alexametrics

Giat Berpromosi, Kode Sales Pikat Pelanggan

Slamet Ragil, Mantan Sales Jadi Juragan Soto dan Kupat Tahu Gimbal (2/bersambung)

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Berbekal resep warisan ibunya, Slamet Riyanto membuka warung soto. Hasilnya tak diduga. Omzet melebihi gaji dan bonus yang diterima dari kantornya. Lantas ia terjun langsung mengelola warung itu. Baru satu tahun, sudah bisa membeli tanah dan warung yang ditempatinya.

Warung itu, berada di seberang utara dari lokasi warung pertamanya. Di jalur Magelang-Jogjakarta. “Usaha kalau diseriusi, ternyata menghasilkan. Dengan catatan, jangan ledha-ledhe,” terang pria yang beken dengan nama Slamet Ragil itu.

Sejak awal berjualan sampai sekarang, dia bekerja sama dengan sang istri. Dia berbelanja dan giat promosi, istri yang memasak. Semua ilmu selama menjadi marketing, diaplikasikan dalam menjalankan usaha. Dalam hal promosi, ia bermain di Facebook.

Baca juga:  Prihatin Generasi Sekarang Melupakan Seni Pewayangan

Lalu mengirim short message service (SMS) kepada rekan-rekannya. Slamet meminta kepada teman-temannya untuk menggunakan kode “sales”, ketika ia sedang tidak ada di warung. Maka akan mendapatkan bonus tambahan nasi, dan segelas teh gratis. “Lama-lama yang pakai kode sales itu tidak hanya teman-teman, tapi juga orang lain. Keuntungannya, saya makin banyak pelanggan,” imbuhnya.

Terlebih saat media promosi ditambah foto dirinya, dan menyematkan nama Ragil. Nama itu membawa hoki. Usahanya makin mudah dikenali. Ragil adalah nama ketika dirinya menjadi reporter berita Radio Gajah Mada dan wartawan kampus Farming Semarang (saat ini STIP Farming Semarang), sejak 1997-1987. “Nama beken saya itu, bang Ragil, hehehe.”

Baca juga:  Banyak yang Pakai Nama Tahu Gimbal Pak Edi di Semarang, Begini Sejarahnya

Slamet Ragil mengaku punya kiat khusus sehingga usahanya maju pesat. Menjaga kualitas bahan, dan cita rasa. “Jangan sekali-kali mengubah resep. Yang boleh diubah, hanya harganya,” tegasnya.

Ini juga pertaruhan pebisnis kuliner. Saat harga bahan-bahan naik, Slamet tidak mengurangi resep, atau mengganti dengan bahan yang kurang berkualitas, atau mengurangi sajian porsi. Semua penuh pertimbangan. Ia memilih sedikit mengubah harga, atau mempertahankannya. “Kalau harga pokok penjualan (HPP) masih masuk, mending untung sedikit, daripada menaikkan harga,” tuturnya.

Semua berbuah manis. Pada Agustus 2007, salah satu rekannya mengajak bermitra. Ini kali pertama Slamet membuka cabang, sampai akhirnya punya 143 cabang. (put/lis)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya