alexametrics

Manto, Montir Dokar di Kabupaten Magelang yang Masih Bertahan

Pelanggannya Datang dari Magelang, Temanggung, dan Jogja

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Di era modern, dokar atau andong masih menjadi transportasi alternatif. Apalagi di kawasan wisata. Praktis, bengkel dokar pun masih dibutuhkan. Salah satu montir dokar yang masih eksis hingga kini adalah Manto, warga Desa Gulon, Salam, Kabupaten Magelang.

LUQMAN SULISTIYAWAN, Magelang, Radar Semarang

SUDAH LANGKA: Manto memperbaiki roda dokar rusak yang dibawa ke bengkelnya.(LUQMAN SULISTIYAWAN/JAWA POS RADAR SEMARANG)
SUDAH LANGKA: Manto memperbaiki roda dokar rusak yang dibawa ke bengkelnya.(LUQMAN SULISTIYAWAN/JAWA POS RADAR SEMARANG)

DOKAR warna dasar biru dengan roda warna kuning itu terparkir di halaman rumah Manto. Dokar tersebut milik pelanggannya yang sedang mengalami kerusakan.

“Dokar ini milik warga Grabag, Magelang. Kalau ini yang rusak bagian depan, sama roda,” kata Manto sembari menunjuk dokar tersebut.

Sejak dulu, bengkel milik Manto menjadi jujugan para pemilik dokar jika rusak. Pria kelahiran 1957 ini mulai membuka bengkel dokar saat usianya masih 21 tahun. Awalnya, Manto adalah seorang kusir dokar. Ia sering memperbaiki dokar miliknya ketika rusak. Hingga akhirnya keterusan menjadi montir dokar, dan membuka bengkel secara mandiri.

Baca juga:  Ada Empat Situs Kuno, Terkubur di Lantai Masjid

Manto belajar memperbaiki dokar secara otodidak. Namun karena garapannya dinilai bagus, banyak teman sesama kusir yang meminta bantuan Manto untuk memperbaiki dokar.

“Awalnya, dulu saya menjadi kusir dokar. Saat roda mengalami kerusakan, saya bongkar sendiri. Tapi sama bapak nggak boleh, saya tetap nekat,” cerita bapak satu anak ini kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Kenang Manto, saat itu ia harus berhenti menjadi seorang kusir. Karena saking banyaknya dokar yang masuk ke bengkelnya. Semuanya dikerjakan sendiri. Sesekali dibantu oleh sang istri. Terutama saat memasang roda dokar.

Di era kejayaan dokar, banyak bengkel dokar di wilayah Magelang. Namun bengkel milik Manto tidak pernah sepi. Pria berperawakan kurus ini mementingkan kualitas meski dengan tarif murah.

Baca juga:  Pandemi Covid-19, Orderan dari Luar Jawa Justru Meningkat

“Meski dulu banyak saingannya, tetap lancar. Karena terus terang ambil untung sedikit saja. Biar bisa berjalan semuanya,” kata Manto sembari menghisap rokok kretek di tangannya.

Kini, meski jumlah dokar tidak banyak, namun Manto tetap mempertahankan bengkelnya. Alasannya, karena ia ingin melestarikan profesi langka tersebut. Warga yang datang untuk memperbaiki dokar pun tidak menentu. Namun, karena bengkel dokar hanya tinggal hitungan jari, warga dari luar kota pun kerap datang ke rumahnya. Biasanya dari wilayah Temanggung dan Jogjakarta.

Pelanggan dari Magelang pun masih ada. Kebanyakan dari sekitar Blabak maupun Borobudur. Karena jumlah dokar yang diperbaiki tidak lagi banyak, di waktu selanya Manto pergi ke ladang untuk memperoleh pemasukan dari hasil bertani.

Baca juga:  Melakukan Edukasi hingga Rescue Satwa Liar

Dokar yang dibawa ke bengkelnya biasanya mengalami kerusakan di bagian bodi atau roda. “Kadang ada yang rusak komplet,” tutur Manto.

Tarifnya pun tergantung kerusakan pada dokar. Di samping itu juga disesuaikan dengan bahan kayu yang digunakan. “Biaya bengkel tergantung kerusakan. Kalau membuat roda, Rp 3 juta yang besar, dan yang kecil Rp 2 juta. Itu kalau bahannya dari saya,” jelas Manto.

Manto selalu yakin bengkel dokar masih akan memberikannya rezeki. Meski jumlahnya tidak sebanyak dulu, namun ia syukuri. Di Kabupaten Magelang sendiri, sekarang yang terbanyak dokar wisata di kawasan wisata Candi Borobudur. “Kalau rezeki itu datang nggak boleh ditolak,” tutup Manto. (*/aro)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya