alexametrics

Mengunjungi Coffee Shop Berkonsep Vegetarian Pertama di Semarang, Ada Sate dan Sosis dari Kedelai

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID – Dulu sebelum tahun 2000-an gaya hidup vegetarian yang dijalani keluarga Listyani kerap dianggap aneh oleh orang-orang sekitarnya. Namun kini setelah isu global warming dan krisis iklim plant based meat banyak diminati. Bahkan dianggap keren.

Listyani telah meninggalkan konsumsi daging dan memulai hidup vegan sejak 1996. Awalnya hal itu dijalani karena kepercayaan agama yang dianutnya. Namun seiring berjalan waktu, ia benar-benar menyukainya. Begitu pun saat berkeluarga, suami dan kedua anaknya menjadi vegan sejak dalam kandungan.

“Dulu itu saya sering dianggap aneh dan dikomentarin temen, orang daging enak kok malah nggak mau makan daging, gitu kata mereka,” ungkapnya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Kemudian pada saat itu, mengonsumsi daging dianggap hal mewah dan bergizi. Sehingga bila tidak mengonsumsi daging dianggap kurang protein dan tidak cukup sehat. Padahal kandungan protein dari kedelai, jamur, atau rumput laut yang dikonsumsi para vegan sudah cukup memenuhi kebutuhan gizi.

Baca juga:  Jalan Kawasan Hutan jadi Mulus, Tunjang Aktivitas Warga Dua Kabupaten

Dalam perjalanannya, restoran vegetarian tadinya hanya memasak menu sayuran. Namun saat ini para pelaku usaha mampu membuat olahan daging berbahan nabati atau saat ini biasa disebut plant based meat.

Orang tua Listy sempat merintis restoran Haha Vegan di Semarang.  Perlahan pandangan masyarakat terhadap vegetarian berubah. Setelah kecanduan dengan konsumsi daging, banyak di antaranya terkena penyakit akibat kandungan kolesterol dan MSG berlebih.

Pandemi membuat masyarakat lebih memperhatikan kesehatan dan pola konsumsi makanan. Masyarakat pun melihat vegetarian sebagai solusi pola hidup sehat dan mulai beradaptasi pada kebiasaan tersebut.

Tak sampai di situ, kesadaran isu lingkungan dan pemanasan global juga turut berkontribusi meningkatkan tren konsumsi makanan vegan. Pasalnya produksi daging dari peternakan telah menyumbang timbulan gas metan dan karbon dalam jumlah besar yang mempercepat pemanasan global.

Baca juga:  Pandemi Covid-19, Orderan dari Luar Jawa Justru Meningkat

Listy dan keluarga merasakan transisi tren makanan vegan. Dari mulai dianggap aneh hingga menjadi keren. Ia pun mengadaptasi produk plant based meat dan makanan vegan lainnya ke dalam usahanya. Dua tahun lalu, ia dan suaminya pun membuka T’Covy Vegetarian Coffe Shop di Jalan MT Haryono.

“Saya kan suka nongkrong di kafe, tapi kok susah nyari yang menyediakan vegan food. Saat ngobrol sama suami, akhirnya kita coba buka sendiri,” jelasnya.

Menu yang disediakan sekilas seperti restoran pada umumnya. Sate ayam, lele balacan, dimsum, sosis, mi ayam, dan lain-lain. Namun semua menu tersebut terbuat dari bahan dasar nabati yang diolah mirip daging asli.

Saat koran ini tiba, seorang pengunjung kafe baru pertama menyicipi plant based meat. Ia mengaku cita rasa sate dan sosis yang terbuat dari kedelai itu persis seperti daging. Bila tidak diberitahu temannnya, ia mungkin tak tahu. “Tekstur sosis dan sate bisa mirip banget gitu sama aslinya,” ujar Izza.

Baca juga:  Produksi 1,5 Ton setiap Dua Pekan, Diekspor ke Jerman

Kedua pelanggan pun mengakui harga menu dan kopi relatif murah dibandingkan kafe lain di Semarang. Namun hal itu sama sekali tak mengurangi kualitas produk.

Memang Listy mengakui kini peminat vegan food semakin luas. Bila dulu cenderung disukai lansia, kini anak-anak muda mulai melirik dan mengikuti.

Listy pun mengembangkan produk dengan menjual berbagai frozen food plant based meat, seperti sosis, bakso, dan lainnya. Ia juga membuat abon dan sambal.

Bahan baku plant based meat memang murah. Hanya saja proses produksi yang cukup memakan biaya. Meskipun harga menu di kafenya tak semahal di restoran fast food. Listy memprediksi bila ke ke depannya tren gaya hidup vegan akan diikuti banyak orang. Karena selain sehat, vegan juga ramah lingkungan. (taf/aro)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya