alexametrics

Afryda Afryana, Alumni Upgris Jadi Penggerak Pemuda Desa, Merintis Griya Baca hingga Snack Bawang

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Namanya Afryda Afryana. Banyak inovasi yang dikembangkannya, utamanya untuk pemberdayaan masyarakat di desanya, utamanya saat pandemi Covid-19. Kegiatannya telah banyak memberi manfaat bagi warga Desa Ngelo Wetan, Kecamatan Mijen, Kabupaten Demak.

WAHIB, Demak, Radar Semarang

  KREATIF: Griya baca yang dikelola Karang Taruna Loka Jaya  Desa Ngelo Wetan, Kecamatan Mijen, Demak. (kanan) Afryda Afryana. (FOTO-FOTO: WAHIB PRIBADI/JAWA POS RADAR SEMARANG)

KREATIF: Griya baca yang dikelola Karang Taruna Loka Jaya Desa Ngelo Wetan, Kecamatan Mijen, Demak. (kanan) Afryda Afryana. (FOTO-FOTO: WAHIB PRIBADI/JAWA POS RADAR SEMARANG)

PEREMPUAN kelahiran Demak 24 tahun lalu itu memiliki tekad kuat untuk berpartisipasi dalam pembangunan di segala bidang, baik untuk desa maupun daerahnya. Pida –sapaan akrabnya– berkiprah sebagai sekretaris Karang Taruna, Desa Ngelo Wetan. Pida memiliki banyak inovasi untuk memberdayakan masyarakat. Salah satunya adalah dengan mengaktifkan karang taruna di desanya yang mengalami mati suri.

Dia mengungkapkan, berawal dari kondisi tentang banyaknya pemuda potensial di desanya yang melimpah. Namun mereka masih enggan untuk turut aktif dalam kegiatan pemberdayaan desa. Dengan jiwa kepemimpinannya, Pida mencoba untuk merangkul mereka dan mengajak untuk menjadi satu kesatuan yang tergabung dalam sebuah wadah pemuda yaitu karang taruna.

“Awalnya saya melihat organisasi pemuda di desa ini tidak berjalan. Padahal banyak remaja dan kawula muda yang berbakat dan memiliki kapasitas yang bagus. Namun mereka hanya sibuk dengan urusan sendiri-sendiri. Karena itu, saya tergerak untuk mengajak mereka menghidupkan organisasi karang taruna di desa ini,”ujar alumni Universitas PGRI Semarang (Upgris) ini.

Menurutnya, sejak saat itu, Karang Taruna di Desa Ngelo Wetan yang diberi nama Loka Jaya terus menampakkan eksistensinya. Pemberian nama Loka Jaya sendiri bermakna penuh energi. Diharapkan, kehadiran Loka Jaya dapat memberikan energi positif bagi masyarakat luas.

Baca juga:  Mahasiswa KKN Upgris Kembangkan Budidamber

Salah satu kegiatan yang dilaksanakan Pida bersama Karang Taruna Loka Jaya adalah dengan mendirikan rumah baca yang diberi nama Griya Baca. Pembentukan Griya Baca ini bertujuan untuk menyediakan dan mengupayakan ketersediaan akses informasi yang mendukung proses belajar mengajar.

Griya Baca juga sebagai sebagai media informasi, media belajar, serta hiburan bagi anak-anak maupun warga desa setempat. Dengan dibentuknya rumah baca tersebut diharapkan minat baca anak-anak dan warga semakin meningkat.

Dengan begitu, tradisi membaca akan mengakar kuat di kalangan masyarakat. Jika hal tersebut terwujud, maka masyarakat akan semakin cerdas. Pun, segala permasalahan yang terjadi akan dapat diselesaikan dengan baik.

Saat ini, bisa dibilang fasilitas Griya Baca masih terkategori minim. Namun hal tersebut tak lantas membuat seorang Pida surut semangat. Bersama rekan-rekannya, Pida berupaya mengolah sesuatu yang minim tersebut menjadi sesuatu yang tetap membuahkan hasil.

“Untuk fasilitas memang masih sangat minim. Tapi, kami mencoba tetap dapat membuat perubahan bagi desa ini,” kata Pida.

Dia menuturkan, tiap minggu secara bergilir rumah baca hadir di tiap dukuh di Desa Ngelo Wetan. Dengan menempati serambi masjid, rumah baca tersebut ditata sedemikian rupa dengan menyajikan buku-buku bacaan.

Baca juga:  Mahasiswa KKN UPGRIS Ciptakan Lagu “Cegah Corona”

Mulai dari buku mata pelajaran, buku cerita, dongeng dan berbagai ilmu pengetahuan. Untuk menyediakan buku di Griya Baca, Pida dan teman-temannya di karang taruna mencoba berkomunikasi dengan Tampung Buku Bandung.

Lembaga itu merupakan wadah yang memberikan supporting system bagi komunitas literasi, rumah baca, perpustakaan desa, dan pelosok yang berasal dari Kota Bandung, Jawa Barat.

Dia juga sudah berupaya mencoba komunikasi dengan beberapa pihak. Namun tentu saja untuk mendapatkan buku-buku tersebut tidak semulus yang dibayangkan. Karena itu, dia sangat berharap ada donatur buku yang mau berdonasi untuk Griya Baca.

“Kami juga sangat berharap, mungkin bisa ada bantuan atau fasilitasi desa maupun pemda untuk pengembangan Griya Baca yang kami kelola,” harap Pida.

Selain rumah baca, putri kedua pasangan Mulyono dan Marfutikah ini juga menginisiasi pengolahan bawang merah yang diproduksi menjadi bawang goreng. Pengolahan bawang merah ini cukup beralasan, mengingat di Desa Ngelo Wetan Kecamatan Mijen sebagian warganya adalah petani bawang merah.

Melihat banyaknya hasil bawang merah hasil jerih payah petani di desanya, sedangkan nilai jual saat panen yang cukup rendah dan tak sebanding dengan modal tanam, hati Pida merasa tersentuh. Dia mencoba berpikir untuk mencari solusi agar nilai ekonomis bawang merah tinggi, dan masa simpannya lebih tahan lama.

Baca juga:  Siswa Berdoa, Bernyanyi dan Belajar di Dalam Mobil

Akhirnya, terbersitlah ide Pida untuk mencoba mengolah tanaman semusim yang memiliki kandungan vitamin, mineral dan senyawa tumbuhan yang bermanfaat untuk tubuh itu menjadi bawang merah goreng.

Ide tersebut kemudian dilontarkan kepada teman-temannya di Karang Taruna Loka Jaya. Dengan penjelasan yang detail dan argumen yang cukup kuat, gayung bersambut. Ide Pida diterima oleh teman-temannya. Dan akhirnya angan untuk meningkatkan nilai ekonomis bawang merah itu pun terlaksana.

Dengan modal uang khas Karang Taruna, Pida dan teman-temannya mulai melakukan pengolahan bawang merah menjadi snack bawang merah goreng. Meski saat ini pemasarannya masih antardesa dalam satu kecamatan, namun Pida yakin jika usaha ini ditekuni akan bisa berkembang dan meningkat.

Pida berharap ke depannya usaha ini tidak hanya dikerjakan oleh organisasi karang taruna saja, namun masing-masing personil juga dapat membuka usaha sendiri, sehingga akan lahir pengusaha snack bawang merah di Desa Ngelo Wetan.

Tak hanya itu, Pida juga berharap ke depan petani juga memiliki pemikiran untuk tidak hanya bergelut pada ranah on farm saja, tetapi juga mampu menuju off farm, terutama pasca panen dan pengolahannya. Dengan begitu, permasalahan lesunya aspek kehidupan dan perekonomian karena rendahnya nilai ekonomis hasil panen bawang merah tidak terjadi lagi. (*/aro)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya