alexametrics

Dua Mahasiswi UIN Walisongo Raih The Best Group di KTT Istanbul Turki

Usung Proyek HolisticEdu, Bahas Hubungan Guru, Murid, dan Orang Tua

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Meraih prestasi tingkat internasional menjadi pengalaman tak terlupakan bagi Azzah Liddiana dan Cholifatul Ummah. Keduanya berhasil bersaing dengan peserta dari berbagai negara di Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Istanbul Youth Summit 2022 di Istanbul, Turki, belum lama ini.

IDA FADILAH, RadarSemarang.Id

RASA bangga menyelimuti dua mahasiswi UIN Walisongo, Azzah Liddiana dan Cholifatul Ummah. Keduanya berhasil meraih The Best Group di KTT Istanbul Youth Summit (IYS) 2022 yang berlangsung 14-17 Februari 2022 lalu. Saat ini, Azzah tercatat sebagai mahasiswi Manajemen Dakwah angkatan 2018. Sedangkan Cholifatul adalah mahasiswi Hukum Ekonomi Syariah angkatan 2019. Bagi keduanya, menjadi delegasi UIN Walisongo dalam acara sebesar ini merupakan penghargaan yang luar biasa. Terlebih dapat terpilih menjadi The Best Group.

“Masya Allah rasanya luar biasa. Untuk sampai di sini memang harus melalui proses yang panjang dan tidak terlepas dari campur tangan banyak pihak. Tapi, jangan pernah patah semangat dan teruslah berusaha mewujudkan impian,” kata Azzah kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Ia menjelaskan, KTT tersebut diselenggarakan oleh Yayasan Youth Break The Boundaries (YBB). Yayasan ini aktif mendorong semangat dan bakat pemuda pemimpin masa depan. KTT tersebut dihadiri pemuda dari berbagai negara, seperti Indonesia, Malaysia, Pakistan, dan Palestina. Kompetisi KTT mengusung tema “Respon Rancangan Pembangunan Pemuda dalam Pemulihan Krisis”. Bersama timnya, Azzah dan Cholifa menyodorkan karya dengan project HolisticEdu. Proyek ini bergerak di bidang pendidikan yang memfokuskan pada hubungan antara guru, murid, dan orang tua.

Baca juga:  Mahasiswa IKIP Veteran Sukses Budidaya Sawo Raksasa, Pasarkan Buah ke Thailand, Malaysia, dan India

Azzah menyebutkan, prestasi tersebut didapatkan secara tidak mudah. Mereka perlu persiapan selama berbulan-bulan yang menguras pikiran, waktu, dan tenaga. Namun semua terbayarkan dengan hasil yang mereka dapatkan.

Cholifa menambahkan, dalam pengerjaannya, mereka selalu meeting setiap tiga kali dalam seminggu. Meeting dilakukan melalui virtual, karena mereka tinggal di daerah yang berbeda. Hal ini dilakukan untuk mempersiapkan segala hal agar dapat menyampaikan secara maksimal ketika presentasi di Istanbul.

Pembahasan dimulai dari proyek apa yang akan dilakukan? Bagaimana proyek tersebut akan berjalan? Adakah dampaknya? Dan lain sebagainya. Pada awalnya, mereka mengalami kesulitan untuk menentukan proyek apa yang pas. Tentunya proyek yang berdampak, dibutuhkan, dan memberikan kebermanfaatan. Setelah research sana-sini dan mempertimbangkan banyak hal, akhirnya mereka memutuskan membuat proyek HolisticEdu. “Proyek ini bergerak di bidang pendidikan dan menghubungkan antara guru, murid, dan orang tua siswa,” jelasnya

Baca juga:  Punya 50 Outlet, Omzet Ratusan Juta Rupiah

Dikatakan, dua minggu sebelum keberangkatan, mereka lebih intens melakukan rapat secara virtual setiap malam untuk latihan presentasi dan evaluasi. “Saat sebelum presentasi di Istanbul, kami evaluasi lagi dan lagi,” kata Cholifa.

Sebelum bertanding, mereka lebih dulu mengirim esai dengan topik peran pemuda menghadapi krisis pandemi Covid-19. Juga mengirim video alasan mengikuti kegiatan tersebut dengan berbahasa Inggris yang kemudian di-upload di YouTube, dan short esai untuk caption di foto yang diposting di feed Instagram.

Satu bulan setelahnya, baru mendapatkan pengumuman lolos dalam program tersebut. Dua bulan sebelum keberangkatan ke Turki, mereka para finalis dibagi menjadi beberapa kelompok sesuai dengan sub tema yang dipilih. Sub tema yang disediakan, di antaranya education, economic, mental health, public health, dan public policy.

Bagi Azzah, kompetisi dalam skala internasional di luar negeri baru kali pertama diikuti. Biasanya, ia mengikuti kompetisi di lingkup universitas, kota, maupun provinsi.

Baca juga:  Aris Berjiwa Sosial Tinggi, Suriatna Akrab dengan Tetangga

Sedangkan bagi Cholifa, sebelumnya sudah pernah mengikuti konferensi simulasi PBB, International Model United Nations (IMUN) di Thailand pada 2018. Di tahun yang sama, ia mengikuti pertukaran pelajar di Mesir selama kurang lebih satu bulan.

Ketika itu, ia diperkenalkan konferensi internasional oleh ustadnya. Ia diberi pengetahuan seberapa pentingnya manfaat mengikuti event internasional. Kali pertama ia dikenalkan dengan International Model United Nations, salah satu konferensi internasional yang di dalamnya ada simulasi seperti di PBB. “Setiap orang akan mewakili suatu negara. Kemudian memberikan jawaban atas masalah yang diberikan dan disampaikan oleh negara sepersekutuannya,” jelasnya.

Selanjutnya, ia mengikuti pertukaran pelajaar di Mesir, salah satu program dari sekolah. Dalam kegiatan ini, MAPK Surakarta bekerja sama dengan Ma’had Muallim Quran Mesir. Di sana, ia belajar Bahasa Arab, belajar agama Islam, serta seni Alquran.

Prestasi yang diraih keduanya itu tentu saja membuat bangga orang tua masing-masing, teman, serta nama universitas. Sebab, kompetisi tersebut berskala internasional, yang tentu saja menjadi branding yang baik bagi UIN Walisongo. (*/aro)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya