alexametrics

Dihukum 10 Tahun, Izinkan Suami Nikah Lagi

Kasih Sayang Tak Hilang meski Pasangan di Penjara

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID – Kasih sayang tak hanya diungkapkan saat momen hari valentine, 14 Februari. Tapi, memberikan kasih sayang bisa dilakukan kapan saja. Terlebih kasih sayang istri terhadap suami atau sebaliknya. Lalu, bagaimana jika salah satu pasangan tengah tersandung kasus hukum dan harus mendekam di sel penjara?

Keri tampak berkaca-kaca saat melakukan video call dengan suaminya. Video call dilakukan di salah satu ruang di Lapas Perempuan Semarang. Wartawan Jawa Pos Radar Semarang yang duduk mendampingi Keri ikut terharu.

Ya, Keri adalah salah satu narapidana penghuni penjara yang dikenal dengan nama Lapas Wanita Bulu Semarang itu. Ia harus menjalani hukuman 10 tahun penjara karena terlibat kasus kredit fiktif. Praktis, selama di penjara, wanita 41 tahun ini tak bisa berkumpul dengan keluarganya, termasuk suaminya.

Keri sendiri sudah mengizinkan jika suaminya menikah lagi. Hal ini dilakukan karena ia menyadari dirinya tak bisa melayani sang suami.

“Hukuman saya lama, 10 tahun, makanya saya suruh suami jajan dan nikah lagi. Saya serius,” katanya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Bagi Keri, dirinya sakit hati tak apa asalkan suaminya bisa bahagia. “Saya sudah membuat kesalahan hingga di penjara. Bikin malu keluarga. Biarlah suami saya menikah lagi atau jajan nggak apa-apa, saya ikhlas,” ucapnya sambil terisak.

Namun Keri termasuk istri beruntung. Karena sejauh ini suaminya tak mau melakukan perintahnya. Sang suami masih setia menanti sampai Keri keluar dari hotel prodeo. “Suami saya bilang, mau menikah lagi kalau calonnya yang mencarikan saya. Lha saya di penjara, bagaimana cara mencarikannya,” katanya.

Keri menyadari, hasrat seksual setiap pria dewasa tidak bisa dihindari. Apalagi bagi yang sudah menjalani kehidupan rumah tangga. Oleh karena posisinya saat ini sangat tidak memungkinkan untuk memenuhi kewajibannya sebagai seorang istri, ia pun berpikir demikian. “Tahu sendiri, seorang pria kebanyakan gitu kan, jajan atau nikah lagi. Tapi Alhamdulillah dia gak mau,” ujar Keri bersyukur.

Baca juga:  Masuk ke Sistem Pemerintahan untuk Majukan Dunia Olahraga

Usia pernikahan yang sudah menginjak 20 tahun tentu bukan waktu yang sebentar. Mereka sudah merasakan lika-liku rumah tangga. Sudah kenyang makan asam garam. Tapi, kesetiaan membuktikan. Ia tetap menunggu sampai pujaan hati kembali ke pelukannya.

Saat ditanya wartawan Jawa Pos Radar Semarang melalui layanan kunjungan online atau video call, suami Keri dengan tegas menjawab tidak akan sedikitpun berpaling. Ia tak mau mengkhianati istri tercintanya. “Buat apa, wong saya punya istri walaupun di sana,” katanya sambil menangis. Ia mengambil tisu mengusap air mata dan ingusnya.

Masih sesenggukan, ia mengaku sangat menyayangi sang istri. Apapun kondisinya. “Gak mau, kan saya sangat sayang. Kasian mbak istri saya,” ucapnya lagi.

Kekuatan cinta yang besar membuatnya mampu melewati ujian berat. Selain karena cinta, anak menjadi gandolan ati mereka mempertahankan rumah tangga. “Anak-anak sudah gede, apa kata tetangga nanti. Jadi, saya tetap menunggu sampai dia bebas, semoga cepat pulang,” harapnya.

Padahal dari keluarga Keri maupun suaminya legowo jika ia mau menikah lagi. Namun ia keukeuh mempertahankan rumah tangganya. Selain itu, ia menegaskan jika menikah lagi takut dosa. Bukan takut sama siapa-siapa, tapi dengan takut Yang Kuasa.

Saat di rumah, ia hanya bisa melihat kenangan saat bersama. Baik di album foto maupun di galeri handphone. “Nginget-nginget saat berdua. Sama sekali gak pikiran begituan, sampai kapan pun saya tungguin. Saya kalau sudah satu ya sudah Mbak, gak bakal kemana. Gak bakal saya tinggalin walaupun keadaanya seperti ini,” katanya.

Baca juga:  Karyawan Masuk Lebih dari 50 Persen, Dua Perusahaan Disegel

Kendati di balik jeruji besi, Keri selalu menyempatkan waktu untuk menghubungi keluarga. Ia memanfaatkan fasilitas telepon wartel. Syukur-syukur bisa melalui kunjungan online berupa video call. Ia tak pernah absen menanyakan kabar seluruh anggota keluarganya, terutama suami dan anak. Namun sesekali ibu tiga anak ini juga minta dikirim uang untuk hidup di penjara.

Kesetiaan suami istri juga ditunjukkan Dian Oktariana. Narapidana kasus narkoba ini sudah hampir selesai menjalani masa pidana. Sejak 2015, ia menjadi warga binaan pemasyarakatan Lapas Wanita Bulu. Rencananya, pada Mei 2022 mendatang, dia akan bebas.

Soal hubungan dengan suami selama dirinya dipenjara, Dian mengatakan semuanya baik. Setidaknya dalam seminggu sekali mereka melakukan komunikasi. Kadang lewat telepon atau video call. Hal utama yang ia tanyakan kondisi tiga anaknya.

Memang di awal-awal dirinya ketangkap, suaminya shock. Namun semakin lama, suaminya menyadari kondisi Dian. Ia senang, seluruh komunikasi dengan anak-anaknya, sang suami memfasilitasinya. Artinya, keluarga kecilnya tetap dalam keadaan baik.

Meski tak seromantis Keri, atau rumah tangga lain namun keduanya terus memegang komitmen untuk terus bersama. “Saya bertahan karena anak-anak, saya bertahan karena Tuhan saya. Jadi itulah yang saya pegang,” kata Dian.

Apapun keadaannya, lanjutnya, sehancur apapun rumah tangganya tidak akan berpisah dengan suami. Komitmen itu yang ia pegang. Dian percaya, bagaimanapun dan sebesar apapun masalahnya ia dan suami bisa menyelesaikannya.

Masalah kepercayaan terhadap suami, Dian hanya bisa menyerahkan ke Tuhan. Ia menghindari hal-hal yang sekiranya bakal menyakiti hatinya. Kendati demikian, ia tetap menaruh curiga. Hanya saja, ia tak mau over-thinking supaya tidak melukai diri sendiri. Terlebih kondisinya di penjara tidak bisa ngapa-ngapain.

“Saya gak mau ketika telepon tanya-tanya, kamu ke mana, sama siapa. Karena kalau seperti itu akan melukai diri saya sendiri. Dia selingkuh pun tidak akan sampai menikah karena kita pegang komitmen itu. Jadi, saya serahkan dan berdoa Tuhan pasti jaga suami saya,” tutur Dian.

Baca juga:  Calon Teroris Dilatih Tempur hingga Merakit Bom di Bandungan

Tetap Setia meski Suami Dua Kali Dipenjara

Kasih sayang tak luntur meski pasangan mendekam di penjara juga ditunjukkan Siti, 34, (nama samaran), warga Tambakrejo, Gayamsari, Semarang. Ia tetap setia menanti saat sang suami, Dedi, 44, (nama samaran) mendekam di Lapas Kedungpane, Semarang. Keduanya sudah menikah selama 13 tahun, dan dikaruniai empat anak.

Menurut Siti, prinsip dalam melaksanakan perkawinan dengan suaminya adalah ingin bahagia, dan mendapat perlindungan. Sedangkan kepada anak-anaknya, Siti memberi pengertian jika ayahnya di penjara bukan karena dihukum, namun bekerja.

“Suami saya dipenjara karena kasus perjudian. Sebelum ini, dulu dia juga pernah dipenjara karena kasus yang sama. Jadi, sudah dua kali masuk penjara,” katanya.

Selama suami di penjara, Siti bekerja serabutan menjadi juru masak. Ia juga dibantu oleh keluarganya di Jakarta.

Diakui, ia pernah jengkel dengan ulah suaminya. Bahkan, berniat bercerai, serta mencoba bunuh diri.  Namun dirinya selalu teringat pesan orang tua, kasihan anak-anak yang masih kecil jika ditinggal oleh orang tuanya. “Saya memikirkan masa depan anak-anak, sehingga saya tidak jadi bunuh diri,” kenangnya.

Sebagai seorang ibu, Siti mendidik anak-anaknya supaya memiliki mental yang kuat dengan memberikan pengertian jangan seperti ayahnya, dan jangan membenci ayahnya, serta biarkan saja orang lain berkata apa.

Meski seburuk apapun kelakuan suaminya, ia tetap setia. Kasih sayangnya pada suami tidak luntur. Selama di penjara pun, ia kerap membezuknya. Ia berharap, ke depan suaminya akan berubah, menjadi kepala keluarga yang baik, dan menjadi teladan bagi anak-anaknya. (ifa/fgr/aro)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya