alexametrics

Terinspirasi Bali, Kota Semarang Tambah Banyak Patung sebagai Ikon Baru

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID – Beberapa jalan yang bernama pahlawan dilengkapi dengan monumen atau patung sesuai nama-nama pahlawan tersebut. Bahkan Pemkot Semarang sudah merealisasikan sebagian.

Di antaranya, MT Haryono di Jalan MT Haryono, Jalan S Parman, Jalan dr Kariadi, Jalan Soekarno Hatta, Jalan Piere Tendean, Jalan M Hatta, dan lainnya. Setali tiga uang, warga Kota Semarang juga melakukan hal yang secara swadaya di jalan kampungnya masing-masing.

Dua patung ganesha dan kambing menjadi penanda masuknya Kelurahan Jomblang. Patung Kambing sebagai penanda letak Pasar Kambing. Sedangkan, Patung Ganesha sebagai perwujudan penghargaan Tentara Pelajar di Jalan Tentara Pelajar Kota Semarang.

patung kambing berada di Pertigaan Tanah Putih. Dulunya merupakan penanda lokasi Pasar Kambing. “Dulu pojokan itu Pasar Kambing, Metro belum ada kan. Jadi kalau mau naik angkot bilangnya Pasar Kambing,” kata Triyono, 60, warga Jomblang kepada Jawa Pos Radar Semarang Jumat (21/1).

Kala itu, seorang pedagang kambing Sugiyanto -atau yang akrab disapa- Pak Mbing yang berinisiatif membuat patung kambing di Pasar Kambing dengan dana pribadi. “Dulunya dia preman, dia sadar pas zamannya Petrus lolos. Dia punya usaha kambing di bawah itu,” katanya.

Sampai sekarang, pinggir Jalan Tentara Pelajar banyak pedagang kambing ketika menjelang Idul Adha. “Sampai di IBL itu. Memang khusus Idul Adha, toko sekitar tutup selama seminggu,” jelasnya.

Sementara Patung Ganesha dibangun pada tahun 1950-an. Dilatarbelakangi keberanian para tentara pelajar. Terdapat enam tokoh tentara pelajar, seperti Tarso. “Para tentara pelajar larinya ke Sompok,” tuturnya.

Patung Ganesha dibangun sebagai simbol pelajar. Berada di pertigaan Tanah Putih. “Kalau Patung Kambing di pojokan, jadi patungnya dulu di tengah dan ada taman berbentuk segitiga. Lengkap dengan pohon beringin,” jelasnya.

Beberapa kali Patung Ganesha sempat ditabrak truk dan bus dari Tanah Putih. Tapi patung tersebut tidak rusak sama sekali. “Sering terjadi kecelakaan. Bahkan patung itu sempat ngglundung dan mencelat bolak-balek kui. Soale batu alam tidak hancur,” ungkapnya.

Hingga akhirnya, Pemkot Semarang memindahkan patung tersebut dengan membongkar warung di pertigaan Lampersari. Patung Ganesha juga dibongkar dan dipindah ke Bundaran Cinde.

Dulunya Jalan Tentara Pelajar itu bernama Jalan Mrican sampai Jembatan Mrican. Markas tentara pelajar di samping SD Lamper Kidul 02.

Warga lain, Muslih -atau yang akrab disapa- Gepeng, 61, menjelaskan terdapat rantai di sekitar Patung Ganesha. Sayangnya, rantai tersebut diambil oleh warga. Dulunya Bonrojo dan Pasar Kambing di pinggir kali. “Dibongkar jadi jalan semua,” jelasnya.

Dirinya dari Jomblang Legok dan menjadi pedagang kambing di Pasar Kambing dari kecil. Patung Kambing itu sebagai penanda. “Ada buk dowo untuk pembatas jalan dan pasar. Patung kambing tidak berubah. Yang pindah hanya Patung Ganesha,” jelasnya.

Baca juga:  Peduli dengan Pendidikan Anak Jalanan sekitar Johar

Dirinya merupakan teman dari Sugiyanto (Pak Mbing). Dulunya terdapat enam penjual kambing, seperti Zaenuri, Gopang, Agus Bagus, dan Yaqub. Kemudian Pak Mbing, dan dirinya. “Saat ini hanya saya yang masih bertahan,” tuturnya.

Senada, Istri Pak Mbing, Meti, 70, menjelaskan patung tersebut sebagai penanda kalau itu merupakan Pasar Kambing. Dulunya tidak seramai saat ini karena hampir tidak ada pedagang kambing dari desa ke Semarang untuk menjual kambing. “Kalau orang cari kambing ya itu di sana. Dulunya Pasar Kambing di pojokan itu. Kalau sekarang ya adanya pas Idul Adha,” jelasnya.

Patung Ganesa berdiri gagah di persimpangan Jalan Tentara Pelajar dan Jalan Cinde Raya untuk memberikan penghormatan kepada para tentara pelajar yang pernah berjuang mempertahankan kemerdekaan RI di Kota Semarang. (FIGUR RONGGO WASSALIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)

Rencanakan Penambahan Patung di Setiap Jalan

Demikian halnya dengan Pemkot Semarang melalui Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Disperkrim). Pihaknya terus melakukan penambangan pembangunan taman dan patung agar menjadi ikon baru di Ibu Kota Jateng ini. Terutama untuk memenuhi penambahan ruang terbuka hijau yang sesusai aturan sebesar 30 persen.

“Beberapa waktu lalu kami menerima penyerahan prasarana dan sarana umum (PSU) dari pihak swasta. Dengan demikian, RTH bertambah 17 persen. Rencana kami akan terus membangunnya termasuk di beberapa ruas jalan,” kata Kepala Disperkrim Kota Semarang Ali, kemarin.

Pada tahun lalu, ada beberapa RTH yang telah dibangun lengkap dengan patung khas atau ikon di RTH tersebut. Sebut saja Taman Pieere Tandean, Taman MT Haryono, dan beberapa taman lainnya yang dibangun Pemkot Semarang melalui APBD ataupun CSR dari pihak swasta.

Sebelumya juga telah dibangun patung Ki Narto Sabdo, patung Soekarno di Kalibanteng, Soakarno-Hatta di Jalan S Parman dan Arteri Soekarno-Hatta, patung Arjuna di Taman Simpang Paragon, dan lainnya. Penambahan patung di Kota Semarang dilakukan oleh BUMN, misalnya patung Ir Soekarno di Polder Tawang dan patung Jenderal Ahmad Yani.

“Kami juga punya hutan taman kota di Mijen. Mungkin saja ke depan akan dibangun patung. Pembangunan patung ini kami sesuaikan dengan ikon atau konsep nama jalan dan sejarah yang ada,” tutur Ali.

Rencananya, setiap jalan di Kota Semarang akan ditambah patung dan dibuat ikon baru. Konsep ini terinspirasi beberapa ruas jalan di Bali yang memiliki cerita ataupun sejarah berkaitan dengan jalan tersebut. “Di Bali itu kan banyak patung, bahkan ada patung yang bisa menari. Kami akan konsepkan jalan di Semarang sama dengan di Bali,” tutur Ali.

Rencana pembangunan taman beserta patungnya akan terus dilakukan pada tahun ini. Proyek yang sedang berjalan adalah pembangunan patung Penari Semarangan di Kaliwiru. Selain itu penambahan patung dan taman di Kawasan Dokter Cipto. “Kami ingin setiap jalan ada ceritanya. Misal Dr Cipto. Ini sebagai sarana edukasi kepada masyarakat. Patung Jenderal Sudirman juga akan dibangun tahun ini,” tuturnya

Baca juga:  Lepas Jabatan Direktur saat Menyusun Tesis

Khusus patung tari Semarangan, anggaran yang digelontorkan sebesar Rp 400 sampai Rp 600 juta. Desainnya adalah patung tiga dimensi yang bisa memutar. “Kami targetkan penambahan RTH sebanyak-banyaknya. Selain menggunakan dana APBD, juga menggandeng pihak ketiga untuk membangunkan memakai dana CSR,”pungkasnya.

Sementara itu, Kabid Pertamanan dan Pemakaman Disperkrim Kota Semarang Murni Ediati menjelaskan, saat ini pihaknya sedang menawarkan kepada pihak swasta ataupun BUMN beberapa spot taman untuk dibangun ulang sebagai tempat rekreasi publik sekaligus RTH. “Kami sedang merancang taman dan patung tujuh pahlawan revolusi. Untuk titiknya masih kami bahas,” katanya.

Akses menuju Kota Lama juga akan dipercantik dengan pembangunan taman. Pipie menerangkan jika titik Nol Kilometer Semarang di depan Kantor Pos Johar akan ditambah patung yang ikonik. “Saat ini Disperkrim berkolaborasi dengan DPU sedang membuat DED, penambahan RTH di kawasan Jalan Pemuda dan Jalan Soekarno-Hatta. Rencananya akan dijadikan pusat keramaian baru,” katanya.

Jalan Pemuda dan Soekarno Hatta sangat panjang. Wali Kota Hendrar Prihadi ingin menambah patung yang besar. Misalnya di Jalan Soekarno-Hatta, akan diputus tepat di Simpang Tlogosari untuk dibangun taman dan patung serta diberi nama Jalan baru. “Contohnya Jalan Ir Soekarno,” pungkasnya.

Penempatan Patung-Patung Perlu Dievaluasi

Niatan membangun patung untuk membuat ikon baru memang patut diapresiasi. Namun penempatan patung yang kurang tepat, kurang membekas di hati masyarakat setempat maupun pendatang.

Dewan Kesenian Semarang (Dekase) menilai patung para tokoh yang dibangun di jalanan Kota Semarang belum memenuhi estetika seni patung monumen. Bahkan peletakannya kurang relevan dengan nilai historis yang terjadi di masa lampau.

Pengamat seni Demisioner Dekase Gunawan mengatakan Patung Ki Narto Sabdo di Jalan Pahlawan terlalu kecil dan tertutup bangunan megah di sekitarnya. Begitupun Patung Sukarno Hatta di Stasiun Tawang dinilai kurang pas peletakannya.

“Kenapa Ki Narto Sabdo diletakkan di sana, menurut saya akan lebih tepat bila ada di Jalan Sriwijaya, dekat dengan TBRS menunjukkan nilai kesejarahan. Patung Suharto juga,” ujarnya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Tak hanya itu, Patung Piere Tendean menurutnya terlalu menonjol di antara pedestarian yang minimalis. Semestinya adanya patung di jalanan Kota Semarang memiliki daya tarik historis maupun ikatan emosional. Sehingga monumen yang ada dapat membekas di benak pengendara asal luar kota.

Seperti yang ada di Kota Solo maupun Bali, artistik patung dan lokasinya sangat tepat. Orang luar kota yang melintas pun akan teringat dengan patung ikonik di jalanan kota itu. Pasalnya, saat ditanya sesama seniman maupun orang luar kota, Gunawan tak dapat menjelaskan patung-patung di Semarang.

Baca juga:  Lumbung Kelurahan Ringankan Warga Terdampak Covid-19

Selama ini, Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang kurang melibatkan masyarakat ataupun seniman dalam proyek infrastruktur patung-patung itu. Ia pun tak dapat menyimpulkan fungsi patung yang dibuat Pemkot Semarang itu.

“Fungsi patung kan ada macam-macam, misalnya untuk religi, monumen sejarah, arsitektur, dekorasi, maupun kerajinan. Nah kalau ini dibilang monumen sejarah, tapi kok letak dan estetikanya kurang epat,” keluhnya.

Pihaknya menilai, pemerintah perlu mengkaji ulang fungsi patung yang hendak dibangun secara detail. Sehingga tak hanya menjadi pajangan jalan semata.

Hal senada disampaikan Pakar Tata Kota Undip Prof Bambang Setyoko. Lokasi patung kurang tepat, sehingga tidak memiliki dampak terhadap lingkungannya. Kurang mendukung citra kota.

Hal itu bisa jadi karena dimensi patungnya tidak terlalu besar dan lokasi kotanya tidak mendukung. Beda kalau patung itu layout-nya bagus, sehingga dampak terhadap lingkungannya bagus karena mempunyai sejarah dan bisa menjadi ikon kotanya.

“Contohnya seperti Patung Liberty di New York. Semua orang tahu, tidak usah nyebut bahwa itu New York. Begitu melihat Liberty, orang langsung tahu kalau itu Amerika, karena sudah menjadi ikon yang identik,” jelasnya.

Tidak semua tempat cocok diberi patung. Harus dipilih nama jalan, tempat atau lokasi yang tepat, biar tidak muspro atau tidak bermanfaat. Tempat menyesuaikan kondisi dab situasi lingkungan serta sejarah. Jadi kalau lokasi yang tidak bersejarah dikasih patung, orang akan bingung mengaitkan antara patung dengan jalan tersebut.

“Kalau saya melihat, niat Pak Hendi membangun patung-patung untuk memberikan landmark pada setiap jalan, sehingga jalan itu mudah diingat oleh penduduknya,” tuturnya.

Mekipun begitu, landmark tidak harus berupa patung, bisa berupa yang lain. Seperti, Surabaya misalnya jembatan merah. Tidak berupa patung tapi jembatan merah, semua orang tahu di sana pernah terjadi pertempuran dengan Belanda. Contoh lain, Jogja, dekat tugu tidak ada patungnya Hamengkubuwono, tapi sudah mencerminkan bahwa Tugu menjadi ikonik Jogja. Jadi orang ke Jogja foto di depan Tugu.

“Tapi saya kok tidak pernah melihat orang Semarang foto di depan patungnya Soekarno-Hatta. Karena mungkin ya tadi lokasinya tidak tepat dan belum terbentuk sebagai ikon,” ujarnya.

Kota Semarang akhir-akhir ini naik karena adanya Kota Lama. Semua orang tertarik akan Kota Lama. Tidak hanya orang dalam negeri, tapi juga luar negeri. Kalau belum berselfie di Kota Lama, seperti belum ke Semarang. “Pembangunan-pembangunan yang menaikkan branding kota memang harus disediakan anggaran yang cukup bagus. Karena tidak hanya membangun infrastruktur tapi juga landmark. (fgr/den/taf/cr1/ida)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya