alexametrics

Kantongi Sertifikasi Organik, Klaim Satu-Satunya di Jateng

Kasmuri, Warga Batang Gigih Jaga Orisinalitas Teh Organik

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Usianya sudah menginjak 68 tahun, Kasmuri masih gigih memproduksi teh organik. Ia bertekad menyediakan teh yang benar-benar teh. Tidak diberi campuran perasa maupun pewangi. Produksi teh organik dilakukan di bagian belakang rumahnya, Desa Kembanglangit, Kecamatan Blado, Kabupaten Batang.

RIYAN FADLI, Batang, Radar Semarang

WAKTU menunjukkan pukul 13.00. Cuaca sedikit mendung. Wartawan Jawa Pos Radar Semarang baru saja sampai di rumah Kasmuri. Di depan rumahnya terpasang plang bertuliskan “Teh Organik Sekar Langit.” Kasmuri masih mengenakan baju koko lengkap dengan pecinya, sehabis pulang salat Jumat.

Dua gelas teh dihidangkan. Aroma teh langsung menyerbak di ruang tamu. Hal itu langsung jadi bahan pembicaraan.

“Warna dan rasa tehnya tentu beda dengan yang ada di pasaran. Warna dan rasanya natural daun teh yang sebenarnya. Ini salah satu faktor saya semangat berjuang ke sistem organik,” ujar Kasmuri kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Menurutnya, teh dari Desa Kembanglangit harus berbeda. Tidak disamakan dengan teh-teh lain. Khususnya teh pabrikan yang memberikan tambahan bahan-bahan kimia. Seperti perasa dan pewangi. Produksi teh organik dikontrol sejak mulai pembibitan hingga proses produksi rampung. Tak ada penggunaan bahan kimia, seperti pupuk, pestisida, dan lain sebagainya.

Baca juga:  Durian Kholil, Pohon Indukannya Berusia Ratusan Tahun

Sertifikasi organik didapatkannya sejak 2017 dari Indonesian Organic Farming Certification. Sebuah lembaga sertifikasi swasta. Proses pengajuan dilakukan sejak 2015. Pengajuannya juga menghabiskan biaya yang tidak sedikit, sekitar Rp 50 juta.

“Kalau saya tidak punya sertifikat organik kan nilainya sama dengan produsen teh lain. Teh Kembanglangit biar naik kelas, tidak sekelas dengan teh-teh yang lain. Konsumen teh biar benar-benar menikmati teh yang sehat. Karena bagaimanapun yang namanya kimia akan berbahaya bagi tubuh. Apalagi dikonsumsi secara terus-menerus,” terangnya.

Perpanjangan sertifikasi dilakukan tiap tahun. Agar kualitas teh tetap terjaga orisinalitasnya. Tahun-tahun sebelumnya sertifikasi dibiayai oleh Pemkab Batang, namun saat ini harus membiayai sertifikasi sendiri.

Baca juga:  Ingin Menulis Roman “Menjadi Indonesia”

Melalui sertifikasi, mutu dan kualitas tetap dikejar. Tidak asal daun teh, melainkan benar-benar daun teh terbaik. Diperhatikan perawatannya sejak ditanam hingga panen. Karena menggunakan bahan-bahan organik dan hanya daun pilihan yang dipetik, sehingga produksinya lebih sedikit.

Berbeda dengan tanaman umum yang dipupuk kimia, sistem organik hanya mampu menghasilkan 6 kuintal daun teh dalam 1 hektare. Sementara pohon teh dengan pupuk kimia bisa mencapai 1 ton daun teh tiap hektarenya. Karena itu, harga teh organik lebih mahal tiga kali lipat. Sementara teh biasa hanya dihargai Rp 1.800 per kilogram basah di tingkat petani.

“Pembeli teh organik minim sekali, mereka yang tahu akan manfaatnya menyempatkan waktu jauh-jauh datang ke sini,” kata Kasmuri.

Teh produksi Kasmuri merupakan satu-satunya teh bersertifikat organik di Jawa Tengah. Ia berkecimpung di dunia teh sejak 2008. Teh buatannya sudah melalang buana ke mancanegara. Seperti Belanda, Srilanka, dan Malaysia. Sementara di dalam negeri, teh buatannya sudah dipasarkan hingga Bali dan berbagai daerah lain.

Baca juga:  Aiptu Heru Parwoko, Gadaikan Sertifikat Tanah untuk Dirikan Panti Asuhan

Ada lima jenis teh yang diproduksi. Yaitu, teh hijau, teh oolong, teh hitam, teh putih, dan teh hijau medium. Sehari Kasmuri bisa memproduksi 2,5 kuintal teh dibantu sang istri. Tangan-tangannya masih terampil menggunakan mesin produksi yang cukup besar. Produksinya menyesuaikan kebutuhan. Tidak bisa seperti produksi pabrik.

Produksi terbanyak adalah teh hijau medium yang banyak dikonsumsi masyarakat. Ia menjelaskan, teh hijau bagus untuk membuang racun dalam tubuh. Teh hitam dan oolong baik untuk merawat lambung pencernaan. Sedangkan teh putih biasa digunakan untuk terapi diabetes ataupun diet.

Daun teh yang digunakan diambil dari petani di Kembanglangit. Mereka punya komitmen menggunakan sistem organik. Ia pun berharap, petani-petani lain bisa meniru pembuatan teh organik tersebut, mengingat usianya yang tidak muda lagi. Supaya masyarakat benar-benar menikmati teh yang sebenarnya. “Usia boleh tua, tapi hidup kan harus semangat,” ujarnya. (*/aro)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya