alexametrics

Buat Kostum Sendiri, Pernah dapat Hadiah 14 Hari ke Jepang

Gerard Jason Anthony dan Gilbert Jovan Anthony, Si Kembar yang Menekuni Dunia Cosplay

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID – Berawal dari hobi dan kesukaannya pada budaya Jepang, si kembar Gerard Jason Anthony dan Gilbert Jovan Anthony kini menekuni dunia cosplay. Dari hobinya itu, berbagai penghargaan diraih, baik tingkat kota, nasional, hingga internasional.

Sudah delapan tahun, Gerard Jason Anthony dan Gilbert Jovan Anthony menggeluti bidang cosplay. Awalnya, mereka hanya iseng datang ke sebuah event jejepangan atas ajakan kakak kelasnya. Dari sanalah timbul keinginan untuk mencoba terjun ke dunia seni peran dengan memakai kostum tokoh game Jepang.

Gilbert –sapaan akrab Gilbert Jovan Anthony menjelaskan, awal terjun di dunia cosplay cukup banyak yang perlu diperhatikan, mulai dari pendalaman karakter, ekspresi, power, hingga ritme gerakan. Keduanya mempelajari seni peran secara otodidak melalui kanal Youtube, melihat teman cosplayer lain, dan juga pengalaman mengikuti lomba.

“Karena cosplay termasuk seni pertunjukan, sehingga cakupannya luas. Ada yang memasukkan  dance, martial art , seni panggung, bahkan sulap. Jadi, banyak yang harus dipelajari,” katanya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Berbagai macam penghargaan telah diraih tim Genesis Twins cosplay ini, baik dari mulai tingkat kota, nasional, hingga menjadi perwakilan dari Indonesia untuk lomba di Jepang melalui ajang Ennichisai 2019. Yang terbaru, mereka menjuarai lomba dan menjadi perwakilan Indonesia dalam lomba cosplay di Seoul, Korea. Saat ini, si kembar ini tengah disibukan dengan persiapan mereka mengikuti ajang  tersebut.

Baca juga:  Ambili Ulat di Tempat Tetangga, Kini Jadi Destinasi Wisata

“Sekarang kami sedang mempersiapkan kostum untuk lomba cosplay Gyeonggi International Cosplay Festival atau GICOF 2022 di Seoul, Korea. Kami menjadi wakil Indonesia,” katanya bangga.

Ia mengaku, tidak menyangka bisa mengikuti lomba tersebut. Mereka melakukannya didasari oleh hobi. Jika menghasilkan, itu dianggap bonus saja.

“Sebelumnya, kami pernah juara dengan hadiah uang sebesar Rp 10 juta. Selain itu, pernah juga mendapat hadiah pergi ke Jepang selama 14 hari dan bertemu para cosplayer dari seluruh dunia. Itu hadiah paling besar yang pernah kami terima,” ujarnya.

Diakuinya, tidak ada kesulitan untuk membagi waktu dalam hal pekerjaan dan hobi. Sebab, tak hanya sebagai cosplayer, Gerard dan Gilbert juga melebarkan hobinya sebagai pembuat kostum. “Karena hobi dan pekerjaan kami berkaitan, jadi tidak sulit untuk membagi waktu, yang ada malah semakin menikmati,” akunya.

Baca juga:  Hobi Menulis Sejak Kecil, Mahasiswa UIN Walisongo Ini Ketagihan Bikin Novel

Kostum favorit dari lulusan SMK Terang Bangsa Semarang ini adalah Yoshimitsu dan Nightmare berasal dari game Soul Calibur 6. Mereka mengungkapkan bahwa kostum itulah yang membawa mereka terbang ke Jepang pada 2019 silam.

Gilbert mengaku pernah punya pengalaman lucu ketika datang ke sebuah event perlombaan cosplay. Saat itu, ia mengenakan kostum Cell dari Dragon Ball.  Nah, karena make up yang dipakai tebal ditambah costumenya yang berat, membuat dirinya gerah dan pengap. “Tapi saya tetep enjoy sih,” katanya sembari tertawa

Hal senada dirasakan sang kakak, Gerard. Saat itu, Gerard mengenakan  kostum Wiliam Birkin dari Resident Evil 2. Ia harus menyesuaikan proporsinya yang besar, sehingga susah bergerak ketika memakainya.

Saat ini, kurang Gilbert mengaku memiliki lebih dari 16 kostum. Semuanya dibuat sendiri. Selain membuat kostum sendiri, si kemabr juga menawarkan jasanya dalam pembuatan kostum ke teman-teman yang lain. Satu kostum full set dibandrol dengan harga Rp 1,5 juta sampai Rp 5 juta tergantung kerumitan, detail kostum, dan bahan – bahan yang dipakai.

Baca juga:  Terpikat Dunia Cosplay

Menurut Gilbert, ada dua orang yang sangat menginspirasi dirinya dalam menekuni hobinya ini.

Kalo untuk perform itu, Anggoro Dwi Nuggroho, salah satu cosplayer Semarang. Dia memasukkan unsur beladiri wushu dalam setiap penampilannya. Kalo untuk pembuatan kostum, saya terinspirasi John Switch atau biasa dipanggil Mas Bima dari Jogja. Dia salah satu perwakilan Indonesia di ajang World Cosplay Summit 2015. Pembuatan kostumnya sangat keren dan pewarnaanya sangat realistis,” pujinya.

Pemuda 21 tahun ini merasa bersyukur memiliki orang tua yang selalu mendukung dengan apa yang dilakukan anaknya. “Sangat– sangat mendukung hobi yang kami jalani, bahkan saat kami mengikuti lomba besar di Indonesia, mereka turut hadir dan membantu persiapan kita dari babak penyisihan, final, hingga kami lolos menjadi perwakilan Indonesia,” ujarnya bangga

Duo kembar ini berharap, pandemi segera berlalu, sehingga event – event perlombaan cosplay kembali ramai. Keduanya akan terus berkarya di dunia cosplay, dan mengembangkan bisnis pembuatan kostum yang lebih besar lagi. (cr6/aro)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya