alexametrics

Warga Semarang Kembangkan Batik Warna Alami, Lebih Ramah Lingkungan, Jadi Langganan Desainer Kanada

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID – Hampir lima tahun Batik Warna Alam si Putri berdiri dan berevolusi. Kini produk yang mengusung fashion berkelanjutan ramah lingkungan itu telah melanglang buana di mancanegara. Bahkan jadi langganan pemilik butik sekaligus desainer fashion asal Kanada.

Putri Merdekawati telah menyukai batik sejak kecil saat tinggal di Jogjakarta. Mulai dari buyut, nenek, hingga ibunya warga Jogja asli pecinta batik. Ia biasa menyaksikan proses produksi batik hingga jadi bahan siap pakai.

Perjalanan selama kuliah ia menemukan banyak praktik industri batik yang limbahnya mencemari sungai. Tak hanya itu, bahan kimia yang dihirup saat pewarnaan juga diduga mengganggu kesehatan bayi di rumah kala itu.

Suatu saat Putri membantu teman pembatik warna alam untuk menjual produknya. Ia tak menyangka bila fashion seperti ini diminati pasar. Hal itu tak lain didukung tren global yang mendorong semua industri berubah lebih ramah lingkungan lantaran krisis iklim yang kian memburuk.

Hingga akhirnya ia semakin yakin dan memutuskan untuk terjun ke dunia fashion batik dengan konsep alami atau ramah lingkungan. Riset demi riset dilakukan. Sampai saat ini brand-nya masih terus berinovasi baik dalam batik maupun desain.

Baca juga:  Libatkan para Difabel, Pelanggannya Sampai Lombok

“Sebelum ada pewarna kimia kan para pembatik pakai pewarna alami. Nah saya ingin mengajak agar kita kembali ke konsep awal batik,” ungkapnya saat ditemui Jawa Pos Radar Semarang di galeri batiknya di Patemon, Gunungpati, Semarang.

Pengalaman masa mudanya mengantarkan Putri pada kecintaan lingkungan. Ia mendalami isu tersebut dan memulai aksi kecil dari diri sendiri. Dalam praktik usaha pun ia memegang prinsip 3P, yakni people, profit,  dan planet.

Ia sadar betul limbah fashion menjadi penyumbang sampah terbesar ketiga di dunia. Berangkat dari situlah ia ingin mengajak banyak orang melestarikan budaya batik, sekaligus mencintai lingkungan. Konsep yang diusung memang memberi nilai plus bagi penggunanya. Memakai pakaian tak perlu merusak lingkungan.

“Makanya kami pakai tagline, fashion with values. Jadi, orang yang pakai itu bangga, baju yang dipakai tidak merugikan orang lain dan lingkungan,” tegas Putri.

Baca juga:  Kreativitas Tanpa Batas di KBAF

Bahan yang digunakan untuk pencetak motif seperti daun kenikir, jati, pepaya, cepokak, dan lainnya. Sedangkan untuk pewarna alami seperti kayu mahoni, secang, jolawe, teger, dan ketapang.

Metode batik ecoprint dibagi dua, yakni ponding atau mencetak kerangka daun dengan memukul daun di atas kain untuk mengeluarkan warnanya. Lalu steaming dengan merebus kain ke dalam pewarna dari daun jati atau lainnya.

Lebih lanjut dikatakan, dari segi desain produk fashion-nya, ia bekerja sama dengan desainer asal Bandung, Jakarta, dan Semarang. Untuk pengerjaan dilakukan oleh penjahit yang digandengnya. Meski begitu, konsep awal desain banyak yang ia usung sendiri.

“Saya sengaja membuat produk kami didesain timeless dan seasonless. Jadi, busana ini bisa awet dan bisa dipakai kapan pun sampai lama,” ujarnya.

Alumnus Teknik Pertanian UNS ini mengakui, batik warna alam lebih sulit diproduksi. Pasalnya, ia harus mencelup dan mengeringkan kain minimal lima kali untuk menghasilkan warna maksimal. Lalu untuk fiksasi atau penguncian menggunakan air tawas.

Baca juga:  Kenakan Batik Setiap Jumat Kliwon

Tanaman dengan jumlah takaran yang sama pun belum tentu menghasilkan warna yang sama. Karena tumbuhan memiliki faktor geografis dan usia. Lalu cuaca yang tak menentu juga menjadi tantangan baginya saat produksi.

Melalui media sosial dan marketplace online, produknya telah laku di pasar global. Mulai dari Singapura, Kanada, Dubai, dan lainnya. Salah satu pelanggannya desainer fashion asal Kanada merupakan pecinta lingkungan dan ikut mengusung konsep sustainabe fashion. Secara daring ia menyaksikan produksi di workshop-nya. Desainer itu tak ragu memesan ulang setelah 10 item kiriman pertama tiba.

Sedangkan dalam negeri, ia dibanjiri pesanan partai besar dari institusi pemerintah, kampus, dan perusahaan. “Kemarin dari Mendagri ada 500 pesenan,” kata Putri.

Ke depan, ia akan terus mengembangkan brand lokal miliknya ke pasar global yang lebih luas. Lalu dapat berkolaborasi dengan lebih banyak partner bisnis. Serta melipatgandakan pelanggan setia dari yang telah ada sekarang. (taf/aro)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya