alexametrics

Warga Tinjomoyo Sulap Sampah Jadi Emas

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID – Hari Peduli Sampah Nasional diperingati setiap tanggal 21 Februari. Saat ini, tak sedikit kelompok masyarakat yang memanfaatkan sampah menjadi produk yang bernilai jual. Ada juga yang menyulap sampah menjadi emas.

Mengumpulkan sampah bukan hanya bermanfaat untuk menjaga kebersihan dan kesehatan. Tapi, bisa menjadi pundi-pundi rupiah. Bahkan, bisa ditukarkan menjadi emas maupun biaya umrah. Ini yang dilakukan sejumlah bank sampah yang dikelola warga di Kota Semarang. Salah satunya Bank Sampah Ngudi Lestari di Kelurahan Tinjomoyo, Kecamatan Banyumanik.

Bank sampah ini melibatkan warga di delapan RW di kelurahan tersebut. Karena pengelolaannya dinilai baik, bank sampah ini dilirik Pegadaian Cabang Banyumanik. Tepatnya, pada Februari 2019, Bank Sampah Ngudi Lestari digandeng Pegadaian. Pihak Pegadaian melalui program clean and gold, menawarkan program sampah jadi emas.

Sejak itu, warga Kelurahan Tinjomoyo berbondong-bondong menjual sampahnya ke Bank Sampah Ngudi Lestari. Bank sampah ini dikelola 12 kader. Sedangkan nasabahnya didominasi warga RW 3, 7, dan 8. Jumlahnya sekitar 314 orang. Namun saat pandemi menurun menjadi 217 orang.

Ketua Bank Sampah Ngudi Lestari Umi Nasiah mengatakan, dari jumlah nasabah tersebut sudah terkumpul 130 gram emas. Rata-rata satu nasabah memiliki tabungan emas satu gram emas batangan. Untuk harganya, Umi mengikuti harga dari Pegadaian.

Sementara untuk pengambilannya, bisa dalam bentuk emas batangan ataupun uang tunai. “Kalau emas minimal satu gram. Tapi sampai sekarang belum ada yang mengambil,” jelasnya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Umi menjelaskan, sampah besi dan kertas dari warga akan dibeli, kemudian uangnya ditabung untuk ditukar emas dari Pegadaian. Untuk sampah besi dihargai Rp 5 ribu per kg, kertas buram Rp 1.500 per kg, kertas putih Rp 2.800 per kg, dan buku Rp 1.800 per kg. Sedangkan botol plastik yang bersih dan tidak ada merek atau disebut bodong dibeli dengan harga Rp 3 ribu per kg.

Baca juga:  Pegang Teguh Nasihat Gus Dur, Bela Kaum Minoritas

“Kalau sampah campur Rp 1.300 per kg. Tidak semua nasabah langsung memilah dari rumah, karena ada yang bingung barang ini masuk kategori apa. Jadi, ini tugas dari kader,” jelasnya.

Di sini, juga menerima minyak bekas atau jlantah. Satu kg dihargai Rp 6 ribu. Hasilnya, jlantah tersebut kemudian dibuat lilin.

Adapun pengumpulan sampah ini dilakukan setiap hari Minggu pada pekan ke dua dan empat. Semakin banyak sampah yang dijual semakin baik. Rata-rata nasabah menjual sampah 15 kg. Dalam satu kali pengumpulan, bisa mendapatkan 1,5 ton sampah.

Sampah-sampah tersebut kemudian dijual ke pengepul. Selanjutnya dari pengepul langsung disetorkan ke Pegadaian untuk menjadi tabungan emas. Untuk meminimalkan kekeliruan, pihaknya mencatat di dua buku. Ada yang dipegang nasabah disebut tabungan bank sampah, dan dipegang pengurus disebut tabungan emas.

Hebatnya, Bank Sampah Ngudi Lestari ini sudah mendapatkan sertifikat. Pada 2020 masuk dalam lima besar Bank Sampah Terbaik se-Indonesia binaan Pegadaian. Bahkan, Bank Sampah Ngudi Lestari pernah mendapatkan penghargaan piala adipura. Tak hanya itu saja, saking baiknya pengelolaannya, Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi mempercayakan pesanan kursi di Bank Sampah Ngudi Lestari.

Umi mengungkapkan, dengan adanya tabungan emas ini, para dari nasabah sangat senang. Karena sebelum ada kegiatan bank sampah, selama ini mereka jual ke tukang rosok keliling dan langsung dapat uang tunai.

Gak terasa uang tunainya hanya habis dibelanjakan. Gak temonjo. Kalau sekarang ditabungkan bisa dapat uang emas,” jelasnya.

Di sisi lain, bank sampah di sini juga diberdayakan untuk kerajinan. Mulai dari pot bunga, ecobrick, kursi, dan lain sebagainya. Mereka memasarkan karya ini ke pasar online. Keuntungannya, digunakan untuk pemeliharaan infrastruktur, seperti alat pres plastik, hingga memberikan honor bagi sopir motor Viar.

Baca juga:  Selokan Sepanjang Jalan Barito Penuh Sampah dan Lumpur

Ke depan, ia berharap bank sampah ini semakin melebarkan sayap tidak hanya meliputi di Kelurahan Tinjomoyo. Lebih banyak lagi supaya income-nya juga lebih banyak. Meski beberapa nasabah dari luar sudah bergabung, yakni SMA Karangturi, gereja terdekat, dan SMA Negeri 14 Semarang. Di sisi lain, nasabah ini juga dapat meningkatkan perekonomian meski berkat sampah.

 

Petugas Rapel.id memilah sampah di gudang Rapel Semarang. (Istimewa)

Layani Angkut Sampah lewat Aplikasi

Starup Rapel.id telah melayani pengangkutan sampah di Semarang sejak Januari 2021. Aplikasi jual beli sampah ini memiliki ratusan pengguna atau klien. Pegawai dan mitra kolektor yang bekerja di dalamnya juga terus bertambah. Sebanyak 93,6 ton sampah dikelola sepanjang 2021.

Chief Commercial Officer Fitri Rizki Amalia menyampaikan, ada dua macam pelayanan angkut sampah. Pertama untuk pengguna individu atau rumah tangga. Kedua untuk pengusaha atau instansi. Saat ini sebanyak 75 coffeshop telah bekerjasama dengannya. Lalu beberapa instansi pemerintahan.

“Kalau rumah sakit ada Elizabeth, Permata Medika, dan sekitar 15 puskesmas di Semarang,” terangnya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Di samping itu, ia membantu masyarakat mendirikan sekitar enam bank sampah. Paling besar Bank Sampah Pesona Bahari di Tambak Lorok Semarang. Warga satu RW yang terdiri atas 9 RT itu mampu mengumpulkan 2 ton pilahan sampah rumah tangga dalam satu bulan. Jumlah tersebut dihargai sekitar Rp 4 juta.

Dijelaskan, untuk pengangkutan sampah pilahan dari rumah tangga atau individu, pengguna dapat memanggil kolektor. Yakni, dengan mengunggah foto sampah yang ingin dijual melalui aplikasi, lalu kolektor akan menjemput ke lokasi.

Baca juga:  Kecamatan Banyumanik Jaga Tradisi Leluhur Tetap Eksis

Sedangkan untuk klien pengusaha atau instansi pihaknya menerima paling tidak lima kilogram untuk minimal pengangkutan. Kemudian ia juga menerima semua jenis sampah. Mulai dari logam, plastik, kaca, kertas, minyak jelantah, dan lainnya.“Jelantah kami serahkan untuk diolah jadi biodiesel,” katanya.

Hal ini menjadi nilai plus startup tersebut ketimbang pengelola lainnya. Kerja samanya dengan para pelaku usaha pun terbilang sukses. Sekitar 95 persen tawaran kerja sama diterima. Hal ini membuktikan adanya kesadaran dari pihak pelaku usaha maupun instansi pemerintahan.

Selain itu, pihaknya saat ini memiliki sekitar enam mitra kolektor yang aktif menjemput sampah para klien di berbagai sudut Kota Semarang. Sedangkan belasan lainnya mengangkut di waktu luang.

“Ini juga bagian dari visi misi kami untuk mengatasi masalah sosial ekonomi. Jadi, bukan mengangkut sampah saja, ada edukasi dan juga peluang penyerapan tenaga kerja,” imbuhnya.

Untuk edukasi, pihaknya biasanya berkolaborasi dengan komunitas untuk melakukan live Instagram atau berpartisipasi dalam acara tertentu. Ia melihat tren positif soal kesadaran anak muda terhadap isu lingkungan.

“Sekarang orang mau ngumpulin dan ngirim ke kami aja udah keren, meski kadang belum bersih, dilepas label mereknya, dan diremas botolnya plastiknya,” ujarnya.

Namun tantangan tiap individu untuk mengubah mindset masih cukup besar. Pihaknya telah berupaya membuat aplikasi, melakukan jemput bola ke lokasi pemilik sampah. Tinggal memupuk kesadaran baik dari individu maupun pelaku usaha.

Ia menargetkan tahun ini akan semakin banyak masyarakat yang berpartisipasi dalam pemilahan sampah. Lalu tonase yang diangkut bertambah banyak dan tenaga kerja yang terserap pun demikian. Sehingga Rapel.id mampu memberi dampah positif terhadap lingkungan maupun perekonomian. (ifa/taf/aro)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya