alexametrics

Terkenang, Kali Pertama Terpampang di Koran Jawa Pos Radar Semarang

Syahrul Qirom, Pengurus PKB Kota Semarang Pembaca Setia Jawa Pos Radar Semarang

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Semarang – Kesetiaan Syahrul Qirom membaca Jawa Pos Radar Semarang menurun dari orang tuanya. Bahkan kini menurun ke anak dan istrinya. Meski media online semakin meruyak membanjiri laman dunia maya dengan beragam informasi.

Tahun 2000 Syahrul Qirom mulai berlangganan Jawa Pos Radar Semarang. Awal-awal masih membeli koran di traffic light alias bangjo. Namun, saat sudah ada loper koran di sekitar rumahnya, kemudian ia memilih berlangganan. “Waktu itu sebulan masih Rp 30.000,” katanya saat ditemui di tokonya di Jalan Kauman nomor 40 Kota Semarang.

Meski berlangganan beberapa koran lain, media Jawa Pos Radar Semarang menjadi yang utama baginya. Sebelum membaca yang lain, Jawa Pos Radar Semarang dulu yang ia baca sebelum beraktivitas setiap harinya. Tepatnya tiap bakda subuh.

Namun, terkadang loper koran datang telat, bahkan pernah sampai pukul 07.00. Hal ini tak jadi soal juga. Ia tetap setia menunggu dan bergegas mengeksplor informasi di koran ini begitu sampai di rumahnya. “Saya merasa kalau koran Jawa Pos Radar Semarang belum datang ada yang kurang gitu,” ujarnya berkelakar.

Baca juga:  Di Dusun Langensari Mijen Ada Durian Dondong Berusia 180 tahun dan Durian Roti 130 tahun

Mengapa suka Jawa Pos Radar Semarang? Syahrul mengaku berita yang diulas lebih aktual. Perkembangan bahasanya makin tajam, lebih update, dan lebih beda dari yang lain.

Di saat koran yang lain tidak terbit di hari libur, Jawa Pos Radar Semarang tetap memberikan informasi. “Ini yang saya suka, jadi tidak mengubah rutinitas saya membaca koran saban pagi,” tutur Wakil Ketua Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Kota Semarang ini.

Sebagai politikus, Syahrul paling senang membaca halaman utama yang kerap mengulas tentang politik. Update informasi sangat penting dalam menunjang karirnya. “Misalnya ada informasi penundaan pemilu, ini kan penting. Saya ikuti supaya update. Bukan lewat televisi, tapi perlu membaca koran agar pengetahuan dan informasinya lebih detail,” kata suami Nunung Syahrul ini.

Baca juga:  16 Kecamatan di Kendal Rawan Bencana, Ini Daftarnya

Pun, ketika ia masih menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Semarang. Sebagai Sekretaris Komisi B bidang perekonomian, ia banyak meng-update informasi terkait ekonomi, supaya bisa menindaklanjutinya dalam menelurkan regulasi atau mendorong kebijakan pemerintah.

Makanya ia sangat mengapresiasi Jawa Pos Radar Semarang yang berani mengkritik dan menguliti kebijakan pemerintah. Salah satunya melalui liputan khusus atau cover story. “Berita-beritanya itu berani mengkritik pemerintah, bagus itu. Narasumbernya banyak. Jadi sangat beragam. Memberikan banyak sudut pandang,” kata pria 48 tahun ini.

Selain itu, Syahrul juga sangat menyukai rubrik olahraga. Sayangnya, rubrik ini tak lagi khusus satu halaman seperti dulu. Apalagi di rubrik ini ia memiliki pengalaman yang mengesankan. Ketika tahun 2009, kali pertama dirinya masuk media di Jawa Pos Radar Semarang. Saat itu, ia menjadi narasumber sebagai pengurus PSIS.

Baca juga:  Tiga Pelajar SMK Jadi Tersangka Kasus Pengeroyokan di Balai Desa Pasuruhan Magelang

“Waktu itu ditampilkan setengah halaman. Ya senang, dan terkenang. Saya mengabadikan koran itu karena baru kali pertama masuk media. Setelahnya baru disusul media-media lain,” imbuhnya.

Hobinya ini, diakui menurun dari sang ayah. Namun tak berhenti pada dirinya, kebiasaan membaca juga diikuti oleh anak dan istrinya. “Anak saya yang pertama kuliah di Undip selalu baca koran setelah saya. Kalau istri saya kadang-kadang,” katanya.

Mengenai pergeseran ke dunia digital, Syahrul tidak terpengaruh. Sebagai pembaca setia, ia tetap senang membaca lewat media cetak ketimbang online maupun elektronik. Ia berpesan, di usia ke-22 tahun ini, Jawa Pos Radar Semarang tetap menjadi media yang unggul, berimbang, aktual, dan beda. (ifa/ida)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya