alexametrics

Hasil Jualan Koran Bisa Buat Ibadah Haji

Imam Ashari-Kustini, Topas Agency Kalibanteng, Semarang

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID – Imam Ashari-Kustini adalah suami istri pemilik agen koran Jawa Pos Radar Semarang Topas Agency. Agen koran ini berada di Jalan Pamularsih Raya, Kalibanteng, Semarang.

Topas Agency beroperasi sejak 1994 atau sudah 28 tahun. Berawal menjual beberapa eksemplar hingga menjadi agen yang cukup dipandang. Membutuhkan waktu tiga tahun, mulai merintis hingga mendapatkan keagenan dari berbagai media cetak. Secara bertahap di tahun 1997 bisa menjadi agen Jawa Pos dan sejumlah media cetak lainnya. Sejak berdiri, Topas Agency sudah empat kali pindah lapak karena penertiban. Namun masih di kawasan Kalibanteng.

“Dulu kalau ada orang membawa dan membaca koran dianggap sebagai orang elit dan berpendidikan. Berbeda dengan saat ini justru koran dianggap jadul dan kuno,” kata Kustini Ashari kepada Jawa Pos Radar Semarang saat ditemui di kediamannya Perumahan Beringin Asri Tengah III Ngaliyan, Semarang.

Baca juga:  Waspada Lur! Begini Modus Pelaku Gendam yang Tipu Warga Candisari Semarang

Dikatakan, agen koran ini yang merintis suaminya, Imam Ashari. Tapi sejak 2017, akhirnya dipegang karena suami sudah tidak mengurus agen. Baginya, itu sebagai upaya untuk memberikan kebutuhan informasi masyarakat. Setidaknya ada 30 sub agen dan pengecer yang mengambil koran di agen Topas. “Sayang juga kalau berhenti, apalagi sudah dirintis lama,” akunya.

Imam Ashari mengakui, saat menjadi agen ingin memberikan informasi kepada publik. Sebab, saat itu koran menjadi satu-satunya sumber informasi. Ia memilih menjadi agen eceran karena perputaran uang lebih cepat. ”Satu hari bisa melayani anak-anak kulakan, pengecer, sub agen, sampai agen kecil. Saat itu juga dapat uang,” katanya.

Hery Topas – begitu sapaan akrabnya- mengaku tidak mulus menjalani agen koran. Berhadapan dengan agen-agen besar yang mendominasi pasar. Bahkan, ia dianggap kompetitor baru dan sempat mendapatkan diskriminasi. “Namun berkat kegigihan dan kerja keras, Agen Topas menjadi salah satu agen yang dipandang dan dapat diterima,” ujarnya.

Baca juga:  Warga Terdampak Jalan Tol Semarang-Demak Dapat Ganti Untung Miliaran, Beli Kapling dan Bangun Rumah

Selama 28 tahun menjadi agen koran tentu ia paham betul dinamika perjalanan mengenai media cetak. Dulu orang yang membawa dan membaca koran dianggap orang elite dan berpendidikan. Saat itu, ia masih ingat betul banyak anak-anak sekolah memadati lapaknya. Anak-anak SMA Kesatrian dan Setia Budi banyak yang datang ke kios untuk membeli koran, majalah, hingga tabloid. Berbeda dengan saat ini justru koran dianggap jadul dan kuno. “Itulah pergeseran paradigma. Semua berubah semenjak ada media online dan medsos,” tambahnya.

Hery Topas masih ingat, agen media cetak dulu sangat jaya. Rata-rata hidupnya menengah ke atas. Hasil penjualan koran bisa untuk menyekolahkan anak sampai perguruan tinggi. Bahkan bisa menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci.

Baca juga:  Bejat! Aksi Predator Anak di Demak Bikin Geram

Namun pandemi membuat usahanya terdampak. Jumlah penjualan oplah dan sub agen menurun. Pandemi hanya mampu menjual kurang dari 500 eksemplar per hari. “Tapi belakangan sudah mulai naik hingga 900 eksemplar karena ada sub agen baru,”  tambah Kustini.

Agar tetap eksis, selalu ada reward bagi sub agen yang disiplin, sudah lama, dan pembayaran bagus. Biasanya diperhitungkan ketika pembagian THR. Hal itu sebagai penyemangat agar semua bisa berjalan dan berkembang terus. “Kuncinya memang harus sabar, konsisten agar bisa terus bertahan,” ucapnya.

Hary mengaku akan terus memberikan informasi kepada masyarakat. Dengan menyuguhkan berbagai media cetak, penerbit, agen, sub agen, hingga ke pengecer. Ia yakin koran masih dibutuhkan masyarakat sebagai parameter kebenaran informasi. “Saya yakin media cetak ini akan terus eksis. Kalau punah sumber kredibilitas berita dan organisasi tersebut hilang,”  tegasnya. (cr3/fth)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya