alexametrics

Outbond Tidak Sekadar Bersenang-Senang

Cerita Para Trainer Outbond

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID – Menjadi trainer outbond tidak hanya berbekal keberanian berbicara di muka umum. Tetapi memerlukan banyak keahlian. Dan itu harus dipelajari. Bisa juga dari pengalaman.

Hal itu menjadi salah satu sebab Aris Jati Setyawan, 39, mendirikan Pitu Adventure. Sebuah lembaga yang bergerak di bidang pelatihan motivasi dan outbond. Nama resminya PT Experiential Learning Indonesia.

“Secara filosofi, pitu bisa berarti pitulungan. Namun bertepatan juga kami di Fakultas Ekonomi UKSW merupakan anggota mapala angkatan ke tujuh,” jelas Aris Jati. Ia mendirikan Pitu adventure bersama rekannya, Napoleon pada 2014 silam.

Sebelum pandemi, pasar outbond memang terbuka. Setidaknya dalam satu bulan mereka mendapatkan order 700-1000 pack. Jika dirupiahkan, berkisar Rp 100an juta. Itu untuk paket standar.

“Selama pandemi praktis terhenti. Dan kembali mulai Desember ini sudah ada 500an pack,” tutur dia. Pitu tidak hanya mengelola outbond, namun juga jeep, rafting dan motivasi.

Ia dan tim berusaha tidak monoton. Mereka selalu mengembangkan ide dengan memperkaya materi. “Kebetulan dari dulu sering outbond, sehingga banyak pengalaman,” jelasnya.

Dipaparkan Aris, banyak orang yang mengira jika outbond itu hanya bersenang-senang (have fun). Namun sebenarnya banyak yang bisa dilakukan. Salah satunya adalah memberikan motivasi dan pembelajaran melalui game yang dimainkan.

Selain itu, outbond tidak selalu di luar ruangan. Di dalam ruangan pun bisa dilakukan. Tidak sekadar membangun motivasi namun juga Gerakan-gerakan yang menyegarkan dan menyenangkan. “Kalau saya, biasanya diawali dengan ice breaking. Tujuannya agar bisa menyatu dulu dengan peserta. Baru setelah blended, memasukkan materi outbond-nya,” beber Aris.

Pengalaman saat mengisi outbond adalah saat mendapatkan order dari hotel. Dengan persiapan matang, namun agak buyar. Ternyata peserta adalah para penyandang autis. “Sempat panik. Beruntung ada pendampingnya yang sangat membantu,” kenangnya.

Kini ia memiliki banyak jaringan. Berbagai hotel dan tempat wisata di Salatiga dan Semarang. Bahkan kantornya pun kini berada di hotel de Emmerick, Salatiga. Semua usaha ini merupakan pertaruhannya.

Baca juga:  PSISa Masih Punya PR Penyelesaian Akhir

Pasalnya, Aris selepas lulus dari UKSW sebenarnya memiliki karir di perbankan. Namun ia akhirnya memilih keluar dan menekuni hobinya. “Selain hobi adventure, kami juga tidak suka diatur. Lebih suka mengembangkan diri dengan maksimal. Tanpa ada batasan harus berangkat pagi pulang sore,” ujarnya sambil tertawa lepas.

Muhammad Heri Wobowo bersama salah satu penyandang disabilitas yang pernah mengikuti outbond dalam bimbingannya. (Istimewa)

Paling Super, Outbond dengan Siswa SLB

Muhammad Heri Wibowo kali pertama menjadi trainer outbound pada 2007. Saat itu hanya ikut-ikutan teman. Kemudian pada 2018, Heri memiliki lembaga sendiri.

Selama 14 tahun berkarir, Heri melayani klien dari berbagai kalangan. Mulai dari pelajar, ibu-ibu arisan, instansi pemerintah, hingga corporate. Namun yang paling mengesankan, siswa sekolah luar biasa (SLB).

“Pernah dari anak-anak tuna grahita. Wah super!” ujar Heri ketika ditemui Jawa Pos Radar Semarang Jumat (17/12).

Dari pengalaman pertamanya, Heri menyadari bahwa menjadi trainer outbound anak berkebutuhan khusus tidak sesulit yang dia bayangkan. Mereka bisa diajak berkomunikasi. Ketika mengalami kesulitan, toh, masih ada para guru yang membantu berkomunikasi. “Kalau outbound sama siswa SLB, lebih ke bagaimana membuat mereka senang,” ucap Heri.

Jika siswa SLB menurutnya mengesankan, orang-orang corporate adalah klien menyenangkan bagi Heri. Sebab menurutnya, mereka secara emosional memang membutuhkan outbound ini. Misainya, ingin mengenalkan nilai kepemimpinan atau solidaritas tim. “Kalau anak TK atau PAUD kan terkadang yang butuh cenderung gurunya,” ujar pria berusia 40 tahun ini.

Dari pengalaman-pengalamannya, Heri menceritakan ada perbedaan minat outbond masa dulu dan masa kini. Dulu, klien lebih suka permainan berat, seperti flying fox. Sementara kini, lebih banyak dibutuhkan fun games.

Ihwal ide permainan, Heri lebih sering menuruti keinginan klien. Tentang nilai-nilai yang ingin dimasukkan dalam permainan. Setelah itu, baru dirumuskan. “Kalau value kepemimpinan, berate seperti ini. Atau kalau games itu terlalu sering, kami cari ide baru,” ujar Heri.

Baca juga:  Miris, Siswi SMK Nekat Gugurkan Kandungan di Toilet Apotek

“Ketika anak bermain kadang jadi inspirasi. Kalau cocok, kami simulasikan dengan tim,” kata Heri. “Jadi tidak serta merta kami praktikkan ke klien,” imbuhnya.

Pria yang juga menjadi guru di MTS Ma’arif 2 Muntilan ini biasanya mencari inspirasi permainan dari buku, Youtube, maupun kehidupan sehari-hari. Gunakan metode ATM (amati, tiru, modifikasi). Tidak jarang, simulasi permainan dilakukan ke para siswanya sebagai selingan pembelajaran yang tidak membosankan.

Mujiono

Sajikan Game Edukasi dan Permainan Tradisional 

Banyak kegiatan wisata yang disertai dengan outbound. Termasuk di kegiatan wisata di Kota Semarang, salah satunya di Desa Kandri, Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang. Kegiatan outbound di tempat ini lebih mengenalkan game bernuansa budaya dan edukasi.

Salah satu trainer game di Kandri, Mujiono mengatakan, outbond di desa wisata Kandri itu sebenarnya berawal dari edukasi pembelajaran luar sekolah. Alasannya, basic customer yang berkunjung kebanyakan anak-anak sekolah. “Jadi perlu yang namanya memotivasi anak dan perlu menaikkan rasa simpati. Sehingga ketika edukasi ada rasa senangnya dengan cara kita melakukan game atau mungkin ice breaking seperti itu,” ungkapnya kepada Jawa Pos Radar Semarang Sabtu (18/12).

Laki-laki yang akrab disapa Gatot ini membeberkan, permainan atau game yang dilakukan bersama anak sekolah mengikuti yang sudah ada. Seperti halnya yel-yel di sekolah. Kemudian, dilanjutkan dengan game dengan menyesuaikan umur. “Gamenya nanti kita sendiri yang jadi trial dan error. Kita cari permainan yang cocok. Misalkan anak kelas 1, itu apa? Sehingga ada tahapan, yang tidak berat, sesuai dengan jangkauan kemampuannya,” bebernya.

Mujiono menyebutkan, tempat wisata di Kandri yang menjadi andalan adalah persawahan. Sehingga para wisatawan yang berkunjung dan melakukan outbound berada di lokasi persawahan. Tak jarang, mereka mengadakan game di tanah yang berlumpur. Selain itu, juga ada game mengangkat permainan jaman tempo dulu alias anak kampung. Misalnya, game atau permainan petak umpet atau kucing-kucingan. Untuk melestarikan budaya yang pernah ada.

Baca juga:  Jaringan Perlindungan Anak Semarang Kawal Kasus Pelecehan sampai Tuntas

Menurutnya, juga ada kiat-kiat tersendiri untuk menambah keseruan game dan menambah semangat peserta. Selain itu juga ada game khusus yang dilakukan oleh tim trainer outbond di Kandri.

“Di sini kita ada game yang khusus dimainkan di sini. Jadi tidak kita bawa keluar. Misalnya nanti hitung-hitungan. Itu akan kita catat dan itu akan memotivasi karena nantinya akan kita bandingkan dengan sekolah lain. Tapi ini hanya semacam untuk memotivasi saja supaya mereka tetap semangat,” bebernya.

Mujino menekuni instruktur outbond sejak menjadi pegiat wisata. Pada 2015, terjun sebagai eduwisata. Menurutnya, wisata Kandri menjadi SK pada 2013 silam. Sedangkan di 2015, sudah menetapkan pangsa pasar. “Sebenarnya awalnya outbond pertama kali ya tahun 2013, itu anak sekolah SMP di Banyumanik. Outbond di sini,” jelasnya.

Awal menekuni instruktur outbond, Mujiono mengatakan saat menjadi guide, sudah merasakan adanya dukungan untuk mengadakan outbond di Kandri. Sebab, tempat wisata juga perlu adanya outbond untuk pengunjung. “Akhirnya saya bawa ini desa. Jadi sebenarnya pemandu atau gaet, dia harus punya basic ice breaking. Karena juga untuk Memotivasi di dalam bus, bisa main game. Itu saya bawa ke desa ini,” jelasnya.

Terkait penurunan pengunjung dan outbond di masa pandemi, Mujiono mengatakan selama dua tahun ini hampir tidak ada kegiatan. Padahal, pada 2020, selama Januari-Februari, sudah naik terus sampai 3000 paket.

Itu berarti setiap hari ada kegiatan. Setelah itu sudah berkurang, hingga nol permintaan. Saat ini sudah mulai ada, sekali dua kali tapi tidak bisa diharapkan karena masih banyak yang belum aktif sekolah.

“Sementara kita ya jadikan sebagai objek kunjungan objek studi banding. Kalau tidak ada ya teman-teman melakukan kegiatan budaya, latihan karawitan, nari. Ke depan belum tahu,” jelasnya. (sas/rhy/mha/ton)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya