidak memungkinkan karena pasarannya jauh. Makanya kami banting setir jual makanan,” cerita Pietra.

Ketika mendapat uang dari jualan makanan, diprioritaskan untuk kebutuhan anak laki-lakinya serta hewan peliharaan, termasuk monyet.

“Yang penting anak bisa makan, terus hewan juga kenyang. Kalau kami berdua gampang nanti,” tegasnya.

Terus bertambahnya monyet yang mereka rawat, membuat Pietra dan Asri mulai berpikir untuk melepaskannya ke alam liar. Namun melepas monyet di alam liar tidak mudah. Monyet harus berkoloni. Paling tidak dalam satu koloni ada sekitar 20 monyet.

Jika monyet dilepas sendirian di wilayah koloni, kemungkinan akan mati dibunuh oleh koloni monyet lain. Sehingga saat ini Pietra dan Asri lebih memilih menampung monyet di rumahnya duhulu. Belum ada yang dilepaskan ke alam liar. (man/aro)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya