alexametrics

Ruang Tidak Kreatif Kalongan Ungaran, Banting Setir dari Musik ke Production House

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID – Menjadi content creator yang menghasilkan produk kreatif tengah digandrumi banyak orang. Tak hanya kalangan milenial, generasi 1970-an pun saat ini memberanikan diri mengepakkan sayap di dunia hiburan. Salah satunya Ruang Tidak Kreatif Kalongan Ungaran. Production house (PH) ini lahir sejak 2007. Pendirinya, Bancax Soekiman, 46. Ia banting stir ke PH lantaran tidak ada perkembangan di dunia musik yang digeluti sebelumnya.

“Di dunia musik gitu-gitu aja. Sebelum covid, saya sudah pindah haluan. Jadi, saya pindah ke PH bukan karena covid. Tapi karena dunia musik tidak ada kemajuan dan tidak ada yang dijagain,”ceritanya sambil ketawa kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Sebelumnya, Bancax seorang pemain musik. Pemasukan yang harus terus ada membuatnya membanting setir ke dunia content creator. Ia yang hanya lulusan SMA terus fokus mengeluti bisnis dunia hiburanini. Tentu tidak mudah baginya beradaptasi dengan alat pengambil gambar ini. Semua serba otodidak. Tidak sekolah, apalagi kursus. Membutuhkan banyak biaya jika memang harus belajar di jurusan broadcasting.

“Tetangga saya ada yang pintar menggunakan kamera. Suka main aja gitu minta belajar. Mumpung gratis,”ucapnya saat ditemui di kantor Ruang Tidak Kreatif di Perumahan Villa Delia Kalongan, Ungaran Timur.

Baca juga:  Jaga Mata Air, Tanam Pohon, dan Bangun Water Brotherhood

Mulai dari membuat film pendek hingga tawaran membuatkan video klip X-Boomerang. Bancax pernah membawa pulang juara satu kompetisi festival film pendek tentang AIDS yang berdurasi satu menit.

Ia mengaku, saat itu ia berhasil mengalahkan 10 tim kreatif lainnya. Soal biaya pembuatan film maupun video klip, Bancax tidak mematok. Sesuai dengan pesanan. Mulai Rp 500 juta hingga miliaran. Semua tergantung dari biaya produksinya berapa hari, kebutuhan talent, konsumsi, tempat, hingga menyewakan kebutuhan produksi.

Ia tertarik di dunia film, karena banyak kompetisi yang digelar. “Meskipun hadiahnya tidak seberapa. Tapi dari situ ketemu rumah produksi yang lain yang ada di Jawa Tengah, bisa saling sharing. Dari situ jembatan penghasilan bisa didapat dari kenalan,” lanjut bapak dua anak ini.

Baca juga:  Anandya Putri Vebalita, Mengajar, Nyanyi, dan Content Creator

Bancax mengatakan, di musim penghujan ini memang sepi job. Sebab, konsep yang mau dilakukan di luar ruangan tidak bisa dilakukan. Tidak bisa dipungkiri, pesanan video klip memang banyak permintaan di tempat wisata maupun taman. Soal hak cipta, Bancax mengatakan tidak mempersoalkan. Ia saat ini hanya menerima produk yang sudah dipesan. Sehingga ketika selesai produksi sudah menjadi hak milik kliennya.

“Dari awal sudah harus paham. Soal hak cipta itu memang sulit. Sehingga tidak menjadi halangan,”katanya.

Hingga saat ini dunia hiburan terutama Youtube memang tidak ada matinya. Hanya memang pemilihan konten menjadi titik fokus yang harus dipahami oleh para content creator. (ria/aro)

Baca juga:  Bangunan Atas Mirip Batu Nisan agar selalu Ingat Akhirat

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya