alexametrics

Pegang Teguh Nasihat Gus Dur, Bela Kaum Minoritas

Dewi Kartika Maharani Praswida, Anggota Aktif Gusdurian Jawa Tengah

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID – Foto Dewi Kartika Maharani Praswida saat bersalaman dengan Paus Fransiskus di Vatikan pada pertengahan 2019 sempat menjadi perbincangan dan viral di berbagai media. Muslimah berhijab ini tampak berbincang ramah dengan pemimpin tertinggi umat Katolik. Pertemuan yang menunjukkan toleransi dan kerukunan antarumat beragama.

Praktik toleransi antarumat beragama hari ini turut membaik. Meski begitu, Dewi yang merupakan anggota aktif Gusdurian Jawa Tengah ini mengakui masih ada sentimen yang ditunjukkan pada kelompok tertentu.

Ia menyebut golongan yang menyulut sentimen itu sebagai oknum kecil. Semestinya hal semacam itu tak terjadi bila masyarakat setempat memiliki kesadaran moderasi agama. Sejauh perjalanan kampanye toleransi yang dilakukan Dewi, Kementerian Agama (Kemenag) telah hadir dengan program moderasi.

Baca juga:  Sempat Kerja Pabrik, dapat Uang dari Bantu Dosen

Bila program tersebut dapat merangkul semua umat beragama di Indonesia, ia yakin kehidupan antaragama dapat berjalan dengan lebih harmonis.

Dewi menambahkan, peran generasi muda Nahdlatul Ulama (NU) hari ini dalam memupuk toleransi dan kesadaran kemanusiaan sudah lebih dari sekadar ruang dialog.

“Selama pandemi banyak dari kami yang aktif untuk membagikan bansos, donor darah, bareng Gusdurian maupun komunitas lintas agama. Jadi sekarang arahnya lebih ke aksi nyata,” ucapnya.

Tantangan tersulit yang dihadapi saat ia menerima hujatan dan celaan dari netizen. Namun ia terus memegang teguh nasihat Gus Dur untuk membela mereka yang termarjinalkan, khususnya kaum minoritas. “Apa kita harus berhenti karena dihujat, atau biarkan omongan orang dan tetap maju terus,” tegasnya.

Baca juga:  Berdiri 1901, Bekas Pabrik Tertutup Pasar Ikan Hias

Kemudian literasi ditigal juga mempengaruhi ajaran atau praktik agama yang dianut masyarakat masa kini. Bagi yang belum terliterasi soal paparan informasi, baik di medsos maupun aplikasi chat, akan mudah terpengaruh, bahkan terprovokasi.

Ia beberapa kali menemukan orang tua yang baru belajar menggunakan internet cenderung mudah terjebak informasi yang kurang tepat. Sehingga literasi digital menjadi bagian penting untuk memupuk toleransi antar manusia.

Ia mengakui, perjumpaannya dengan Paus Fransiskus membawa perubahan positif dalam hidupnya, khususnya dalam hal kemanusiaan. Ia melihat ada sedikit kemiripan antara Gus Dur dan Paus soal kedekatannya dengan umat beragama lain. Juga kasih sayang yang ditunjukkan pada semua ciptaan Tuhan. “Jadi, saya belajar lebih dari sekadar menyayangi manusia, tapi juga hewan dan tumbuhan, seluruh alam,” imbuhnya.

Baca juga:  Hanya Modal Matras, Olahraga Andalkan Berat Badan

Dewi terus memegang keyakinan bila saat hidup di dunia, manusia akan selalu dihadapkan dengan hal yang tidak disepakati. Namun sebagai manusia yang bijak, semestinya semua mampu menghargai perbedaan tanpa perlu mengintimidasi. Salah satunya dengan moderasi beragama yang dijelaskan sebelumnya. (taf/ton)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya