alexametrics

Modal Utama Content Creator, Ide Harus Up to Date dan Upgrade

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID – Bila bertanya pada anak-anak zaman now, mungkin kita tidak akan menemukan profesi umum seperti ingin menjadi dokter, guru, pilot, dan lainnya. Profesi umum yang sering kita dengar dari anak generasi 90-an ini sudah sering ditemui sekarang. Bagi generasi milenial, profesi yang menjanjikan sekarang justru menjadi content creator.

Dimas Ari Perdana adalah generasi zaman now asal Kota Semarang yang dikenal sebagai content creator. Mengusung nama Sela_Good, ia sudah banyak membuat konten kreatif yang menggunakan bahasa campuran Indonesia-Jawa supaya lebih familiar.

Dimas mengaku menjadi content creator sejak adanya media sosial Instagram. Tepatnya saat awal mula ia membentuk kelompok band pada 2007. “Awalnya bikin video klip lagu, sampai membuat marketnya sendiri,” katanya.

“Kalau dibilang content creator itu kan sekarang luas. Tapi, sekarang lebih dikerucutkan sebagai orang yang membuat sebuah video, baik itu iklan, film pendek dan lain-lain,” sambungnya.

Ia menjadi content creator juga terinspirasi dari tuntutan yang diawali dari karirnya sebagai vokalis band. Berjalannya waktu, ia pun merambah menjadi presenter, host, MC dan announcer.

“Jadi di situlah mulai ada tuntutan pekerjaan untuk membuat sebuah konten. Baik itu konten harian. Karena kita penyiar, dituntut untuk selalu kreatif dan inovatif dalam setiap siaran,” katanya.

Baca juga:  Jatuh Cinta pada Tenis Meja, Bergabung di Klub Vegas dan Simpang Lima

Dimas membeberkan cara membuat konten. Setiap content creator akan beda. Beda orang, beda alat, juga beda branding.

“Kalau yang daily, yang fun cukup pakai handphone saja. Editing pun saya lewat handphone. Saya juga ada platform YouTube di sela good TV, dikerjakan oleh tim profesional. Jadi, tergantung kebutuhan klien. Pengin seperti apa? Kalau di Instagram kita bisa memakai handphone dan sebagainya. Kalau misalnya di cinematic, kita bisa memakai kamera profesional,” bebernya.

Sedangkan bahan yang perlu disiapkan, Dimas menjawab pastinya yang paling utama adalah ide. Ide harus selalu up to date dan upgrade. Ini yang harus selalu dimiliki oleh seorang content creator.

“Kebanyakan saya membuat konten yang fun, yang targetnya bagaimana caranya produk dari klien bisa dikenal oleh masyarakat lewat karakter content creator itu sendiri. Kalau saya lebih fun dengan gaya Semarangan banget pakai logat Jawa,” ujarnya.

Terkait durasi waktu membuat konten yang ideal, Dimas menjelaskan kalau yang dulunya riil antara 15 sampai 30 detik. Sedangkan sekarang bisa sampai satu menit.

“Pastinya idealnya 59 detik untuk bisa membuat video konten,” katanya.

Konten yang dibuat Dimas sampai sekarang ini sudah mencapai ratusan. Bahkan kalau dihitung sejak 2007 sudah mencapai ribuan konten.

Baca juga:  Reydha Pulpy Mayo, Terinspirasi Najwa Shihab

“Saya sudah lama bergelut di  bidang cinematography, bikin iklan. Karena dulu anak teater, tuntutannya untuk membuat iklan secara parodi. Sempat ikut lomba film pendek. Jadi, kalau ditotal ya mungkin sudah ribuan,” akunya.

Tema konten yang dibuat Dimas biasanya permasalahan di masyarakat. Sehingga tuntutan sekarang adalah bagaimana membuat konten yang fun, yang brillian dan punya ide menarik serta punya first impression yang tinggi.

“Dalam arti, first impression yang tinggi adalah bagaimana ketika orang melihat lima detik atau 10 detik pertama itu orang akan langsung kepo, dan melihat sampai dengan selesai. Seperti itu,” katanya.

Diakui, kendala utama dalam membuat setiap konten lebih banyak ke pencarian ide. Sehingga dirinya harus menemukan ide seinovatif mungkin. Terlebih di era sekarang, banyak ide-ide yang dimiliki oleh setiap content creator. Meski demikian, hal itu balik lagi ke personal branding-nya.

“Bagaimana karakter si content creator itu sendiri yang mungkin lebih ke konten food blogger atau beauty atau otomotif. Jadi, banyak sih. Kalau bisa dibilang, sekarang lahan content creator itu luas,” ujarnya.

Baca juga:  Saniatun Choiriyah, Presenter Berita Bahasa Jawa

Pandemi, Content Creator Jadi Tumpuan

Hampir 15 tahun menjadi content creator, kini Dimas Ari Perdana mampu mengumpulkan pundi-pundi rupiah. Ia bersyukur, karya kreatif yang dibuatnya sudah banyak menghasilkan cuan.

Menurutnya, sejak lima sampai tujuh tahun terakhir, ia fokus untuk membuat konten konten profesional.

“Saya sudah berjalan dengan brand rokok besar dan perusahaan provider. Bisa dibilang unicorn,” ujarnya.

Vokalis band Srempet Gudal ini mengatakan, tarif konten yang ditawarkan mulai Rp 1 juta sampai puluhan juta rupiah. Konten tersebut ditampilkan di media sosial Instagram, TikTok, dan YouTube.

“Jadi, tergantung paketannya. Kalau puluhan juta mungkin kita akan mengawal campaign dari perusahaan tersebut selama satu bulan. Setiap harinya, selalu ada postingan. Seminggu mungkin tiga sampai lima kali konten yang saya tayangkan. Itu terkait dengan konten pribadi dan konten yang berhubungan dengan klien,” katanya.

Diakui, selama pandemi Covid-19, content creator menjadi tumpuan hidupnya. Sebab, profesi lainnya yang digeluti nyaris semua vakum.

“Hanya ini (content creator) yang bisa dipertahankan di masa pandemi. Banyak perusahaan-perusahaan yang bingung juga untuk mencari market di luar sana. Sehingga membutuhkan influenzer untuk menyebarluaskan berita seputar produk terbaru yang dilaunching,” ujarnya. (mha/aro)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya