alexametrics

Mengunjungi Kampung Velg dan Ban di Semarang, Satu RW Ada 20 Lapak, Setiap Terjual Isi Kas Musala

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID – Di Kota Semarang terdapat Kampung Velg dan Ban di Kelurahan Tlogomulyo RW 2 Kecamatan Pedurungan. Di kampung ini, hampir 60 persen warganya membuka lapak jual beli velg dan ban.

Kampung velg dan ban tak beda dengan kampung lainnya di Ibu Kota Jawa Tengah ini. Yang membedakan, hampir di semua rumah di kampung ini membuka usaha jual beli velg dan ban. Setidaknya ada 20 rumah yang berjualan velg dan ban.

Usaha ini dirintis warga sejak 1990-an. Bahkan, kini kampung tersebut menjadi salah satu pemasok velg dan ban dengan harga rendah namun berkualitas. Warga juga melayani jasa pemolesan velg menjadi kinclong seperti baru lagi.

Ketua RW 2 Tlogomulyo Joko Prihatno menceritakan, kampung velg dan ban merupakan tempat jual beli velg dan ban baru, variasi, maupun bekas. “Semuanya ada di sini,” katanya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Kampung ini beralamat di Perum Banpres RW 2. Hampir 60 persen warganya jual ban dan velg. Terdiri atas 20 lapak velg dan ban. Satu lapak mempekerjakan dua sampai empat orang. “Tergantung masing-masing yang punya. Di sini bisa jual beli maupun tukar tambah ban dan velg,” jelasnya.

Baca juga:  Tidur lebih Tertata, Rajin Olahraga dan Tak Lupa Menyanyi

Diceritakan, usaha warga ini dimulai pada 1990-an. Awalnya, ban bekas itu dijual ke luar, seperti kawasan Barito dan Teng-teng. Kemudian pada 2000-an, banyak warga Tlogomulyo yang memiliki usaha jual bali ban di kawasan Kedungmundu. “Jadi, yang di Kedungmundu itu merintisnya dari sini,” jelasnya.

Mereka jual ban mulai SPBU RSUD KRMT Wongsonegoro sampai arah jalan baru. Kemudian dipindah ke kanan kiri jalan baru Kedungmundu sampai kantor PDAM. “Semuanya warga sini,” katanya.

Sedangkan usaha jual beli velg dimulai pada 2005. Kemudian pada 2016, warga mendatangkan barang langsung dari Jakarta. “Setahun kemudian, saya buka penjualan secara online di sini,” ungkapnya.

Dikatakan, keistimewaan velg dan ban dari kampung ini adalah lebih murah, dan menjadi primadona para distributor. Ia mengungkapkan, kenapa harganya lebih murah, karena tempatnya tidak sewa. Selain itu, karyawannya dibayar kalau ada penjualan. “Jasanya ada online, dan dongkrak,” jelasnya.

Ketua RT 1 RW 2 Nur Hidayat mengaku baru berkecimpung di dunia velg dan ban. Dulunya ia hanya menjadi sopir taksi. Hanya dalam waktu tiga bulan ikut dengan Joko, ia dapat membuka usaha sendiri yang baru satu tahun. “Sekarang bisa membeli mobil sendiri,” katanya.

Baca juga:  Ponpes Sulit Terapkan Skema New Normal

Untuk menjaga keberkahan dalam berdagang, ia mewajibkan seluruh lapak velg dan ban untuk mengisi kas musala Rp 5 ribu saat laku. “Laku satu biji atau satu set ya Rp 5 ribu. Pokoke nek payu ngisi kas Rp 5 ribu,” ungkapnya.

Selain melayani jual beli velg dan ban, warga di kampung ini juga melayani poles velg. “Pengecetan dan poles ketika velg penyok. Yang kami layani hanya velg dan ban mobil,” ujar Joko.

Warga lain, Slamet juga ikut bisnis velg dan ban. Ia paling lama ikut dengan Joko. Ia punya adik kerja di Jepang, yang kini membuka usaha serupa di Genuk. “Empat tahun dengan saya,” jelasnya.

Ia mengaku butuh perjuangan saat awal ke Jakarta untuk mendapatkan velg yang murah. Ia pergi ke Jakarta seminggu sekali. “Sampai tidur di jalanan saya, Mas,” katanya.

Baca juga:  GOR Tri Lomba Juang Dibuka, Atlet Lega

Kalau sulit mendapatkan barang dagangan yang diinginkan, ia pergi ke Bali. Sekarang ia spesialis velg ori (asli).

Slamet bersyukur, usahanya dapat ditularkan ke anak buahnya. Bahkan, anak buahnya sukses membuka kios. “Tapi, tidak lepas ke sini. Apa-apa tanyanya ke sini,” ujarnya.

Meskipun begitu, ia bekerja sama dengan warga sekitar untuk memenuhi pesanan. “Saling mengisi dan kita sama-sama untung,” katanya.

Sekarang ini pesanan velg dan ban ke seluruh Indonesia, seperti Kalimantan, NTT, dan Makassar. Ada juga pelanggan dari Bogor. “Karena di sana (Bogor) harganya Rp 6 juta satu setnya. Saya berani Rp 5,5 juta, dan ongkir Rp 200 ribu. Berarti hanya Rp 5,7 juta. Lebih murah Rp 300 ribu,” jelasnya.

Selain itu, ia juga memberdayakan karang taruna untuk bekerja dengannya, dan mendata iuran kas musala Rp 5 ribu.

Salah satu pelanggan, Heru, anggota Satpol PP mengaku, produk velg dan ban yang dijual di kampung ini sangat berkualitas. “Harganya miring Mas dibanding tempat lain,” akunya. (fgr/aro)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya