alexametrics


Dijuluki Prabu Luqman, Mendongeng Sembuhkan Trauma

Muhammad Luqman, Penggagas Komunitas Kampung Dongeng (KADO) Temanggung

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Berdiri pada akhir 2017, Komunitas Kampung Dongeng (KADO) Temanggung terus menebar semangat positif kepada anak-anak lewat cerita-cerita yang didongengkannya. Selain menghibur, fungsi edukasi sangat ditekankan dalam komunitas yang digawangi Muhammad Luqman ini.

ANANTA ERLANGGA MUSA, Temanggung, Radar Semarang

Kak Luqman –sapaannya—mengatakan, semboyan yang dijunjung komunitasnya adalah ‘Satu Pesan Cerita, Hebatkan Anak Indonesia’. Kak Luqman sendiri merupakan figur utama Kampung Dongeng. Ia dijuluki Prabu Luqman lantaran sering mengenakan blangkon saat mendongeng.

Saat ini, ia bersama sembilan anggota yang lain rutin menggelar beberapa kegiatan, yang tentu saja lekat dengan anak-anak. Namun selama pandemi beberapa kegiatan terpaksa dibatasi.

Semua anggota komunitas ini perempuan. Kebanyakan berprofesi sebagai guru, bidan, dan ibu rumah tangga.

“Kalau dulu masih ada Pekan Ceria satu bulan sekali. Kini selama pandemi ditiadakan,” kataya saat ditemui Jawa Pos Radar Semarang di kediamannya, Perum Griya Azka, Walitelon Utara, Kecamatan Temanggung.

Sejak ada kelonggaran, beberapa kegiatan akhirnya bisa kembali dilakukan, seperti outbond dan taman baca setiap pekan sekali. Di mana di dalamnya terdapat materi literasi digital, baca tulis, dan crafting yang merupakan program andalan.

Selain itu, komunitasnya juga sering menggandeng dinas dan lembaga lain dalam melaksanakan kegiatan. Biasanya terkait trauma healing bagi anak-anak jika terdapat kasus-kasus yang berdampak pada psikis anak-anak.

Kak Luqman menyebut trauma healing yang baru saja dilakukan pada anak-anak di Desa Bejen (pembunuhan anak korban malapraktik perdukunan) dan Desa Tretep (menyasar anak-anak yang rumahnya hangus terbakar api).

“Biasanya kalau ada kasus-kasus, dinas-dinas banyak yang laporan ke kami, yang paling sering dinas PPA (Perlindungan Perempuan dan Anak). Ada juga Dinas Perikanan tentang sosialisasi gemar makan ikan (gemarikan), jadi nanti penyampaiannya dikemas dalam bentuk dongeng dan cerita,” terangnya.

Semua kegiatan Kampung Dongeng diselenggarakan tanpa biaya alias gratis. Meski begitu, jika ada kegiatan yang sifatnya undangan kerap kali mendapat fee, yang oleh Kak Luqman langsung dipergunakan untuk operasional komunitas. “Saya paling segan kalau ada kegiatan tapi berbayar walaupun sebenarnya dari orangtua anak-anak itu tidak masalah, tapi tetap saja ada perasaan sungkan,” ujar pria 40 tahun ini.

Kak Luqman mengaku, antusiasme anak-anak terhadap Kampung Dongeng sangat tinggi, apresiasinya bagus, terlebih sosok Kak Luqman sering tampil di stasiun televisi lokal, yaitu Temanggung TV.

“Jadi ketika saya berkunjung ke desa-desa pelosok, saya tanya kepada anak-anak di sana. ‘ada yg pernah lihat Kak Luqman?’ Kemudian saya mengeluarkan boneka, mereka menjawab ‘nyong pernah weruh kuwi neng Temanggung TV,” ujarnya terkekeh.

Boneka peraga yang dimaksud Kak Luqman bernama Kakek Nun di mana menjadi epilog ataupun sosok pamungkas yang dikeluarkan ketika dongeng akan berakhir. Bentuknya menyerupai Einstein, ilmuwan terkenal itu. Kendati demikian, karakternya tidak sepintar Einsten. Kakek Nun digambarkan sebagai kakek-kakek yang suka bikin ribut.

Sebelum acara berakhir, ia biasa keluar. “Kakek Nun ada pesan apa buat anak-anak?” tanya Kak Luqman. “Saya mau pesan es teh saja,” jawab Kakek Nun. “Pesan es teh itu di warung, kirain mau ngasih nasehat atau apa,” jawab Kak Luqman.

Ketika ditanya tentang pengalaman paling menarik bagi Kampung Dongeng, Kak Luqman menceritakan, pada suatu acara tertentu saat mendongeng, ia bercerita tentang kisah-kisah peperangan para nabi. Gestur dan vokal si pencerita menirukan suara kuda dengan sangat apik.

“Tiba-tiba ada anak yang datang kesitu, teriak ‘waaaaa.. ayo kita perang’ kemudian nonjok saya itu langsung tertawa semuanya. Anak-anak itu entah sampai kebawa cerita atau memang aktif saya ndak tahu, itu paling berkesan menurut saya,” kenangnya sambil terkekeh.

Di Kampung Dongeng, bagi Kak Luqman sendiri akan terus mendongeng sampai tua. Beberapa anggota yang lain dirasa juga demikian. Sebab, katanya, dengan mendongeng, seseorang bisa menyampaikan pasan tanpa menggurui, dan memberi nasehat kepada seseorang di mana orang tersebut tanpa merasa dinasehati.

“Ada yang mengatakan masa depan suatu bangsa akan diketahui dari apa dongeng yang didengar hari ini. Artinya entah benar atau tidak, itu dari saya saja. Untuk itu, dongeng menjadi penting bagi kemajuan suatu bangsa,” pungkasnya. (*/aro)

Artikel Terkait

Terbaru

Lainnya

Populer

Artikel Menarik Lainnya