alexametrics

Jovial, Andovi Lopez, hingga Sutradara Film, Mengapresiasi Karya Alodia Yap

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID – Alodia Yap menjadikan aktivitas melukis bukan sekedar hobi dan minat. Tapi sebuah meditasi di tengah kegiatan yang selalu ia lakukan dengan tergesa-gesa.

Ketika anak kecil ditanya mengenai cita-citanya, kebanyakan menjawab ingin menjadi dokter, guru, insinyur, dan lain-lain. Lain halnya dengan Alodia. Dara asal Kota Salatiga ini sejak kecil sudah menyebutkan jika ia memang ingin menjadi seorang pelukis.

Alodia merasa darah seninya mengalir dari kakeknya atau yang sering disapa dengan sebutan “Kukung”. Meski begitu, ia mengawali hobi melukis sejak duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP).

Saat itu, guru yang bernama Sentot selalu memberikannya masukan dan motivasi agar ia menekuni seni lukis. “Terpenting tidak pantang menyerah,” kata Alodia mengenang pesan gurunya.

Alodia Yap dikenal sebagai pelukis perempuan yang menjadikan figur perempuan sebagai objek andalannya. “Karena aku perempuan. Jadi ketika aku menggambar objek, aku merasa menggambar perempuan dari perspektif aku sendiri sebagai perempuan. Menurutku tubuh perempuan itu suatu objek yang unik. Dia bisa bertumbuh menjadi tubuh-tubuh yang lain. Menurut aku, tubuh perempuan itu perjalanan yang menarik untuk dijadikan simbol,” katanya.

Baca juga:  Ribuan Seniman Kabupaten Semarang Terima Bantuan

Dalam melukis ada satu kalimat motivasi yang pertama kali membuatnya terus konsisten melukis. Yakni, saat ia membaca salah satu artikel di koran tentang teori 10.000 jam. “Jika seseorang mulai mendedikasikan waktunya 10.000 jam dalam menekuni suatu hal, pasti sudah bisa dikatakan ahli dalam bidang tersebut,” ungkapnya

Sejak saat itu, iapun menghitung berapa jam yang harus ia habiskan untuk berlatih melukis dalam beberapa waktu ke depan.

Ditanya tentang lukisan termahal yang pernah ia jual, Alo -sapaan akrabnya- mengaku, ia tidak lihai dalam jual-beli. Meski begitu, sejauh ini beberapa seniman sangat mengapresiasi lukisannya.

“Waktu itu sutradara film Sebelum Iblis Menjemput, Timo Tjahjanto memesan lukisan kepada saya. Dan saya cukup terkejut juga sih, karena harganya cukup fantastis bagiku yang nggak ngerti masalah harga,” imbuh wanita kelahiran Salatiga 28 April 1995 ini.

Baca juga:  Sepi Pesanan selama Pandemi, Garap Wayang Golek Custom

“Selain itu ada youtuber Andovi dan Jovial Da Lopez juga pernah meminta aku buat menggambarkan tokoh inspirator di rumahnya. Hal itu membuat aku berpikir, dengan menggambar aku jadi lebih banyak mengenal orang. Dan orang itu pun mengapresiasi karyaku sebegitu besarnya,” tambahnya termotivasi.

Jika dilihat dari kegiatannya, Alo memang sangat produktif. Terlihat dari beberapa foto yang ia bagikan di akun instagramnya. Alo mengakui hal itu, setiap hari cukup produktif melukis. Bahkan melukis sudah menjadi kebiasaannya tiap hari.

“Aku tipe pelukis yang bisa melukis kapanpun dan dimanapun. Bahkan salah satu hobiku ya menggambar di coffee shop sambil nongkrong bareng temen-temen. Selain itu, mood dalam melukis itu memang tidak selalu ada, tapi aku selalu ingat kata guruku. Kalau mood itu seharusnya dilawan, bukan malah dituruti,” jelasnya.

Baca juga:  Sering Dikira Sakit Jiwa, Manfaatkan Koper Kuno sebagai Media

Alo terbilang karakter yang cekatan. Beberapa kegiatan yang biasa ia lakukan dengan tergesa-gesa, berkat ketekunannya dalam melukis, bisa merasa lebih tenang, rileks, dan fokus dalam menjalani kehidupan. Itu sebabnya, ia merasa melukis bukan sekedar hobi dan minat saja, namun sebuah meditasi.

Alo kerap kali mendapatkan beberapa pesan yang masuk ke akun instagramnya mengenai mereka yang mengutarakan isi hatinya. Terkadang ada orang yang merasakan suatu hal, tapi ia tidak bisa memvisualisasikannya atau menggambarkan isi hatinya. “Nah beberapa orang merasa gambaranku itu dapat mewakili perasaan mereka, dan mereka sangat berterima kasih. Aku senang banget ketika ada orang yang cukup menikmati dan mengapresiasi karyaku,” ujarnya.

Kini harapan terbesar Alo ke depan, bisa lebih banyak lagi menghasilkan karya-karya yang bisa membuat banyak orang merasakan rasa dari karyanya. “Sebenarnya semua tujuan dan harapan beriringan dengan cara kita menjalani hidup,” ungkapnya filosofis. (mg11/ida)

 

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya