alexametrics


Bermula dari Hobi Koleksi Sepatu, Bisa Kuliah Sendiri sampai Lulus

Rekomendasi

RADARSEMARANG.ID – Bermula dari hobi mengoleksi sepatu, kini Ryan Endar Rivaldi menjadi pebisnis sneaker. Bahkan bisnisnya ini beromzet puluhan juta rupiah setiap bulannya.

Bekerja dengan pasion yang tepat, tentu akan memengaruhi kesuksesan usaha yang ditekuni. Apalagi jika hobi yang dimiliki tersalurkan dengan baik. Ditambah kemauan yang kuat, bisa melancarkan pekerjaan. Seperti yang dirasakan Ryan Endar Rivaldi, pemuda kelahiran Kota Semarang yang sukses mendirikan toko sneaker di Semarang dan Salatiga.

Ryan menekuni bisnis jual beli sepatunya sejak Agustus 2013. Melalui akun instagram @endarfootwear, ia menjajakan sepatunya. Toko online itu pun berkembang menjadi toko di Jalan Plampitan Semarang dan Jalan Kartini Salatiga.

“Dulu saya sering beli sepatu Macbeth, Vans, dan Converse. Lalu iseng nih jual ke temen. Kok menguntungkan ya. Lalu saya tekuni,” katanya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Alih-alih tak ingin merepotkan orang tua, ia juga bisa membayar kuliahnya sendiri di UKSW (Universitas Kristen Satya Wacana) Salatiga.

Ryan cenderung mengusung produk-produk sepatu besutan luar negeri. Seperti Vans, Macbeth, Converse, Reebook, Nike, dan DC. “Karena merek itu lebih disukai anak muda zaman sekarang,” ungkapnya.

Selain itu, ia juga mematok harga lebih rendah dari toko lain. Itu membuat pembeli tidak percaya. Lantaran produk yang dijual adalah barang original. Barang yang di toko pun selalu “ready stock”. Sehingga memungkinkan pembeli untuk membawa barangnya langsung tanpa harus menunggu.

Meski usahanya masih terbilang kecil, namun Ryan telah dipercaya menjadi distributor resmi merek Macbeth di area Semarang. “Alhamdulillah, pas 2017 dipercaya jadi distributor resmi,” papar alumni Sastra Inggris UKSW itu.

Rupanya, bisnisnya itu hanya bermodal Rp 300 ribu saja. Kini dalam sebulan omzetnya sudah puluhan juta. Tergantung dari banyaknya barang yang laku jual.

Selama pandemi, bisnisnya mengalami penurunan sebanyak 70 persen. Ia merasa maklum. Karena banyak orang lebih membutuhkan makan daripada sepatu. Meski begitu, ia tak merumahkan karyawannya. Bahkan gaji karyawannya juga tidak dipotong.

Rencananya, Ryan akan menambah toko sepatunya lagi di area Solo. Selain itu, ia berkeinginan untuk fokus ke cuci sepatu dan membuat brand sendiri. “Ya biar gak dititipin brand orang lain terus. Semoga toko saya tetep laris terus,” harapnya. (cr8/ida)

Artikel Menarik Lainnya

Terbaru

Lainnya

Populer

Artikel Menarik Lainnya