alexametrics

Sebarkan Ilmu Design Grafis dari Ponpes ke Ponpes

Diqqi Alvin Hasan, Mahasiswa STAIA Syubbanul Wathon Magelang, Pelopor Santri Melek Digital

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Diqqi Alvi Hasan sudah melanglang buana menjadi narasumber di berbagai seminar design grafis dari ponpes ke ponpes. Ia menargetkan para santri melek digital.

LISA MUSAFIIN, Radar Semarang

Kata santri selalu dianggap melekat dengan kata kuno dan terbelakang. Namun bukan dengan Diqqi Alvin Hasan yang mendobrak garis batas santri dengan digitatalisasi lewat seminar design grafis.

Diqqi–sapaan akrabnya—mengaku memilih santri, karena sebagai santri bukan hanya perihal ngaji dan ngaji, tapi perlu melek adanya digitalisasi.

“Santri itu kan identik dengan kitab kuning, bisanya cuma ngaji. Saya dobrak nih, apalagi saya juga seorang santri. Saya kepingin santri itu melek dan cakap dalam era digitalisasi seperti sekarang, salah satunya melalui design grafis” ujarnya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Awalnya, laki-laki kelahiran 2 Januari 1999 ini belajar design sejak duduk di bangku kelas 3 SD. Waktu itu, Diqqi sekeluarga berlibur di Cilacap. Karena tidak memiliki tripod, ia dan kedua orang tuanya terpaksa saling bergantian mengambil gambar.

Baca juga:  UMKM Difabel Survive di Tengah Pandemi

“Waktu itu, nggak punya tripod dan harga juga masih mahal banget, jadi ya gantian gitu, ” kisah mahasiswa STAIA Syubbanul Wathon Magelang ini.

Sepulang berlibur, laki-laki kelahiran Kendal ini melihat ada foto kedua orang tuanya yang bagus, tapi sayang dirinya tidak ada dalam foto tersebut. Setelah berpikir keras, akhirnya ia menemukan solusi bagaimana menempel fotonya di foto kedua orang tuanya, dan hal itu dibantu oleh kakak perempuannya.

“Pikiran saya cuma bagaimana ya saya bisa masuk di frame yang sama, jadi saya minta mbak saya untuk men-download aplikasi adobe photoshop. Nah, di situ saya langsung bisa dan merasa ketagihan,” tambahnya.

Diqqi mengungkapkan, menjadi pemateri dalam seminar-seminar semenjak tergabung dalam Komunitas AIS (Arus Informasi Santri) Nusantara.

Baca juga:  Terpesona Puncak Bukit Batu Utama

Ia berangkat dari aktif di organisasi kampus, menjadi koordinator desain organisasi. Kebetulan ia kenal dengan Ketua IPNU (Ikatan Pelajar Nahdhotul Ulama) Kabupaten Magelang, dan satu kampus dengannya. Mulai dari sana, ia diangkat menjadi kepengurusan IPNU cabang Kabupaten Magelang, dan masuk dalam tim volunteer design IPNU pusat. Barulah ia masuk di IPNU Jawa Tengah, dan tergabung di AIS Jawa Tengah.

Mulai dari situlah karya-karyanya banyak dilirik orang, banyak yang menyukai hasil kreativitasnya. Kemudian ia ditunjuk oleh kawan-kawannya untuk menjadi pemateri dalam seminar-seminar.

Diqqi juga tidak menyangka jika keisengannya akan menghantarkannya menjadi seorang narasumber.

“Saya ini cuma cowok cungkring yang hobi editing, camping, dan juga sleeping. Nggak tahunya di era sekarang itu bakal bermanfaat banget dan banyak yang membutuhkan” terangnya.

Baca juga:  Durian Monti, Rasa Terbaik setelah Empat Hari Didiamkan

Dalam seminarnya, ia membagikan ilmu langsung beserta prakteinya. Untuk aplikasinya sendiri, ia menggunakan adobe photoshop, dan coreldraw. Ia memulai dengan basic terlebih dahulu seperti mengenalkan tool-tool dalam aplikasinya sendiri, membuat bentuk-bentuk sederhana, barulah kemudian dikonsep seperti membuat pamflet, logo, banner dan lainya.

“Sebenarnya tergantung panitianya meminta materi apa, seringnya pamflet, manipulasi foto kadang juga video. Kalau video pake adobe premier” jelasnya.

Diqqi sendiri sudah menjadi narasumber seminar hampir di seluruh Jateng. Ia juga pernah menjadi narasumber di Jombang Jawa Timur. Tak hanya lewat seminar tatap muka, ia juga kerap menjadi narasumber di seminar online.

Saat ini, Diqqi selain tergabung dalam AIS Nusantara, juga memiliki usaha bersama tiga kawannya bernama Teras Studio yang menyediakan jasa foto, video, musik, pembuatan kaos, dan sertifikat. (*/aro)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya