alexametrics


Ciptakan Cairan Enzim untuk Meningkatkan Produksi Sayur

Dua Siswa SMA Negeri 2 Semarang Sabet 8 Medali dari Lomba Karya Ilmiah Internasional

Rekomendasi

RADARSEMARANG.ID, Ajeng Ayu Anggraini dan Ahmad Hikmal Zano rutin mengikuti berbagai perlombaan karya ilmiah sejak kelas X. Hingga kini keduanya telah menyabet 8 medali. Terakhir, mereka membawa pulang medali emas di World Youth Invention and Innovation Award (WYIIA) yang diadakan Indonesian Young Scientist Assosiation (IYSA) dengan Universitas Negeri Yogyakarta (UNY).

TITIS ANIS FAUZIYAH, Radar Semarang,

AJENG Ayu Anggraini dan Ahmad Hikmal Zano menjadi satu tim sejak tahun lalu. Karena kesukaannya pada biologi dan rasa ingin tahu yang tinggi, mereka didorong oleh pembina karya ilmiah remaja (KIR) SMA Negeri 2 Semarang, Tatit Novi Sahara, untuk mengikuti perlombaan. Kecakapannya berbahasa Inggris juga menjadi nilai plus bagi keduanya untuk terjun ke tingkat internasional.

“Dulu pertama kali lomba ikut ISIF (International Science and Invention Fair) nervous sih pas mau pengumuman,” ungkap Ajeng kepada Jawa Pos Radar Semarang, Kamis (2/9).

Wajar saja,. Sebab, itu ajang bergengsi yang diikuti ratusan peserta dari belasan negara lainnya. Mereka harus melakukan penelitian lapangan, menyusun laporan, dan mempresentasikan dalam Bahasa Inggris. “Awalnya susah di penelitian karena butuh banyak referensi. Tapi sekarang udah biasa,” tambah Zano, sapaan akrab Ahmad Hikmal Zano.

Saat ditemui koran ini, keduanya baru menyelesaikan sekolah daring. Dengan masih mengenakan seragam sekolah, koran ini berbincang dengan Ajeng dan Zano. Keduanya saling menimpali cerita perjalanan lomba-lamba karya ilmiah yang diikuti. Piagam dan medali pun tak lupa dibawa dalam tas khusus.

Perlu tiga bulan untuk menyelesaikan satu riset. Mereka mematok target hasil yang diinginkan untuk mengukur keberhasilan project. Terakhir, mereka membuat cairan enzim dari sampah kulit semangka, terong, dan nanas. Cairan itu digunakan untuk meningkatkan produksi sayur. Keseriusannya pada lomba WYIIA, terlihat dari pencarian bibit sayur berkualitas ke Salatiga. “Itu saya temani cari bibit sayur ke Kopeng, karena di sana sayurnya pas buat diteliti,” tandas Tatit, pembina yang mendampingi.

Selama tiga minggu hingga dua bulan, enzim temuannya dicoba pada bibit sayuran. Setiap hari mereka harus mengecek kondisi sayur dan perkembangannya. Lalu membandingkan dengan bibit sayur yang tak diberi enzim.

Tak sampai di situ, lanjut Ajeng, untuk menguji kandungan cairan yang dihasilkan mereka pergi ke laboratorium Fakultas Teknik Undip. Bila hasil tepat, maka dapat menjadi bekal untuk menyusun laporan riset. Namun perjalanan tak selalu mulus. Bila gagal, mereka harus memulai dari awal. Mencari titik kekurangan yang menyebabkan kegagalan. “Jujur, aku bangga dan puas banget kalau hasil sesuai target sih,” terang Ajeng.

Selain menjadi vitamin atau pupuk, cairan enzim yang dihasilkan juga dapat memperlambat pembusukan buah. Lain dengan Ajeng, Zano berpendapat kepuasan didapat saat mereka berhasil menang dan menmbawa medali emas. Karena itu membuktikan penelitiannya unggul dan benar-benar sukses.

Di samping itu, presentasi menggunakan Bahasa Inggris dipersiapkan seminggu sebelum hari H. Mereka menyusun naskah inti yang akan dipresentasikan di hadapan juri. Namun persoalan komunikasi berbahasa Inggris tak pernah menjadi masalah. Keduanya sama-sama menyukai Bahasa Inggris. “Kalau bisa nanti aku pengin kuliah di Eropa. Bisa Jerman, Italyia, atau Belanda gitu,” ujar Ajeng.

Menurutnya, dengan membiasakan diri dalam kompetisi karya ilmiah internasional dapat menjadi batu loncatan baginya melanjutkan kuliah ke luar negeri. Sehingga ia selalu bersemangat dalam menggarap penelitian. Selain mengharumkan nama sekolah, ia juga memperbanyak pengalaman untuk diri sendiri.

Pada pekan lomba WYIIA, keduanya berhasil menyingkirkan peserta asal 34 negara sebagai pesaingannya. Jumlahnya ada 450 tim. Medali emas dari cabang lomba kategori lingkungan mereka bawa pulang. Saat ini, keduanya tengah menyiapkan lomba World Invention Competition and Exition (WICE). “Kami akan melakukan penelitian baru,” katanya. (*/aro)

Artikel Menarik Lainnya

Terbaru

Lainnya

Populer

Artikel Menarik Lainnya