alexametrics

Pasangan Asal Wonosobo Ini Gigih Dirikan Ponpes Tahfidz Alquran meski Kondisi Ekonomi Terbatas

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID – Keterbatasan ekonomi tidak menghalangi pasangan suami istri Isnaeni dan Abdul Rohim untuk mengabdi. Meski hanya berlatar  belakang keluarga pekerja bangunan, pasutri ini mendirikan pondok pesantren (ponpes) tahfidz Alquran untuk anak-anak. Namanya Pondok Pesantren Nurul Falah di Dusun Kepirang, Desa Dempel, Kecamatan Kalibawang, Kabupaten Wonosobo.

Sabtu (8/1) sore lalu, sejumlah santri tengah berkumpul di Ponpes Nurul Falah, Dusun Kepirang. Usia mereka masih anak-anak. Siswa SD hingga SMP. Sore itu, mereka baru saja saja melaksanakan salat asar. Di Ponpes Nurul Falah, wartawan Jawa Pos Radar Semarang bertemu dengan Isnaeni dan Abdul Rohim.

Isnaeni mengaku sama sekali tidak menyangka bisa mendirikan ponpes. Karena ia bukan berasal dari keluarga berada, dan bukan dari keturunan tokoh agama. Dulunya ia pernah menjadi santri di Ponpes Nurul Falah, Salaman, Kabupaten Magelang.

Isnaeni awalnya tidak berniat untuk mendirikan ponpes. Ia sekadar mengajar mengaji anak kandungnya yang baru lulus TPQ di desa pada 2018. “Saat itu, saya punya inisiatif untuk mengajar Juz Amma kepada anak saya,” ujar Isnaeni.

Baca juga:  Tidur lebih Tertata, Rajin Olahraga dan Tak Lupa Menyanyi

Rupanya beberapa teman anaknya tertarik untuk ikut mengaji di tempat Isnaeni. Ia pun menerimanya. Saat itu, ada sekitar tujuh anak yang mengaji. Anak-anak tersebut bahkan ikut menginap dan makan di tempat Isnaeni atas keinginan sendiri.
Padahal kondisi ekonomi Isnaeni sangat terbatas.

Ia hanya mengandalkan pendapatan dari sang suami, Abdul Rohim,
yang bekerja sebagai pekerja bangunan. Rata-rata gajinya hanya Rp 60 ribu per hari. Namun sang suami mendukung. Ia menyisihkan sebagian gajinya untuk biaya anak-anak yang mengaji di rumahnya, termasuk untuk makan.

Rumah Isnaeni yang digunakan untuk mengaji jauh dari layak. Ukurannya hanya 3×6 meter persegi. Terbuat dari kayu. Ketika hujan turun, rumahnya basah karena atap rumah bocor.

“Kalau hujan anak-anak itu ngajinya di atas amben (tempat tidur, Red). Karena lantainya penuh air,” kenang wanita kelahiran Jember, Jawa Timur ini.

Keterbatasan itu tidak membuat Isnaeni dan sang suami patah arang. Sebisa mungkin ia tetap menfasilitasi anak-anak yang mengaji di rumahnya.

Baca juga:  Tak Jadi Demo, Pedagang Pasar Johar Audiensi dengan Wali Kota Semarang

Walaupun untuk makan sehari-hari kadang kesulitan. Bahkan pernah ia sampai kehabisan beras. Namun di hadapan anak didiknya, Isnaeni tidak pernah memperlihatkan kekurangan ekonominya tersebut.

Isnaeni selalu yakin ketika merawat anak-anak yang mencari ilmu pasti selalu ada rezeki. Ia menganggap anak-anak yang mengaji di rumahnya seperti anak kandung sendiri. Isnaeni dan Abdul Rohim pun cukup perhatian, karena kebanyakan masih usia dini.

“Dulu itu ada anak TK, kalau ngompol atau buang air kecil maupun air besar ya saya sama suami yang membersihkan,” kata wanita 40 tahun ini.

Berkat kegigihan Isnaeni dan Abdul Rohim, anak-anak yang mengaji di tempatnya pun terus bertambah. Hingga akhirnya menjadi 70 orang. Beberapa dari mereka ada yang hafal 8 juz, ada juga yang sudah hafal 15 juz.

Ibu dua anak ini mengajar dengan ikhlas tanpa bayaran, kendati waktu dan tenaganya terkuras. Dalam sehari, Isnaeni praktis hanya beristirahat sekitar 4 jam. Karena selain mengajar mengaji, ia juga harus menyiapkan makan dan kebutuhan anak-anak.

Baca juga:  Patung Didi Kempot Laku hingga Australia, Jepang, dan Amerika

Waktu berjalan, beberapa orang tua anak mengusulkan untuk membayar biaya bulanan. Isnaeni sempat menolak. Namun akhirnya ia mempersilakan, karena orang tua terus memaksa untuk membayar. “Saya tidak pernah menuntut. Bayar syahriah monggo, tidak bayar tidak papa,” ungkapnya.

Pada 2020, beberapa tokoh masyarakat mengusulkan supaya tempat mengaji Isnaeni dibuat ponpes. Masyarakat sekitar pun cukup antusias. Mereka tidak ragu untuk memberikan bantuan. Hingga akhirnya kini terbangun Ponpes Nurul Falah, Kepirang dengan bangunan dua lantai, walaupun sederhana.

Ditambahkan Isnaeni, ia bisa berada sampai titik tersebut juga karena sang suami. Baginya, Abdul Rohim adalah sosok suami yang sabar dan jujur. Ia selalu mendukung dan mengerti tentang niatnya mendidik anak-anak mengaji secara ikhlas.

“Saya akui suami saya itu sabar dan jujur. Karena mencari suami yang sabar dan mengerti dengan kesibukan saya itu sulit,” imbuh Isnaeni. (man/aro)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya