alexametrics

Eksis Sejak 1970-an, Sanggar Kesenian Warangan Merbabu Sudah Pentas Keliling Indonesia

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID – Di bawah cuaca terik Kompleks Tourist Information Center (TIC) Borobudur, Minggu (10/10/2021) pukul 13.08, alat-alat musik tradisional ditabuh. Tak lama, sekumpulan orang berkostum tradisional keluar. Pertunjukan pun dimulai.

Pertunjukkan itu dipersembahkan Sanggar Warangan Merbabu. Sanggar kesenian asal Dusun Warangan, Desa Munengwarangan, Kecamatan Pakis, Kabupaten Magelang. Konon, sanggar ini sudah ada sejak 1970-an. Meskipun baru muncul di media sejak 1999-an.

“Terus makin dikenal. Ada tamu dari mana-mana datang,” ujar Pimpinan Sanggar Warangan Handoko ketika ditemui Jawa Pos Radar Semarang usai pentas.

Handoko mengaku Sanggar Warangan Merbabu sudah sudah pentas keliling Indonesia. Mulai dari Jakarta, Bali, hingga Kalimantan. Termasuk pentas di event besar, seperti pembukaan kompetisi sepak bola. Namun, belum sampai pentas ke mancanegara karena terkendala biaya.

Baca juga:  Kunjungan Wisata Selama Libur Nataru Menurun

Minggu (10/10/2021), Sanggar Warangan Merbabu menampilan ragam seni tari dalam satu tarikan pentas. Membawa narasi tentang  gugur gunung. Menggambarkan kondisi masyarakat di masa pandemi Covid-19.

“Masyarakat yang semul aman, tentram, damai, tiba-tiba datang marabahaya yang digambarkan dengan tarian buto tadi,” tutur pria berambut gondrong ini.

Selanjutnya ditampilkan tari Soreng, yang berarti prajurit. Maksudnya untuk menata ulang kampung yang terkena bencana tersebut. Setelah itu disusul penampilan tari Topeng Ireng. Menceritakan bahwa kondisi sudah hampir kembali normal. Kemudian muncul Dewi Kemakmuran yang ditampilkan dengan satu perempuan.

“Itu menunjukan kembalinya situasi  yang tidak karuan menjadi stabil seperti semula. Dari ekonomi, pertanian, dari semua aspek. Intinya pandemi ya begitu,” jelas Handoko.

Baca juga:  Olympicad Hasilkan Bibit Istimewa Persyarikatan Muhammadiyah

“Jadi nanti semoga cepat pulih. Tarian tadi juga jadi semacam doa,” imbuhnya.

Dalam pertunjukan berdurasi kurang lebih 30 menit ini, Handoko membawa 30-an personel. Hebatnya, mereka hanya berlatih sekali Jumat (8/10) kemarin.

Handoko juga mengatakan pentas seni virtual ini bukan kali pertama yang dilakoni Sanggar Warangan Merbabu. Selama pandemi ini, mereka sudah pentas sekitar 60 kali. Meskipun sensasi yang dirasakan berbeda dengan pentas luring sebelum pandemi. Sebab kini mereka tidak tampil di hadapan wajah penonton langsung.

Meski terbatas, Handoko mengaku senang. Setidaknya, masih bisa berekspresi. Toh, mau di hadapan penonton atau tidak, seniman Sanggar Warangan Merbabu sama-sama gembira saat menari.

“Penari kan puasnya ketika ditonton lansgung. Tapi karena situasi belum memungkinan, ya kami puas-puas saja,” tutur Handoko.

Baca juga:  Perangkat Desa Bisa Diberhentikan Kalau Tak Mau Divaksin

Dia juga menceritakan, beberapa waktu lalu sempat tampil di Hotel Amanjiwo. Membawa 60 personel. Namun hanya ditonton dua orang. “Ketika mereka kencing ya nggak ada yang menonton,” ucapnya terkekeh. “Tapi ya tetap gembira,” tambahnya.

Handoko juga menilai pandemic Covid-19 bukan berarti menjadikan kreativitas menjadi terbatas. Para seniman, khususnya penari, tetap bisa menjaga eksistensi diri. Terlebih saat ini sudah ada media sosial.

“Bisa di rumah, didokumentasi sendiri terus di-upload,” ujarnya.

Selain itu yang tidak kalah penting, seniman harus terus menggali ide. terus. Dengan demikian, pentas-pentas yang ditampilkan selalu membawa narasi. “Biar penonton juga nggak bosan,” bebernya. (rhy/aro/bas)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya