alexametrics

Sukses Lakukan Rekayasa Genetika, Kebun Anggur Mbah Soka di Sekaran Jadi Rujukan

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID – Mbah Soka Sesat, begitulah sapaan akrab pria paro baya ini. Dia dikenal sebagai petani spesialis buah anggur. Mbah Soka adalah pemilik sekaligus pengelola kebun anggur di Sekaran, Gunungpati, tak jauh dari kampus Universitas Negeri Semarang (Unnes). Kebunnya itu banyak menjadi rujukan petani luar kota. Seperti apa?

Kebun seluas 1,5 hektare itu penuh tanaman anggur. Tanaman itu menjalar di tiang-tiang bambu. Di sejumlah titik juga terdapat bangku kayu sebagai tempat bersantai. Ya, awalnya kebun itu juga menjadi kafe. Cukup ramai pengunjungnya. Terutama kalangan anak muda.

Namun pemilik kebun, Mbah Soka, memilih menutup kafenya. Ia tidak siap menerima animo masyarakat yang tinggi. Umumnya, mereka penasaran terhadap tanaman anggur. Namun pengunjung kafe justru tanpa sengaja merusak buah yang ditanamnya. Mereka iseng memetik buah anggur dari tangkainya. Dan, saat dicicipi, ternyata rasanya asem.

“Saya tidak ingin memunculkan paradigma bahwa anggur itu rasanya asem, padahal ya salah dari pengunjung yang asal petik. Anggur itu hanya bisa dipetik per tangkai agar kualitasnya baik. Jika dipetik per buah, kualitas anggur jadi menurun, dan rasa anggur akan asem,” ungkap Mbah Soka kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Setelah kafe ditutup, Mbah Soka pun fokus mengembangkan buah anggur. Ia mengaku ingin mengembangkan anggur mangrove di Indonesia. Menurutnya, Indonesia memiliki potensi alam yang sangat besar dan melimpah, namun tidak dikelola dengan baik. Yang membuatnya prihatin, negara agraris ini masih mengimpor buah-buahan dari negara lain. Padahal hasil buah-buahan di Indonesia tak kalah baik jika penanganannya tepat.

Baca juga:  Populerkan Wisata Semarang melalui Goresan Cat Air

Ia juga menyayangkan penggunaan bahan kimia sebagai pupuk dari buah-buahan yang beredar di pasaran. Ia sendiri lebih mengutamakan penggunaan pupuk dari limbah rumah tangga. Seperti sisa sayuran, buah busuk, air cucian beras, hingga urine kelinci yang kemudian dikombinasikan dengan mikrobakteri.

Pupuk yang kemudian diberi nama VOC ini pengolahannya membutuhkan waktu kurang lebih dua minggu. Namun memiliki kualitas lebih baik dari pupuk impor sekalipun.

Berkat pupuk alami itu, anggur yang dikelolanya memiliki nilai ekonomis yang tinggi. Bahkan sebelun dipanen, biasanya anggur-anggur di kebun yang dikelola Mbah Soka sudah dipesan. Harganya bisa tembus Rp 150 ribu per kg. Padahal harga anggur di pasaran rata-rata sekitar Rp 60 ribu per kg.

Baca juga:  Bikin Alat Bantu Perawat, Aisyah Afnan Raih Silver Young Inventors Challenge 2021

Selain membudidayakan buah anggur, setiap Sabtu pagi, Mbah Soka juga menggelar kelas pelatihan tentang budidaya anggur yang diberi nama Soka Akademik. Peserta pelatihan kurang lebih 30 orang. Saat ini, Mbah Soka memiliki enam pekerja yang turut membantunya merawat kebun anggur tersebut.

Tak hanya itu, Mbah Soka juga membentuk Komunitas Pecinta Anggur Semarang (Kompas). Ia mencoba mengubah varian anggur yang jelek menjadi kualitas yang bagus lewat rekayasa genetika. Mbah Soka sendiri tidak memiliki latar belakang pendidikan pertanian. Ia hanya pernah mengikuti pelatihan, lalu belajar secara otodidak.

“Saya bukan siapa-siapa. Saya hanya orang biasa yang tertarik dengan buah anggur, kemudian jatuh cinta. Hasil dari kebun ini setidaknya lebih dari cukup untuk menghidupi saya, istri, dan kelima anak saya,” ungkap Mbah Soka

Baca juga:  Doa Online Serentak Unnes Pecahkan Rekor

Di kebunnya, setiap hari ada saja tamu yang datang sekadar ingin nongkrong atau belajar membudidayakan buah anggur.  Bahkan, ada tamu dari Vietnam yang ia kenal dari Facebook. Saat koran ini di kebun anggur Mbah Soka, kebetulan ada tamu anggota DPRD Jawa Barat Hj Tina Wiryawati. Tina bersama timnya sengaja mengunjungi lokasi ini karena ingin melihat pengembangan UMKM lewat budidaya anggur.

“Ini adalah kesempatan kita untuk bisa membangun kebun-kebun buah, khususnya anggur sebagai UMKM. Bila perlu kita hijaukan tanah Indonesia dengan kebun buah supaya tidak ada lagi penduduk kita yang bekerja di perusahaan-perusahaan asing,” tutur Hj Tina.

Mbah Soka mengaku akan terus merawat kebun buanya karena akan memberikan manfaat kepada banyak orang . “Kita sudah disiapkan 85 persen bekal dari Allah SWT. Mulai kondisi alam yang baik, bibit, iklim, dan lainnya. Sisanya kita yang berusaha, kurang enak apa lagi coba? Buah akan terus tumbuh meski saya sudah mati,” ujar Mbah Soka bijak. (mg1/aro)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya