alexametrics

Bangga menjadi Petani Milenial

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID – Di usianya yang masih muda, Rayndra Syahdan Mahmudin memilih menjadi petani. Dia sudah melakoninya selama tujuh tahun. Dimuali dengan memelihara ayam ketika kelas 3 SMK pada 2014 lalu.

Awal usaha menjadi peternak ternyata tidak mudah. Usahanya ambruk. “Rugi karena (memelihara) ayam susah,” ucapnya singkat.

Niatnya dilanjutkan saat kuliah di Polbangtan Jogjakarta-Magelang. Kebetulan di awal semester kampus mengadakan program kewirausahaan. Mahasiswa yang ingin berwirausaha dipinjami modal.

“Saya coba akses. Saya mulai merintis pertanian hidroponik. Tapi juga gagal,” dia melanjutkan ceritanya kepada Jawa Pos Radar Semarang Rabu (27/10) siang.

Akhirnya pada 2016, Rayndra mendapat Program Penumbuhan Wirausaha Muda Pertanian (PWMT). Ia mendapat bantuan usaha. Nominalnya Rp 35 juta. “Itu saya buat kandang domba. Sampai sekarang alhamdulillah bertambah terus,” ucapnya.

Baca juga:  Harga Anjlok, Petani Tak Jual Sayur ke Bakul

Menjadi petani milenial, Rayndra mengusung konsep baru. Di peternakannya, pemuda asal Kecamatan Pakis ini mengganti pakan rumput menjadi pakan kering. Biasanya berupa kulit kacang hijau dan kulit kangkung sebagai ransum. “Jadi satu orang kalau di kandang dengan ukuran 1000-an meter persegi bisa melihara 150-200 ekor mampu karena pakannya lebih mudah,” kata pemuda yang mengurus Bidang Pertanian Petani Milenial Indonesia ini.

Kini, Rayndra sudah mengelola 700 ekor domba. Dengan omzet rata-rata per bulan sekitar Rp 200 juta. Bahkan ketika Idul Adha, bisa meningkat tiga kali lipat.

Selain bergerak di peternakan, Rayndra mengelola perkebunan kelapa dengan pengolahan terpadu. Ia mendampingi kelompok wanita tani (KWT) Dusun Semen, Desa Trenten, Kecamatan Candimulyo. Di kelompok usaha yang sudah menjadi CV ini, Rayndra menjadi direktur. “Semua bagian pohon kelapa kan bisa dimanfaatkan. Limbah sabutnya bahkan bisa dijadikan pupuk,” tuturnya.

Baca juga:  Dua Petani di Batang Tewas Tersambar Petir

Ihwal pemasaran, kata Rayndra, kelapa menjanjikan. Gula semut yang dihasilkan dari nira kelapa bahkan sudah merambah pasar ekspor. Namun, dia masih mengekspor lewat pihak ketiga. “Omzetnya kira-kira Rp 40 juta per bulan,” akunya.

Terkait motivasinya terjun di dunia pertanian, Rayndra mengaku mengalir begitu saja sejak belajar peternakan di SMKN 1 Ngablak. Berlanjut saat berkuliah jurusan Peternakan di Polbangtan Jogjakarta-Magelang. Kini, Rayndra bahkan tengah menempuh S2 Pertanian di UPN Veteran Jogjakarta.

Pemuda yang genap 26 tahun pada November nanti itu mengatakan, petani tidak selalu identik dengan kotor, miskin, tidak dapat hasil. Menurutnya, sektor pertanian jika diatur dengan baik akan sangat menguntungkan.

Menjadi petani milenial, Rayndra ingin menjelaskan kepada anak-anak muda bahwa sektor pertanian menguntungkan dan keren. “Banyak teman saya yang menyiram pakai android, mengatur suhu di ruang pertanian pakai android juga banyak,” terangnya.

Baca juga:  Patung Didi Kempot Laku hingga Australia, Jepang, dan Amerika

Artinya, lanjut Rayndra, menjadi petani milenial tidak harus panas-panasan. Ada teknologi yang bisa dimanfaatkan anak muda. “Traktor pun sudah ada yang dikendalikan remote. Bahkan menyiram pupuk pakai drone. Tinggal kemauan anak-anaknya,” bebernya. (rhy/ton)

 

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya