alexametrics


Kampung Jahe Sendang Mulyo Punya Tiga Tanaman Unggulan, Pasok Pasar Tradisional

Rekomendasi

RADARSEMARANG.ID – Kelompok Wanita Tani (KWT) sangat produktif. Selain kompak memanfaatkan lahan tidak terpakai menjadi ruang terbuka hijau juga mendirikan bank sampah tiap RW di Kelurahan Sambirejo.

Memiliki tiga tanaman yang menjadi unggulan di Kampung Jahe Sendang Mulyo, Kelurahan Sambiroto, Kecamatan Tembalang. Adalah jamur, jahe, dan anggur. Hasilnya, bisa memasok pedagang di pasar tradisional dengan harga di bawah pasaran.

Tanaman tersebut dikelola oleh Kelompok Wanita Tani (KWT). Mereka memanfaatkan lahan tidak terpakai menjadi ruang terbuka hijau. Bibit tanaman diperoleh dari hasil kerja sama dengan Dinas Ketahanan Pangan Kota Semarang. Selain itu, mendirikan bank sampah tiap RW di Kelurahan Sambirejo.

“Kami memanfaatkan lahan 100 meter persegi milik PT Araya di wilayah RT 1, RW 4, Kelurahan Sambiroto, Kecamatan Tembalang. Sejak 2019 kami bangun dan kami tanami berbagai jenis toga,” kata Lurah Sambiroto, Agus Suryanto, 50, kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Semula dipelopori oleh Budiman dan Suronto sebagai petani jamur. Suronto justru ahli dalam membuat pupuk dan menanam jahe.

Jamur harus ditanam di lingkungan yang lembab. Jamur biasanya dipanen tiap tiga minggu sekali. Dapat dipanen selama empat bulan lamanya. Dengan menyisakan akar yang dicongkel ke permukaan agar dapat dipanen kembali. “Setelah empat bulan, sisa jamur bisa dibuat menjadi pupuk,” kata Budiman.

Suronto, 70, sangat suka membuat pupuk dan menanam jahe. Pupuknya didapatkan dari organik, seperti daun kering, kotoran kambing, dan serbuk bambu. Sedangkan untuk tanaman jahe, diterima dari ibu-ibu KWT yang membeli bibit dari Kediri dan Ungaran.

Kini, pupuk yang dibuat menjadi pasokan bagi warga sekitar jika ada yang ingin bercocok tanam. Jahenya sudah beberapa kali dipanen, bahkan menjadi bibit unggul. “Jahe ini dijadikan pasokan untuk menanam di Kampung Tematik Jahe Sendang Mulyo,” katanya kepada Jawa Pos Radar Semarang Minggu (12/9/2021).

Agus menambahkan, melalui ibu-ibu KWT hasil panen dapat dinikmati oleh warga Kelurahan Sambiroto. Bahkan bisa memasok pedagang yang berada di pasar tradisional dengan harga di bawah pasaran. “Kami juga memiliki tanaman anggur sebagai tambahan tanaman unggul,” tuturnya.

Hadi, 57, merupakan warga yang konsen dengan tanaman anggur. Bahkan sudah berbuah. Tapi menanam anggur haruslah telaten. Ada pupuk khusus dan media khusus supaya anggur berbuah banyak. “Saya coba dengan pupuk dari B4 dan pupuk buatannya Suronto, ternyata mendapatkan hasil yang bagus,” katanya.

Kendati demikian, Agus berpesan supaya warga Kelurahan Sambiroto agar sadar akan lingkungannya. Caranya dengan pemanfaatan lahan yang tidak terpakai menjadi ruang terbuka hijau dan mendirikan bank sampah di tiap RW. “Dulunya waktu saya baru jadi lurah, di sini sangatlah kumuh,” ungkapnya. (cr6/ida)

Artikel Menarik Lainnya

Terbaru

Lainnya

Populer

Artikel Menarik Lainnya