alexametrics

Dua Siswi SMA Negeri 1 Sukorejo Juara Lomba Menulis Essay Arsitektur Tingkat Nasional

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID – Meraih prestasi tingkat nasional menjadi pengalaman tak terlupakan bagi Cahaya Daniella Queenimas dan Farida Al Dina. Dua siswi SMA Negeri 1 Sukorejo, Kendal ini berhasil bersaing dengan peserta dari berbagai sekolah di Indonesia di ajang Lomba Menulis Essay Arsitektur (LMEA).

SMA Negeri 1 Sukorejo patut berbangga. Sebab, dua siswinya berhasil menciptakan inovasi baru dalam bidang arsitektur. Cahaya Daniella Queenimas meraih juara 1 dengan inovasi berupa Bojai Polass atau Bola Ajaib Pondasi Alas Ashcrete. Sedangkan Farida Al Dina meraih juara 2 dengan essay berjudul Pemanfaatan Bambu Petung sebagai Tulangan Konstruksi Bangunan dalam ajang serupa.

Kedua siswi tersebut rupanya baru kali pertama mengikuti perlombaan essay arsitektur tingkat nasional. Dengan persiapan yang minim, awalnya Cahaya dan Farida tidak yakin bisa memborong juara.

“Awalnya dikasih tahu sama guru. Terus saya minat ikut. Kebetulan saya suka gambar. Dan lomba ini juga terkait arsitek. Jadi, saya mencoba dulu daftar dan bikin desain,” ungkap Cahaya kepada Jawa Pos Radar Semarang, Selasa (8/3).

Baca juga:  Frandi Charisma, Angkat Kembali Tembakau Temanggung ke Pasaran

Cahaya menceritakan, proses pembuatan karyanya mengalami banyak kesulitan. Terutama ide yang akan dijadikan inovasi untuk dilombakan. Dia juga tak sekali dua kali dalam mencari ide. Alhasil, Cahaya pun melihat pengalaman keluarga dan kerabatnya yang pernah menjadi korban bencana. Dari sana, ide kreatifnya muncul, sehingga menghasilkan karya yang inovatif.

“Jadi Bojai Polass ini adalah bangunan rumah yang meminimalkan bencana, seperti gempa. Ini gabungan dari struktur rumah tahan gempa. Yaitu, rumah dom dan barataga. Dan inovasi saya ini juga dikombinasikan dengan panel surya. Bahan untuk struktur bangunannya juga ramah lingkungan karena pakai beton ashcrete,” terang gadis yang bercita-cita menjadi arsitek ini.

Ke depannya, Cahaya berniat meneruskan inovasinya itu. Bahkan pengalaman berharganya di ajang LMEA ini menjadi pemacu semangatnya untuk terus berkarya. “Nantinya kalau kuliah saya mau masuk jurusan arsitek. Lomba ini menjadi bekal awal saya ke depannya,” bebernya.

Baca juga:  Domisili KK Tak Update, Gagal Daftar di SMPN

Sementara itu, Farida Al Dina melihat peluang bagus saat mengetahui harga besi di pasaran mahal. Dia menjadikan hal tersebut sebagai ide inovatif dalam LMEA. Melalui karyanya, Farida ingin masyarakat yang akan membuat rumah bisa meminimalkan biaya pembangunan. Yakni, dengan pemanfaatan bambu petung sebagai cagak (pilar) rumah.

“Biasanya kan kalau orang-orang buat cagak rumah itu dari besi terus dicor. Nah ini penyangga buat cagak yang di samping-samping mengelilingi itu bisa memakai bambu petung. Selain menambah nilai guna bambu, juga untuk meminimalkan biaya pembangunan. Ini juga kokoh, awet, dan bisa digunakan seumur bangunan itu,” jelas siswi kelas 11 ini.

Rencananya, Farida akan menyosialisasikan ide kreatifnya ini ke masyarakat. Sehingga inovasinya bisa diterapkan untuk pembuatan bangunan.

Di sisi lain, Lilik Retno Willianti, guru pembimbing lomba menjelaskan, ajang LMEA ini merupakan perlombaan individu. Pihaknya juga tidak menyangka jika kedua siswinya berhasil memborong juara.

Baca juga:  Manfaatkan Limbah Cobek untuk Kerajinan Batu

Lantaran persiapan yang dilakukan hanya sekitar empat bulan sejak Desember 2021. Pihaknya juga baru kali pertama membimbing siswa dalam perlombaan arsitektur. Selain itu, pesaing lainnya juga menyajikan ide kreatif dan inovatif dalam perlombaan.

“Pengumuman pemenang itu pas Sabtu (5/3/2022) lalu. Anak-anak melakukan presentasi dengan karya masing-masing. Dan ini di luar dugaan bisa juara. Karena biasanya saya membimbing KIR Kimia. Tapi ini tentang arsitektur bangunan,” ujar guru berusia 45 tahun ini.

Lebih lanjut Lilik menceritakan, ide dan inovasi yang dilombakan murni dari siswa. Bahkan pihaknya hanya membimbing dari segi tata tulisnya, serta mengarahkan siswa terkait literatur untuk mendukung essay yang dilombakan.

“Semoga bisa lanjut dan ikut ajang Kopsi (Kompetisi Penelitian Siswa Indonesia). Dan siswa bisa berani mencoba terjun di dunia ilmiah,” harapnya. (dev/aro)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya